Novel Pesan untuk Nai (part3)

3

Aduhai, Cantiknya Masyaallah

Seminggu kemudian. Hari Minggu, tanggal 19 Oktober 2008. Harinya untuk berolahraga. Jogging, bermain sepak bola, renang, dan senam. Itulah olahraga yang terlihat mewarnai di lingkungan kampus UPG Bandung. Ibu-ibu, bapak-bapak, para mahasiswa, mahasiswi, yang muda, yang tua, bahkan anak-anak berbondong-bondong berolahraga.

Jam enam pagi saja sudah mulai berdatangan orang-orang yang ingin berolahraga. Namun aku dan Farha sudah mulai jogging mulai dari jam tujuh.

Karena sudah lama aku tidak jogging dan baru jogging lagi, rasa capek cepat terasa sekali datangnya. Dan nafas yang tersengal-sengal sewaktu lari-lari di kawasan Pondok Hijau Indah.

Dipikir sudah kelelahan. Kami pun berhenti sejenak untuk istirahat. Farha mengeluarkan botol minuman yang ia sengaja bawa dari kostan.

“Aa, minum dulu nih,” suruh Farha sambil menyodorkan botol minumannya.

Aku menatapnya. Aku lemparkan senyum manisku kepada Farha.

“Farha nggak haus?” tanyaku.

“Farha belum haus pisan kok, A. Nggak seperti Aa. Baru sebentar kok sudah kecapean gitu. Aa mah payah.”

“Enak saja Farha bilang Aa payah.”

“Emang bener, Aa payah.”

“Farhaaaa………….”

Farha berdiri. Kemudian berlari sambil meledekku.

“Weh..Aa payah”

Aku kejar Farha. Setelah mendekat aku tangkap Farha.Ku gapai tangannya.Aku tarik Farha ke arahku.Tidak sengaja tubuh Farha jatuh di pelukanku. Kami berdua pun jatuh ke tanah.Tubuhku tertindih oleh tubuhnya Farha. Kami saling memandang.Tiba-tiba Farha memejamkan matanya. Nampaknya Farha ingin menciumku. Pelan-pelan bibir mungilnya mendekati bibirku. Semakin mendekat dengan sengaja aku siramkan air mineral ke kepala Farha.

Rambut Farha basah.Karena kaget. Farha pun membuka matanya. Farha marah kepadaku. Lalu Farha meninggalkan aku begitu saja. Dia pergi dengan mulut manyun. Padahal awalnya aku hanya bercanda. Mungkin candaanku sudah terlaluan. Sampai-sampai Farha marah kepadaku.

Aku kejar. Segera aku meminta maaf kepadanya. Aku jelaskan kalau yang barusan itu hanya bercanda. Farha diam. Ku pegang tangannya. Aku angkat kedua tangannya. Ku pegang erat-erat. Malah Farha menyuruhku untuk melepaskan tangannya itu.

Aku bingung. Aku menyerah. Beginilah kalau Farha lagi marah. Diam seribu kata. Kadang juga judes. Dan suka manyun pula. Tiba-tiba Farha minta pulang.

Lalu aku antarkan Farha pulang ke kostan. Selama di jalan. Farha diam saja. Membisu.Benar-benar aku dibuat kebingungan olehnya.

Sesampai di gang yang mau belok ke masjid Husnul Khotimah, masjid yang terletak di Geger Arum, tidak sengaja mataku tertuju kepada segerombolan akhwat yang baru saja keluar dari dalam masjid.

Di antara segerombolan akhwat itu. Aku dapati satu dari enam akhwat, ada seorang akhwat yang tuna netra sedang dituntun oleh salah satu dari temannya. Sementara tangan kanannya memegang tongkat. Sungguh akhwat itu sangat cantik. Mendadak hatiku terpikat kepadanya. Aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku kepadanya.

Lihatlah wajahnya. Wajahnya yang berbalut jilbab putih yang panjang itu. Wajah yang demikian bersih. Aura spiritualnya demikian memancar di sana. Dan kurasakan demikian menggetarkan hatiku. Siapakah akhwat ini? Akhwat yang sudah membuat hatiku terpikat akan kecantikan dan kesholehannya itu.

Setelah langkah kaki kami sampai di depan masjid. Langkahku menjadi terhenti. Karena Farha mendadak berhenti. Sebentar kemudian, Farha menyapa mereka dengan salam.

Assalamu’alaikum..”

Mereka serempak menjawab, “Wa’alaikumsalam wr.wb.

Farha pun menyapa akhwat yang sudah membuat hatiku terpikat kepadanya.

“Nai, ini Farha. Oh iya, kapan ada kajian lagi? Sudah lama nih Rha nggak ikutan pengajian” tanya Farha.

Oh, jadi akhwat ini namanya Nai, gumam hatiku. Nama yang cantik sesuai paras wajahnya. Terus saja hatiku memuji-muji kecantikannya.

Insya Allah Rha, seperti biasanya pekan depan di Masjid Husnul Khotimah ada pengajian rutin. Di tunggu kedatangannya,” tutur Naila.

Insya Allah,” jawab singkat Farha.

“Rha habis dari mana?” tanya Naila.

“Rha habis jogging di Pondok Hijau.”

“Suka jogging di Pondok Hijau juga ya Rha?” tanya Naila kembali.

“Iya kadang-kadang sih. Seringnya di track.

“Kami juga sering ke Pondok Hijau kok, Rha,” kata akhwat yang di samping kiri Naila.

Jogging juga?” tanya Farha.

“Bukan. Kami kesana bukan untuk jogging. Tapi Ana sama ukthi Naila ke Pondok Hijau hanya sekedar menikmati pemandangan saja. Sambil bermain biola,” jawab akhwat yang tadi.

Naila! Sungguh cantik dikau, hatiku kembali bergumam.

“Ayo Rha, aku pamit duluan.”

“Mangga, Ukhti.”

“Hati-hati, Ukht,” imbuh Farha.

“Iya, Rha,” jawab Naila singkat.

Assalamu’alaikum,” ucap Naila.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Farha.

Setelah aku mendengarkan mereka mengobrol. Sungguh lembut suara Naila ini. Selembut suara hembusan angin di kala pagi hari.

Kepergiannya membuat aku melamun. Mengharap untuk berjumpa kembali dengannya. Dengan Naila. Akhwat yang paling cantik di dunia hatiku.

Kemudian Farha menyuruhku agar tidak usah mengantarkannya lagi. Aku turuti permintaannya itu. Kami pun pulang ke kostan masing-masing.

Farha pulang ke kostannya yang di samping SMPN 29 Gegerkalong. Sementara aku pulang ke Pocer. Alias Pondok Ceria. Pondok Ceria itu nama kostanku.

Setiba di kostanku. Aku terus memikirkan kejadian sewaktu ketemu sama seorang akhwat yang bernama Naila. Benar-benar aneh. Benar-benar pengalaman yang amat aneh yang pernah aku miliki.

Baru kali ini aku jatuh cinta kepada seorang akhwat. Dan kalau dipikir-pikir. Sungguh aku tidak pantas jatuh cinta kepada gadis sesholehah Naila. Gadis berjilbab putih itu telah membuatku menjadi laki-laki yang paling aneh. Entah, apakah ini yang namanya hakikat cinta? Atau, ini hanya cinta sesaat? Aduhai, cantiknya masyaallah. Aku menemukan Tuhan di dalam wajah cantiknya. Naila, oh Naila. Maha Pencipta Keindahan yang telah menampakkan keindahan pada dirinya.

Setelah bergulat dengan aktivitas di kostan. Seperti mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi, dan bersih-bersih kamar kostanku. Aku segera membersihkan badanku ini dengan menyegerakan mandi.

Selesai mandi aku rebahan di atas kasur dengan tangan mengganjal di kepalaku. Aku menatap langit-langit kamar, tetapi bukan langit-langit itu yang terlihat di mataku, melainkan wajah ayunya Naila. Bayang-bayang wajahnya seakan-akan menari-nari di pelupuk mataku. Membuyarkan konsentrasiku. Aku merasa ada getar-getar yang aku rasa menjalar di jiwaku. Nama Naila demikian indah diucapkan, seindah wajahnya. Tiba-tiba kantuk menyerangku dengan dasyat. Dan aku ambruk di atas kasur empukku.

==**==

Aku terbangun ketika suara adzan Maghrib terdengar. Tak terasa, sudah sekian lama aku memejamkan mata, di atas kasur ini, di ruang kamar kostan. Sampai-sampai waktu Dzuhur dan Ashar terlewatkan begitu saja.

Sepi menyelimuti kamar ini. Karena aku sendirian, Zayan sedang pergi. Tadi pagi Zayan sempat pamitan kalau hari ini ia mau ada kegiatan bakti sosial di Pangalengan. Dan kemungkinan besok pagi pulangnya.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Berdiri. Lantas aku masuk ke kamar mandi. Selesai mandi aku segera melaksanakan shalat Maghrib.

Seusai melaksanakan shalat aku ingin menuliskan sebuah puisi cinta tentang Naila. Isinya tentang perasaan-perasaanku kepada Naila.

Kuambil buku dairy dan sebuah pulpen. Dan aku mulai menggoreskan tinta pena di atas kertas buku diaryku. Aku menulis puisi dengan membawa hatiku yang indah, sebuah hati yang tengah dipenuhi cintanya Naila.

Gadis Berkerudung Rapih Itu

(Bernama Naila)

Gadis berkerudung rapih itu

Yang terlihat oleh kedua bola mataku

Kini sering terlintas dibenakku

Seakan kurindu tuk berjumpa dilain waktu

Wajah cantiknya terpancar indah

Dikala matahari dan rembulan datang menyapa

Tutur sopannya terasa nyata

Dikala berjumpa dengan sesama saudaranya

Cinta hakiki hanya milik Ilahi

Tapi cintaku ini datangnya dari-Mu

Tertarik padanya seakan mendamaikan jiwaku

Mungkin ia permata yang selama ini aku cari

Untuk kujadikan penghias dalam rumah taqwaku

Ya Allah…

Hanya Engkau yang berkuasa

Jika dia memang jodohku

Dekatkan hatinya dengan hatiku

Dengan hati yang tetap terjaga

Ya Allah…

Jika dia bukan untukku

Biarkan perjumpaanku dengannya

Menjadi kebaikan dalam hidupku

Untuk mengenal keindahan-Mu saja

Warna Wujudnya Terang

(Untuk Naila)

Buat cintaku, ku bentuk taman hati

Tak selebar yang ada, luas pun tidak, kecil saja

Dan tak satu pun kehilangan di dalamnya

Tertanam berpuluh kembang berwarna pelangi

Tamanku tak tentu di mana

Yang beratapkan langit cerah

Dan cahaya purnama

Sekilas terpandang mengabur jauh

Aku hidup, dalam hidup

Dihembusan tampak menghirup

Selama kuncupnya terasa ada

Beri satu senyuman tanda bahagia

Dalam taman hatiku

Mengecap segar, ada angin terasa

Cahaya surya senantiasa di angkasa

Menembus, memancar ke segala arah

Hingga terbayang terang dimata

Segala menanti yang dinanti

Mekar kembang ini, sepi terus ada

Tak kuasa melepas diri

Dari gerak hilang segala makna

Di antara berpuluh kembang yang ada

Hanya ada satu kembang

Mekar, dan warna wujudnya terang

Dan menyemburkan wewangian di jiwa

Mencari Makna Cinta

Aku si pengembara

Dari negeri cinta

Hanya berbekal cinta

Ku arungi hidup di dunia

Entah sampai kapan langkah kakiku

Terhenti karena adanya cinta

Yang kini dalam pencarianku

Dan yang bermakna sebenarnya

Ataukah sampai aku merasa

Dahaga yang sempurna

Dan temukan setetes air

Yang tergenang dalam oase cinta

Dan entah sampai kapan

Langkah kakiku terus melangkah

Dan selalu melangkah jauh

Hanya untuk mencari makna cinta

Naila, namamu selalu menemaniku semenjak pertemuan itu denganmu.Aduhai cinta, Cintaku, cinta apa yang tengah aku rasakan kini? Nafsukah? Atau benar-benar cinta yang suci?

Duhai Allah Yang Memberi Cinta…! Pantaskah seorang Zuhdi mencintai dan merindukan seorang gadis yang secantik dan sesholehah Naila?

Kini waktu Maghrib telah berlalu. Karena Adzan Isya sudah berkumandang aku pergi mengambil air wudlu. Aku segera menunaikan shalat Isya. Aku ingin menenangkan diri, menghadap Allah. Memohon agar aku terlindungi dari godaan setan terkutuk.

Selesai shalat. Aku ke luar dari kamar. Aku duduk di teras kamarku dengan ditemani angin semilir, sinar rembulan dan kerlap-kerlip bintang. Sinar rembulan yang menerangi malam dan kerlap-kerlipnya bintang seakan-akan sedang menunjukkan rasa cintanya kepada malam. Lebih-lebih kepada yang menciptakan malam. Yakni Allah SWT.

Lantas apa yang bisa aku lakukan untuk membuktikan cintaku kepada Naila? Haruskah aku mengutarakannya kepada dia? Sepertinya tidak mungkin. Karena dia seorang akhwat. Pasti dia menolakku. Sepengetahuanku, akhwat tidak mau diajak untuk pacaran. Kalau pun ada seorang laki-laki yang mencintainya. Dia harus membuktikannnya dengan cara menikahinya. Bukan dengan cara berpacaran.

==**==

Hari-hari berlalu…

Aku kembali teringat Naila. Sudah sepekan aku dan Farha tidak bertemu. Dan hari ini adalah hari kedelapanku. Dan aku harus menemuinya, menemui Farha. Untuk segera meminta maaf kembali. Sebenarnya aku ingin Farha seorang yang selalu dirindukan oleh hatiku. Tapi hatiku menolaknya. Entah ada gejala apa yang ada di hatiku ini. Sampai-sampai nama Farha sedikit demi sedikit memudar dari hari-hariku dan dari hatiku.

Sepulang dari jogging. Aku mampir ke tempat biasa aku mangkal untuk sarapan pagi. Yaitu ditempatnya Pak Ade. Beliau adalah penjual bubur ayam yang letaknya tidak jauh dari kostanku. Hanya beberapa meter saja dari kostan. Tepatnya di belakang kostanku.

Kemudian aku pesan satu porsi bubur. Aku santap hanya beberapa menit saja. Semangkok bubur telah aku habiskan. Usai makan bubur aku langsung pulang ke kostan.

Kini waktu sedang menunjukkan pukul 08.30. Karena hari ini hari Sabtu, hari liburnya para mahasiswa-mahasiswi. Aku rencanakan hari ini untuk menemui Farha.

Dan kemudian aku mandi. Sehabis mandi. Aku bersolek diri. Setelahnya aku pergi ke kostan Farha. Butuh beberapa menit saja aku sudah sampai di depan kostan Farha. Aku ambil HP di saku kanan celanaku. Segera aku kirim pesan ke handphone-nya Farha. Memberitahukan bahwa aku sedang di depan kostannya. Beberapa menit kemudian, Farha membukakan pintu gerbang.

Ngapain ke sini?” tanyanya sinis.

“Rha, aku ke sini mau minta maaf,” jawabku.

“Minta maaf itu mudah.”

“Maksudnya?” tanyaku.

“Iya minta maaf itu mudah, karena memaafkan itu tidak semudah memutarbalikkan tangan”.

Lalu Farha mengajakku untuk duduk di bangku panjang yang ada di samping kamarnya. Beberapa kemudian, kedua tangan Farha memegang tangan kananku. Dan Farha pun memulai berkata.

“Aa, sebenarnya Rha sudah memaafkan Aa sejak sepulang dari pertengkaran itu. Rha sadar, Rha yang salah. Rha emosian. Padahal waktu itu niat Aa hanya ingin mengajak Rha bercanda. Tapi malah Rha anggap sebagai keseriusan.Maafin Rha ya, A,” tambah Farha.

“Beneran Rha sudah nggak marah lagi sama Aa?” tanyaku dengan sedikit kaget.

“Kenapa nggak dari kemarin-kemarin saja Rha bilang ke Aa seperti ini?” tanyaku kembali.

“Rha hanya ingin tahu sikap Aa dalam setiap menghadapi masalah. Baik masalah kecil maupun besar,” jawab Farha.

Alhamdulillah, makasih ya, Sayang.”

Kemudian aku kecup kening Farha.

“Sekarang kita ke Metro Indah Mall yuuk sayang” ajakku.

Ngapain, A?” tanya Farha.

“Di Metro Indah ada acara dasyatnya RCTI.”

“Oh..” lanjut Farha, “tapi Rha mau ganti baju dulu A.”

“Iya Rha. A juga mau pulang ke kostan dulu. Ngambil motor. Nanti A jemput Rha ke kostan. Okay?

“Okay, Aa.”

==**==

Sesampai di kostan. Aku langsung cabut ke kostan Farha. Sesampai di sana aku klakson. Farha pun keluar. Farha kelihatan manis sekali dengan setelan kaos pink dan jeans birunya.

Farha tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyuman pula. Lalu aku sedikit merayu Farha, “Pacarnya Aa cantik banget sih.”

“Iya dong. Rha cantik kan buat Aa.”

Kemudian aku bonceng Farha dengan motor gedeku. Kami pun segera meluncur ke Metro Indah Mall. Dengan kecepatan sedang aku kendarai motor tigerku.

Satu jam kemudian. Kami pun sampai di Metro Indah Mall Bandung. Di depan Metro Indah Mall sudah dipenuhi kerumunan orang. Terutama anak ABG, baik anak sekolahan maupun para mahasiswa. Aku sampai di Metro Indah Mall tepat pukul 10:30 WIB. Di atas panggung sudah tampil Band Numata dengan lagunya “Pesona”. Karena sekarang acara dasyat bertemakan “Dasyatnya Bandung” sudah tentu acara dasyat kali ini di isi oleh band-band yang berasal dari Bandung. Seperti Firman, Peterpan, Numata, dan Tipe-X.

Sepengetahuanku band Numata ini terbentuk di Bandung pada bulan Juli 2002 dengan formasi Duhita Panchatantra atau Tantra pada piano, Simhala Avadana atau Mhala pada vokal dan gitar, serta Mahavira Wisnu Wardhana atau Inu pada drum. Nama band Numata ini diambil dari nama depan mereka. “Nu” dari nama Inu, “Ma” dari nama Mhala, sedangkan “Ta” diambil dari nama depan Tantra. Mereka bertiga adalah putra-putri dari penyanyi lawas di era 70-an, Tetty Kadi. Hingga kini mereka sudah mengeluarkan dua album. Di mana album pertamanya adalah “Dengar Numata” di tahun 2004 dan album kedua di tahun 2007. Mereka merilis album keduanya yang berjudul sama dengan grup mereka yakni “Numata” dengan hits single “Raja Jatuh Cinta”.

Selama penampilan Numata di atas panggung. Semua penonton berjingkrak-jingkrak. Ada pula yang hanya diam-diam saja. Tetapi mulutnya berkumat kamit sambil menendangkan liriknya.

Di sekitar arena juga aku dapati beberapa polisi dari kapolres Bandung Timur. Sungguh dasyat sound system-nya. Sedasyat acaranya. Suaranya menggema. Kami berdua sungguh menikmati acara dasyat ini.

Seusai Numata selesai menyanyikan lagu “Pesona” semua penonton bertepuk tangan. Kemudian host dari dasyat naik kepanggung. Rafi, Olga dan Luna semuanya naik ke panggung menyapa personil band Numata.

“Numata….” seru Raffi dan Luna.

“Numata tadi habis nyanyi, ucap Luna.

Terima kasih,” imbuh Luna.

“Sama-sama Lun…” jawab Mhala vokalis dari band Numata.

“Mungkin Numata mau kirim salam-salam buat mamanya, tante Tetty, atau…siapa mungkin,seru Raffi.

Yeeaahh,” ucap Mhala.

“Kirim salam buat temen-temen yang di sini. Seru sekali…” kata vokalis Numata.

Kumaha euy..?” tambah Mhala.

Penonton pun bersorak, “Yeahh” sambil bertepuk tangan.

“Numata dari Bandung… dari Bandung..” ucap Raffi dengan cepat dan lantangnya.

Ini jurig Bandung…ini jurig Bandung…” seru Raffi kembali sambil tangannya menunjuk ke arah Tantra.

Tantra pun menjawab.

“Buat mamanya Raffi,” jawab Tantra.

“Haah…kok mamanya gue,” kata Raffi dengan lirih.

Kenapa? Loe naksir sama mamanya….” tanya Luna.

Nggak..nggak..nggak..gue nggak kayak Raffi. Gue sukanya yang muda-muda,” kata Tantra.

Semua penonton bersorak meledek Raffi. Begitu juga dengan Luna, Olga, dan personil Numata tertawa.

Sesaat kemudian, Raffi berucap dengan lirih, “Ngeledek gue”.

“Eh, biar pun umurnya lebih dari Raffi, tapi kan pulen goyangannya, celetuk Olga.

Setelah mendengar celetuknya Olga. Semuanya tertawa kembali karena celetukan Olga itu. Seperti biasanya mereka para host dasyat saling bercanda.

“Iya sudah sekali lagi Numata terima kasih banyak. Silakan kembali ke tempatnya. Istirahat lagi…” seru Olga.

Semua host acara dasyat meminta penonton tepuk tangan untuk Numata.

“Tepuk tangan dong buat Numata,” ajak Raffi kepada semua penonton.

Penonton pun bersorak kembali, “Yeahh” sambil bertepuk tangan.

“Inu, Mhala dan Tantra…”imbuh Raffi.

“Betul sekali..” tambah Olga.

“Sekarang saatnya… mana ini….” seru Luna sambil kedua tangannya disilangkan. Menunjukkan kalau tanda silang adalah ciri untuk band Tipe-X. Karena sebentar lagi band Tipe-X tampil untuk selanjutnya.

Sebelum Tipe-X tampil, seperti biasanya ketiga host ini dengan cirinya yang khas suka mengisi dengan canda tawa kalau sedang membawakan acara dasyat.

Tidak lama kemudian Band Tipe-X sudah berada di atas panggung yang lumayan megah dan meriah. Kemudian menyanyikan lagu ”Genit”.

Selama penampilan band Tipe-X ini penonton lebih dasyat lagi berjogetnya. Berjingkrak-jingkrak ala aliran ska. Karena band tipe-X ini adalah grup band yang bernuansakan ska.

Usai penampilan band Tipe-X kami pun langsung pulang. Karena kami sudah merasa kecapean. Hampir satu jam kami di sini, di Metro Indah Mall.

Waktu terus bergulir. Satu jam pun berlalu. Satu jam dihabiskan di perjalanan dari Metro Indah Mall ke Geger Arum.

Setiba di kostan Farha aku pun langsung pulang ke kostan. Aku istirahatkan tubuh ini. Di atas kasur empuk aku pun masuk ke alam mimpi.

Ketika adzan Ashar berkumandang aku terbangunkan karena lantunan merdunya seorang muadzin. Sementara Zayan -teman sekostanku- ia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Kebiasaan dia yang selalu shalat berjama’ah di masjid tidak membuatku tertarik untuk mengikuti jejaknya itu. Aku adalah aku. Aku bukan Zayan. Yang taat terhadap perinta Tuhan-Nya. Aku hanya seorang insan yang tergolongkan orang yang masih banyak berbuat dosanya ketimbang berbuat kebaikannya. Sesungguhnya golongan seperti aku ini yang nanti akan merasakan pedihnya siksa api neraka. Meski Zayan sering membangunkanku di kala memasuki waktu shalat. Setiap pagi. Bahkan setiap hari.  Dan selalu mengajakku untuk shalat berjamaah di masjid. Namun, tetap saja aku tidak memperdulikan ajakannya itu.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Semenjak aku terbangun, aku masih ingat mimpiku barusan. Di dalam mimpiku itu terdapat aku yang sedang menjalankan shalat dengan pakaian serba putih. Baju koko berwarna putih, kopiyah putih, sorban putih sampai ke sajadah pun berwarna putih. Seusai aku menjalankan shalat dan seusai berdoa di dalam mimpiku aku merasakan kedatangan seseorang. Setelah aku berbalik badan aku melihat sesosok perempuan yang tepat berdiri di belakangku dengan muka bercahaya. Sehingga aku tak mampu melihat wajah perempuan tersebut. Lalu aku diajak pergi oleh perempuan itu. Aku ikuti langkahnya. Pelan. Pelan. Dan pelan. Langkah kami pun sebentar lagi memasuki pintu. Setiba di depan pintu langkahku terhenti. Sementara perempuan tadi sudah masuk terlebih dulu ke dalam ruangan. Kemudian dari dalam, perempuan tersebut memanggilku dengan panggilan abiy. Aku terkaget-kaget. Kenapa perempuan tersebut memanggilku abiy? Sementara aku sendiri belum menikah. Aku hiraukan saja penggilan abiy tadi.

Sewaktu pintunya dibuka, aku masuk ke dalamnya. Kudapati bahwa ruangan ini pun serba putih pula. Dan tiba-tiba perempuan itu menghilang. Di dalam ruangan tersebut terdapat sungai-sungai yang mengalirkan air yang jernih. Dan bertaburan bunga-bunga dari langit-langit ruangan tersebut. Aneh. Benar-benar aneh mimpiku ini. Perempuan yang di mimpiku itu padahal tadi ada di depan mataku namun tiba-tiba saja menghilang.

Setelahnya aku bangkit dari tempat tidur. Aku duduk sebentar. Aku minum air putih. Selesai minum, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lalu shalat Ashar.

Selesai shalat aku merencakan untuk menelpon Farha. Sebelumnya aku buka terlebih dahulu pesan yang baru saja masuk. Ada dua pesan yang masuk. Pertama dari Farha. Yang isi SMS-nya mengingatkanku untuk shalat Ashar. Aku balas dengan SMS pula dengan jawaban iya sudah shalat kok. Dan SMS satu laginya dari Marcell. Dia teman satu gengku. Tepatnya geng motor balap.

Marcell mengirim sms yang berbunyi:

Hay bro, hari minggu nanti elo ke markas ya…

Aku jawab:

Oke coy…

Dijawab lagi oleh Marcell:

Siiip!!!

==**==

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: