Novel Pesan untuk Nai (part1)

1

Aliran Nur Jannah

Hari ini Jum’at, 5 Oktober 2007. Hari Jum’at merupakan sayyidul hayam -rajanya hari- karena hari Jum’at mempunyai keistimewaan. Di mana ia adalah hari raya/hari besar yang berulang. Maka tidak diperbolehkan puasa khusus pada hari itu, tanpa didahului oleh puasa sebelum maupun sesudahnya, Agar berbeda dengan Yahudi. Juga agar tubuh merasa kuat untuk melaksanakan ibadah pada hari Jum’at seperti shalat, do’a dan ibadah yang lainnya. Selain itu, masih banyak pula keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki hari Jum’at. Seperti ia bertepatan dengan hari bertambahnya kenikmatan di surga. Pada hari jumat juga ada saat dikabulkannya do’a. Dan masih banyak yang lainnya. Sungguh hari Jum’at adalah hari yang mulia.

Tapi semua itu tidak berlaku buatku. Karena hari ini tidak ada jadwal kuliah, aku rencanakan untuk menonton film saja. Sementara Zayan -Khalil Zayan nama lengkapnya- hari ini dian ada kuliah pagi jam 07:00. Dia teman sekamarku. Berhubung Zayan hari ini kuliahnya padat dari pagi sampai menjelang sore, maka aku manfaatkan kesempatan ini untuk menonton film bokep yang kemarin aku beli.

Selepas Zayan pergi untuk kuliah aku memulai menyetel komputer. Kuambil DVD koleksiku yang ada di dalam lemari. DVD itu kusimpan di dalam plastik hitam.  Akhirnya kudapati kresek hitam itu. Aku keluarkan isinya lalu kumasukkan DVD itu ke DVD writer. Langsung aku aktifkan program windows media player untuk memutar film.

Mata ini, mata penuh syahwat. Ketika melihat film bokep yang ada hanya menikmatinya saja dan berkhayal yang tidak-tidak. Dari detik ke detik. Menit ke menit. Hingga berganti berjam-jam. Ya, tidak terasa dua jam pun telah berlalu. Waktu dua jam telah aku habiskan untuk menonton film bokep.

Seusai menonton film bokep. Tiba-tiba perutku sakit. Mungkin gara-gara kemarin makan pangsit yang terlalu pedas. Aku sudahi menontonnya. Aku simpan lagi kepingan DVD itu kedalam plastik hitam. Lalu kutaruh ke dalam lemari. Dan aku kunci lemarinya. Tanpa dikomando lagi, aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Karena perut ini tidak bisa diajak kompromi lagi. Menahan rasa sakit, aku meringis kesakitan. Menahan perut yang sakit. Bermenit-menit aku di dalam kamar mandi. Hanya untuk BAB (Buang Air Besar).

Setelah 15 menit berlalu perutku sudah agak mendingan. Sakitnya sudah terkurangi. Namun badanku menjadi lemas karenanya. Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku mencoba mengistirahatkan diri dengan menghempaskan tubuh ini di atas kasur. Lambat laun mata pun mulai terserang rasa kantuk. Hingga akhirnya katup kedua mataku menutup dengan sendirinya. Dan masuk ke dalam alam mimpi. Aku terlelap dalam tidur.

Dua jam kemudian aku terbangun dari tidur. Sebentar lagi akan memasuki waktu shalat Dzuhur. Masa bodoh. Mau memasuki shalat Dzuhur kek, shalat Ashar kek tetap aku tidak akan melaksanakan perintah shalat itu. Karena didikan kedua orang tuaku, sekarang aku menjadi anak yang awam terhadap agama sendiri. Menjadi pribadi yang jauh dari Tuhan. Meskipun aku meyakini bahwa Allah SWT itu ada dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Namun imanku tidak bisa menjadikanku menjadi pribadi yang taat terhadap perintah Allah.  Karena iman tidak cukup untuk menyakininya saja tetapi harus dibuktikan dengan amal perbuatan.

Meskipun aku muslim tapi kedua orangtuaku menjadikan aku seperti orang yang bukan muslim saja. Tidak pernah mengajarkan aku shalat, puasa, maupun berzakat.

Sementara waktu terus melaju. Adzan Dzuhur terdengar dari luar sana. Allaahu akbar, Allaahu akbar 2x. Asyhadu an laa ilaaha illallaah 2x. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah 2x.  Hayya ‘alash-shalaah 2x. hayya ‘alal-falaah 2x. Allaahu akbar, Allaahu akbar 1x. Laa ilaaha illallaah 1x. Lafadz inilah yang sering dikumandangkan seorang muadzin ketika telah memasuki waktu shalat wajib. Dan lafadz ini pun yang sering aku dengar setiap kali Zayan mau pergi ke masjid. Karena adzan adalah panggilan untuk kaum muslim agar segera menunaikan shalat.

Aku tidak pernah menghiraukan panggilan adzan. Aku pun tidak pernah mengerjakan shalat lima waktu, tidak pernah berpuasa dan juga tidak pernah mengeluarkan zakat.

Setelah bangkit dari kasur. Aku menuju ke kamar mandi. Kali ini aku masuk ke kamar mandi bukan untuk BAB melainkan untuk beronani. Beginilah keseharianku. Selalu saja tergoda kenikmatan sementara. Kalau tidak mabuk-mabukan, menghisap ganja. Kalau tidak menghisap ganja, menonton film bokep. Dan sesudah nonton film bokep, pastinya akan tergoda untuk melakukan onani. Sungguh aku ini pendosa berat.

Selesai melakukan onani aku pun tidak melakukan mandi wajib dulu. Hanya mandi biasa saja. Tanpa diniatkan untuk mandi wajib. Karena pengetahuanku tentang Islam sungguh seperti orang yang bukan muslim saja. Masih wajar kalau orang kristiani tidak tau tentang ajaran Islam. Karena mereka bukan orang Islam. Sedangkan aku? Meskipun agamaku Islam. Aku tidak tahu tentang ajaran Islam. Sungguh, Islamku hanya di KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan di KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) saja.

Sehabis mandi aku segera mengeringkan tubuh dengan handuk. Lalu mengenakan kaos dengan setelan jeans. Sambil bercermin aku oleskan minyak rambut ke kepala sampai rata. Kalau dilihat-lihat aku tampan juga. Sungguh, aku termasuk salah satu laki-laki tampan. Mukaku yang mulus tanpa jerawat. Rambut lurusku yang hitam lebat terlihat rapih setelah aku oleskan minyak rambut. Seusai bersolek aku duduk di tengah-tengah pintu masuk kamarku sambil merokok.

Sementara jam di sudut kamarku sedang menunjukkan pukul 13:00. Mendadak tubuh ini menggigil. Rasanya sakit. Ketagihan akan obat laknat. Kebetulan aku masih menyimpan bubuk marijuana. Aku bangkit dari tempat dudukku untuk berdiri. Lemari aku buka. Kusapu sekeliling isi lemari. Di pojok dalam lemari sana ada toples. Di dalamnya ada bungkusan. Sebuah kantong plastik berwarna merah. Dari dalam kantong plastik itu, kurogohi dan kudapati bungkusan kertas berwarna putih. Lal kukeluarkan dan kuletakkan isinya di atas lantai.

“Semoga bubuk surgawi ini jadi penenang gue untuk sementara!” seraya aku berkata dengan harapan tidak kambuh lagi.

Bubuk surgawi itu tidak lain adalah marijuana. Bubuk inilah yang akan aku konsumsi. Kemudian aku juga mengeluarkan sebuah alat. Bong, namanya. Korek api juga tidak ketinggalan aku keluarkan.

Lalu, tanpa menunggu waktu lagi, aku segera menghisap bubuk dari surgawi ini. Ujung bong aku sulutkan dengan korek api. Kuhirup bubuk ini dengan lubang hidung kananku. Sambil tangan kiriku menutup lubang hidung kiriku. Hanya butuh beberapa menit saja bubuk yang barusan aku hirup kini sudah bereaksi. Kepala mulai pusing. Nafsu memenuhi jiwaku. Keringat dingin menutupi pori-poriku dan mengalir deras membasahi seluruh tubuhku. Rasa sakit menyerang ragaku. Menggigil seluruh badanku.

Aku jatuh lemas ke lantai. Pingsan. Tak sadarkan diri.

==**==

Sewaktu aku sadar, tiba-tiba aku sudah berada di suatu ruangan. Tepatnya di suatu ruangan kamar. Tetapi ini bukan kamarku. Karena berbeda sekali dengan keadaan kamarku. Kalau begitu ini kamarnya siapa? tanyaku dalam hati.

Aku mencoba bangkit dari tempat tidurku. Kepalaku tiba-tiba terasa sakit lagi. Namun aku tetap ingin mencari tahu di mana diriku sekarang. Kulihat di sampingku ada seorang ibu-ibu yang sedang menangisi pemuda yang mungkin sedang sakit. Tanpa menyapa ibu di sampingku itu, aku langsung menuju ke pintu masuk kamar ini.

Di luar sana, tidak sengaja aku dapati Zayan sedang mengobrol dengan seseorang. Orang yang mengenakan kopiyah putih dengan baju koko dan bawahannya memakai sarung. Aku tidak mengenal dengan orang itu. Pikirku mungkin dia seorang ustadz. Dan mungkin Zayan sedang membicarakan sesuatu dengan ustadz tersebut. Tapi entah apa yang sedang mereka bicarakan itu karena jarak kita terlalu jauh. Yang terlihat hanya mimik mereka saja.

Aku melangkah untuk menghampiri mereka berdua. Ada yang ingin kutahnyakan kepada Zayan. Berharap Zayan bisa menceritakan apa saja yang telah kualami saat ini.

Sesampainya di dekat mereka, aku melempar senyum kecil kepada Zayan. Zayan pun membalas dengan senyum pula.

Akh Zuhdi baik-baik saja, kan?” tanya Zayan.

“Lumayan sudah mendingan kok, Yan” jawabku.

“Oh iya, gue pengen nanya ke loe, Yan?”

“Nanya apa, Akh?”

“Sebenarnya apa yang terjadi kepada gue, Yan? Waktu gue bangun, gue lihat sekeliling. Gue mendapatkan keasingan. Sebenarnya gue lagi di mana? Saat gue ke luar. Nggak sengaja gue ngeliat loe, Yan.”

“Begini Akh ceritanya. Waktu saya pulang dari kuliah, saya melihat Akh Zuhdi sudah tergeletak di lantai kamar. Ternyata Akh Zuhdi pingsan. Langsung saya bawa Akh Zauhdi ke sini. Ke tempat ini, Akh,” jelas Zayan.

“Begitu ya, Yan. Makasih banget nih, Yan. Loe sudah menolong gue.”

Lalu Zayan memperkenalkan pemuda yang di sampingnya kepadaku.

“Oh iya. Kenalin, Akh, beliau yang punya pondok ini.”

Asslamu’alaikum,” salam pemuda yang di dekat Zayan sebelum memperkenalkan diri.

Wa’alaikum salam,” jawabku.

“Kenalin, Luthfie” kata pemuda itu.

Gue Zuhdi,” jawabku sekali lagi.

Antum masih kuliah?” tanya Kang Luthfie.

“Masih ustadz,” jawabku singkat.

“Kalau asal, dari mana?” tanya Kang Luthfie lagi.

“Asal gue dari Indramayu ustadz. Dan sekarang lagi kuliah di UPG Bandung”.

“Semester berapa?”

“Semester satu,” jawabku singkat.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. Dengan nada dering Hantunya Olga. Maksudku lagu Hancur Hatiku yang dipopulerkan oleh Olga Syahputra.

Aku angkat handphone-ku untuk menjawab telepon. Sebelumnya aku meminta izin terlebih dahulu kepada mereka karena tadi kami sedang mengobrol. Gara-gara ada panggilan masuk obrolan kami jadi terputus.

Terdengar suara laki-laki di seberang telepon sana. Namun aku tidak mengenal nomernya.

Hai, Di, sekarang loe lagi di mana?” tanya orang di seberang telepon.

“Maaf, loe siapa? Soalnya di phonebook HP gue belum ada namanya?”

“Gue Di, Fadil. Gue lagi make HP-nya teman gue. Karena gue lagi nggak bawa HP. Sorry, Di.”

“Oh, loe Dil. Ada apa?” tanyaku kepada Fadil.

Gue mau minjem uang, Di. Buat nyervis motor gue. Orang tua gue belum ngirim uang bulanan. Dan katanya baru bisa ngirim uang itu besok lusa. Kira-kira loe bisa minjemin uang ke gue nggak, Di? Sekarang kalau bisa, Di.

“Kebetulan sekarang gue lagi sama Zayan. Tapi gue nggak tahu sama alamat tempat ini, Dil.”

“Iya sudah sekarang loe pulang sama Zayan. Dan gue mau nunggu di kostan loe saja, Di. Sembari tiduran di atas kursi panjang yang ada di depan teras kostan loe”.

“Dari dulu kebiasaan loe tuh nggak berubah-berubah. Masih saja hobinya suka tidur.”

Sumpah gue ngantuk banget, Di. Semalaman gue nggak tidur.”

“Iya sudah, sekarang gue sama Zayan mau pulang”

“Oke.”

Seusai telpon ditutup aku taruh lagi handphone ke saku kiri jeansku. Kemudian Zayan aku ajak pulang ke kostan.

“Kang, kami pamit pulang dulu. Syukron Jazakallah. Akang sudah menolong teman Ana, Zuhdi” kata Zayan kepada Kang Luthfie.

“Iya Akh, kan ini sudah kewajiban kita selaku umat manusia.”

Kemudian Zayan bersalaman dengan Kang Luthfie. Aku pun ikut bersalaman.

Sesudah bersalaman. Zayan mengucapkan salam dengan ramah, “Assalamu’alaikum.”

Kang Luhtfie pun menjawab dengan jawaban yang sempurna, “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.”

==**==

Setiba di kostan kulihat Fadil sedang terlelap dalam tidurnya. Tertidur di atas ranjang bamboo di depan kamar kostanku.

Aku goyang-goyangkan tubuhnya Fadil. Goyangan pertama dan kedua aku belum bisa membangunkan Fadil dari tidurnya. Goyangan berikutnya, Fadil mulai membuka mata sayunya. Fadil melihat kearahku.

“Hai Dil, bangun loe,” sapaku.

“Di, loe sudah lama di sininya?”

“Baru saja nyampe.

Lalu aku mempersilahkan Fadil masuk. Fadil pun masuk. Kupersilahkan ia duduk.Fadil pun duduk. Sementara aku membuat minuman untuk Fadil, Zayan yang mengajak ngobrol Fadil.

“Hai Yan, gimana kabar loe? Sehat?” tanya Fadil ke Zayan.

Alhamdulillah kabar saya baik, Akh,” jawab Zayan.  “Kabar Akh Fadil sendiri, bagaimana?”

“Baik kok,” jawab Fadil singkat.

Selesai membuat minuman aku persilahkan Fadil untuk meminumnya. Fadil meminumnya sampai tak bersisa. Lalu aku isi kembali gelasnya dengan penuh. Aku tawarkan kembali untuk meminumnya. Sepertinya Fadil sedang kehausan. Nampaknya dia senang dengan jamuanku ini. Lalu aku tambah jamuannya dengan mengeluarkan kue kering kepada Fadil. Melinjo yang aku keluarkan. Karena waktu pulang kampung, melinjonya masih dua bungkus yang aku simpan. Dan memang rezekinya Fadil, dialah yang menikmati oleh-oleh dari Indramayu ini.

Setelah kami bertiga -aku, Zayan dan Fadil- mengobrol kesana kemari, tidak terasa obrolan kami ini sudah memakan waktu tiga puluh menitan. Akhirnya Fadil pamitan pulang karena dia harus segera memperbaiki motornya yang sedang rusak. Di samping itu, ia pun hendak mengganti ban belakang motornya.

Fadil pun menanyakan kembali apakah uangnya sudah ada atau belum.

Kebetulan di dompetku ada uang yang cukup banyak. Langsung aku berikan uang itu ke Fadil. Fadil meminjam uang seratus ribu rupiah. Fadil pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepadaku. Sepertinya ia tahu bahwa ucapan terima kasih adalah wujud syukur kita kepada orang lain.

Setelah mendapatkan uang, Fadil bergegas untuk memperbaiki motornya itu. Dengan menancap gas. Fadil melaju dengan kecepatan yang sedang dengan motor tigernya itu.

==**==

Malamnya Zayan bertanya tentang bong yang ia temukan sewaktu aku pingsan tadi siang. Aku jawab dengan sebenarnya kalau aku ini pemakai narkoba. Waktu itu Zayan sempat kaget dengan pengakuanku ini. Karena selama ini yang Zayan tahu bahwa aku ini bukan pemakai narkoba seperti ini.

Entah kenapa pada hari ini aku malah overdosis di kamarku sendiri. Padahal sebelum-sebelumnya aku bisa menahan rasa ketagihanku ini dengan menghisap marijuana sedikit. Dan sebentar rasa ketagihanku kembali normal. Tapi kali ini, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri sampai akhirnya aku jatuh pingsan akibat overdosis. Dan kejadiannya di kamarku sendiri.

Mungkin inilah saatnya Zayan mengetahui siapa aku sebenarnya. Meskipun Zayan mengetahui kalau aku ini pemakai namun dia tidak menjauhiku. Malah ia semakin sayang kepadaku. Sepertinya, rasa sayang yang Zayan berikan kepadaku sama besarnya dengan rasa sayangnya kepada diri sendiri.

Aku malu. Sungguh aku malu.

Duh Allah… kenapa Engkau tidak segerakan saja kematianku? Karena kalau Engkau membiarkan aku hidup. Itu artinya sama saja Engkau membiarkan aku tenggelam dalam lembah kemaksiatan. Apakah ini yang namanya takdir? Takdirku buruk. Mungkin nerakalah yang akan menjadi tempat akhir hayatku nanti di akhirat.

Hatiku menjerit. Hatiku mati. Karena hati yang bersih tidak aku miliki. Sungguh celakalah aku ini.

Keesokan harinya. Zayan mengajakku kembali untuk berobat ke tempatnya Kang Luthfie. Namun aku menolak ajakan Zayan.Lebih baik aku atasi sendiri dulu masalah aku ini. Aku tidak mau merepotkan Zayan kesekian kalinya. Karena aku sudah sering sekali merepotkan Zayan.

Mulai minggu depan aku tidak pulang ke kostanku lagi. Aku tidak mau Zayan bersedih lagi karena melihat keadaanku ini. Aku memilih untuk menginap di kostannya Indra. Dia teman segengku.

Jarak kostan Indra dengan kostanku lumayan jauh. Kostan Indra di daerah Sersan Surip, sedangkan kostanku di daerah Geger Arum. Jadi aku dengan Zayan jarang bertemu. Selama aku menginap di kostannya Indra sering sekali Zayan menelpon dan sms untuk menanyakan keadaanku. Sementara aku sendiri tidak pernah memikirkan kesehatan badan sendiri. Sungguh aku telah men-dzolimi tubuhku sendiri.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Hingga tiga minggu di bulan Oktober telah berlalu. Aku lewati waktu tiga minggu ini di kostannya Indra. Dan sekarang sudah memasuki minggu keempat.

Sewaktu memasuki minggu keempat di bulan Oktober, aku sudah merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Hari-hariku telah aku isi dengan berkawankan Indra. Di mataku Indra seorang teman yang baik. Bahkan akhir-akhir ini dia sering pergi kepengajian. Entah pengajian apa itu. Aku tidak menanyakannya.

Sampai akhirnya pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober, spontan mulutku bertanya kepada Indra. Sewaktu Indra sedang bersiap-siap berangkat dengan temannya. Pakaian Indra dengan temannya itu rapi-rapi. Penampilan mereka seperti santri Daarut Tauhiid saja. Berkopiyah. Berbaju koko. Dan bercelana katun. Sebenarnya Indra dan temannya itu lagi mengikuti pengajian apa? Aku selalu bertanya-tanya. Dan apa saja yang Indra lakukan di pengajian tersebut.

Selidik punya selidik ternyata Indra sudah masuk ke aliran Nurjannah. Akhirnya aku mengetahui rutinitas yang selama ini Indra kerjakan. Rutinitas yang tiap Jum’at sore pergi ke pengajian.  Ternyata Indra sedang belajar agama di kelompoknya itu. Yakni aliran Nurjannah.

Suatu hari aku bertanya kepada Indra tentang masalah agama. Di luar dugaanku ternyata pengetahuan Islam Indra sangat luas sekali. Waktu aku menanyakan tentang sejarah umat Islam, Indra menerangkannya dengan runtut dan jelas. Aku sih percaya-percaya saja atas semua penjelasan Indra itu. Karena aku sendiri belum mempunyai kelebihan seperti itu. Yaitu kelebihan dalam memahami sejarah Islam.

Saat itu juga aku niatkan dalam hati untuk segera ber-hijrah dari kebodohanku menuju kepada kecerdasan. Keinginanku untuk mempelajari Islam semakin kuat. Setelah Indra sering memberi taujih kepadaku.

Yang pertama aku pelajari itu wudhu dan shalat. Aku meminta agar Indra mengajariku bagaimana cara berwudhu dan bagaimana cara mengerjakan shalat.

Indra pun mengajariku. Hingga aku bisa mengerjakannya sendiri tanpa dibimbing lagi olehnya.

Setelah aku bisa mengerjakan shalat. Aku berniat untuk gabung kedalam aliran Nurjannah. Bersama-sama Indra temanku itu.

Atas permintaanku untuk masuk ke dalam aliran Nurjannah kemudian aku dikenalkan oleh Indra kepada pemimpin aliran Nurjannah, yaitu Pak Liandra Edun. Penampilan beliau begitu kharismatik. Bentuk fisik beliau pun layaknya seorang kiayi besar. Berjenggot. Di keningnya ada tanda hitam bekas sujud. Di kepalanya berbalut sorban. Dan kata-kata beliau lembut kalau didengar. Batinku semakin yakin kalau Pak Liandralah yang bakal mengantarkanku menuju kejalan lurus-Nya Allah SWT.

Saat awal aku masuk ke aliran Nurjannah, aku terkena syarat. Aku harus membayar iuran wajib sejumlah lima juta rupiah. Katanya uang tersebut untuk disumbangkan dan untuk keperluan anggota. Dan juga sebagai syarat kalau kita mau masuk ke surga-Nya Allah SWT. Kata Pak Liandra Edun, surga itu mahal. Jadi kita mesti membekali diri dengan uang yang cukup banyak.

Selama empat bulan aku setiap harinya harus menabung. Karena uang tabunganku ini nantinya aku berikan ke Pak Liandra Edun sebagai iuran wajib anggota. Dan selama empat bulan tersebut aku merutinkan untuk datang ke pengajian Nurjannah.

Memasuki bulan ke lima aku sudah melunasi iuran wajib tersebut. Dan selama aku mengikuti pengajiannya Pak Liandra Edun, Aku diberi pengarahan bahwa shalat itu boleh dikerjakan meskipun dalam keadaan mabuk. Karena pada awal diperintahkannya shalat ada sahabat yang mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk juga.

Selain itu, aku pun diberi pengarahan bahwa saat kita dalam keadaan mabuk-mabukan, lantas kita tidak sadar melakukan perbuatan zina -baik dilakukan sama-sama senang maupun dipaksa- itu hukumnya boleh-boleh saja. Selagi kita melakukannya tidak dalam keadaan sadar alias mabuk dan teler berat. Karena perbuatan seperti itu merupakan perbuatan dari setan, bukan sepenuhnya dari perbuatan kita. Karena kita melakukannnya tidak dalam keadaan sadar. Jadi yang akan mendapatkan siksa itu adalah setan.

Begitu juga kalau kita lalai dalam mengerjakan shalat. Misalnya, waktu kita tidur dan ketika kita bangun ternyata waktu shalatnya sudah terlewati. Tidak di-jama’ juga tak apa-apa. Karena perbuatan yang di luar kesadaran kita pasti dimaklumi oleh Allah SWT.  Setelah aku pikir-pikir, betul juga semua perkataan Pak Liandra ini. Karena pernyataannya itu dilandasi dengan alasan yang cukup kuat dan masuk akal.

==**==

Awal April 2008.

Saat pagi mulai disinari sang mentari aku masih saja tertidur. Sampai waktu Subuh pun terlewatkan begitu saja. Terbuai dalam mimpi.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. Ring tone-nya lagi lagunya Tak Gendong. Saat kuangkat malah mati. Entah sengaja dimatikan atau tidak. Aku tidak tahu. Aku cek panggilan yang masuk barusan. Dan kulihat hanya nomernya saja yang tampil. Yang pastinya nomer baru. Aku telpon balik tapi tak diangkat-angkat juga. Sampai ketiga kali aku telpon tetap saja tidak diangkat.

Beberapa menit kemudian ada SMS masuk. SMS dari nomer yang tadi menelponku.

Isi smsnya:

Mas Zuhdi, aku tunggu mas di kostannya Indra. Kita di sini lagi ada pesta kecil-kecilan. Mas datang ya. Aku tunggu Mas disini. Ini dari Fitri. Salam kenal dari Fitri.

Lalu aku balas sms dari Fitri itu. Isi balasannya:

Iya salam kenal juga. Sebentar lagi gue ke situ.

Saat itu jam dinding di kamarku sedang menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Seusai mandi dan bersolek aku tancap gas menuju kostan Indra.

Setiba di sana. Aku melangkah memasuki kamar Indra. Ku buka pintu kamar Indra. Sesampainya di dalam kamar. Aku dapati Indra sudah berada di dalam. Di samping kanan dan kiri Indra terlihat ada dua gadis yang sama-sama cantiknya. Aku mengenal gadis di samping kiri  Indra. Namanya Imel. Imel adalah pacarnya Indra. Sedangkan gadis yang di sebelah kanannya Indra, aku tidak mengenalnya. Baru kali ini aku melihatnya. Mungkin dia gadis yang SMS ke handphone-ku. Ya, mungkin dia Fitri. Dia tampak lebih cantik dari Imel. Namun pakaiannya itu yang membuat aku tidak nyaman. Terlalu terbuka. Aku tidak suka dengan gadis seperti itu. Tapi wajah ayunya membuatku sedikit tertarik.

Indra mengenalkanku dengan gadis itu. Ternyata benar tebakanku. Dia memang Fitri. Nama panjangnya Fitri Ayu Oktaniani. Kata Indra, Fitri juga anggota dari aliran Nurjannah. Begitu juga dengan Imel. Imel masuk ke aliran Nurjannah karena ajakan pacarnya, Indra.

Indra menyuruhku duduk. Aku pun duduk. Duduk di atas kasur. Aku perhatikan sekeliling kamar ini. Terlihat lebih rapi dibanding hari kemarin, pikirku. Mungkin yang merapihkan kamar ini adalah Imel. Tapi aku tidak begitu memikirkannya.

Indra segera mengeluarkan minum-minuman beralkohol. Juga sebuah kantong plastik berwarna hitam. Lalu Indra mengeluarkan sebuah bungkusan kertas putih. Bungkusan yang kecil. Bungkusan yang dilipat-lipat membentuk persegi. Lalu bungkusan tersebut diletakkan di atas lantai. Ternyata bungkusan itu berisi bubuk marijuana. Bubuk durjana.

Oh narkoba…

Beruntung sekali sekarang aku sudah tidak mengkonsumsimu lagi. Sungguh beruntungnya aku karena kebiasaanku untuk mencanduimu kini telah aku hilangkan. Ini godaan berat bagiku. Bagi seorang yang dulunya pecandu narkoba. Tawaran Indra aku tolak. Aku sudah kapok. Benar-benar kapok.

“Kenapa loe, sudah tobat nih ceritanya” tanya Indra kepadaku.

Sorry, Dra. Gue sudah tidak memakainya lagi. Sekali lagi, sorry, Dra” jawabku dengan yakin.

“Iya sudah kalau Mas Zuhdi tidak mau. Kita nggak maksa kok,” kata Imel.

Sekarang gilirannya Fitri yang menawarkan aku minuman keras. Karena aku sedikit suka sama Fitri, aku terima tawarannya itu. Tapi dengan syarat aku meminumnya hanya sedikit saja. Aku tidak mau dibuat mabuk lagi olehnya.

Sebelum terjadi apa-apa dengan mereka. Aku harus menjauh dari mereka. Lalu aku duduk di atas kursi yang ada di kamar itu.

Seiring bergulirnya waktu. Kesadaran mereka pun mulai hilang. Dan yang aku takutkan kini sedang terjadi. Indra, Imel dan Fitri kesadarannya mulai hilang. Seiring hilangnya kesadaran mereka, terjadilah apa yang akan terjadi. Pakaian Imel satu persatu dilucuti oleh Indra. Sebelum Indra benar-benar menelanjangi Imel. Secepat kilat aku keluar dari kamar maksiat ini. Aku tidak perlu menebak apa yang bakal Indra lakukan kepada Imel. Semuanya sudah jelas. Dan mungkin juga, Fitri diperlakukan sama oleh Indra, seperti Indra memperlakukan Imel. Yaitu melucuti pakaiannya itu.

Pesta seperti ini memang sering terjadi. Tatkala di dalamnya ada pesta narkoba.  Dan pastinya tidak lepas dari pesta seks.

Duhai, Zuhdi. Khaliq Najamuddin Zuhdi. Baru kemarin sore kamu belajar agama. Baru kemarin sore kamu berusaha meninggalkan narkoba. Tetapi sekarang kamu sok bersih dan sok menjadi pemuda alim. Tak ingatkah masa lalumu, wahai Zuhdi. Kamu sama saja seperti Indra. Pemuda nakal dan suka bermaksiat.

Memang benar kalau aku ini pemuda nakal. Memang benar adanya kalau aku mantan pecandu narkoba. Pemabok. Maniak bokep. Tapi untuk masalah dosa berzina. Sungguh aku tak mau melakukannya. Selain zina, merupakan dosa terbesar. Zina juga akan membawa kesengseraan baik untuk diriku sendiri maupun untuk istriku kelak nanti. Aku tidak mau menularkan penyakit kelaminku kepada istriku kelak nanti. Dan pastinya mendapat kesengseraan yang tidak berujung.

Syukurku aku panjatkan dengan memuja-muji asma-Mu ya Rabb. Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Engkau tidak memandang bulu. Meski aku sering melupakan-Mu dan melalaikan-Mu. Meski aku sering meninggalkan perintah shalat-Mu, perintah puasa-Mu, perintah zakat-Mu. Engkau masih saja menolongku dari ujian wanita dan syahwat yang baru saja aku alami. Dan sungguh aku ingin bertaubat dengan sebenar-benarnya.

Saat di tengah jalan kumandang adzan terdengar. Ternyata waktu sedang menunjukkan pukul 11.55. Aku hentikan laju motorku. Aku parkir motor di samping masjid Al-Huda. Masjid yang terletak tepat di belakang terminal ledeng. Aku masuk ke tempat wudhu laki-laki. Kusing-singkan lengan baju. Kuambil air wudhu. Selesai aku wudhu, iqamat baru dikumandangkan. Dan aku pun shalat dzuhur dipimpin oleh seorang imam muda.

Usai menjalankan shalat, aku berencana untuk pergi ke SMM (Super Mini Market) Daarut Tauhiid untuk membeli mushaf al-Qur’an. Taubatku harus aku buktikan dengan segera mempelajari al-Qur’an. Karena sampai segede ini aku belum bisa membaca al-Qur’an. Sungguh memalukan aku ini sebagai umat Islam.

Sesampai di depan SMM, ternyata SMM-nya tutup. Sementara rencana membeli mushaf aku urungkan saja. Aku langsung pulang ke kostanku yang di Geger Arum. Sudah hampir lima bulan lebih aku jarang menempati kostan ini. Yang padahal kostanku ini jauh lebih baik, lebih tentram dan lebih nyaman dibanding kostan maksiat milik Indra itu.

Tiba di depan kamar kostanku. Aku buka pintu kamarku. Namun pintunya terkunci. Gemboknya aku buka. Aku masuk dengan pasti.Aku periksa kamar mandi dalam. Zayan tidak aku temukan.Mungkin Zayan sedang ke luar. Langsung kuhempaskan tubuh ini di atas kasur. Tidur dengan berselimutkan sarung.

==**==

Aku bangun setelah mendengar adzan Maghrib. Waktu Ashar pun telah berlalu. Aku tinggalkan saja shalat Ashar. Karena keyakinanku bahwa waktu shalat yang sudah lewat tidak dianjurkan untuk melaksanakannya.

Aku langsung mandi. Selesai mandi datanglah Zayan. Dia mengucapkan salam sebelum masuk. Sepertinya dia baru pulang dari masjid. Setelah aku Tanya ternyata dia bukan pulang dari masjid melainkan pulang dari Gramedia. Tangannya menenteng sebuah plastik ukuran besar berisikan buku-buku. Kelihatannya Zayan habis memborong buku. Katanya mumpung lagi ada bazar. Dan ada diskon besar-besaran. Akhirnya tertarik untuk membeli beberapa buku di sana.

==**==

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: