Novel Pesan untuk Nai (part4)

4

Niatku Mendonorkan Mata

Minggu, 2 November 2008 pukul satu siang. Di markas sudah terdapat beberapa temanku. Sekitar 4 orangan. Mereka telah disibukkan oleh kesibukan yang mereka buat sendiri. Doni sibuk menyiapkan minuman. Sementara Fadil sibuk berpacaran. Cinta mereka terjalin atas nama nafsu. Marcell sedang asyik membersihkan motor. Sementara Anton sedang sibuk berbincang-bincang denganku. Aku dan Anton melihat ke sekeliling. Kudapati teman-temanku ini bersibuk diri.

Dua jam telah berlalu. Dua jam pula kami telah asyik menenggak minuman beralkohol. Semua temanku dibuat teler oleh minuman beralkohol ini. Aku lihat arlojiku. Serasa begitu cepat hari ini. Sampai-sampai jarum arlojiku menunjuk angka tiga. Aku pun segera pergi dari tempat ini dengan keadaan mabuk. Aku terlalu banyak minum tadi itu. Kepalaku pening. Dunia seolah-olah berputar pelan. Tubuhku demikian ringan. Seakan-akan kakiku melayang di atas tanah.

Kemudian aku pamit.

“Hai coy, gue pulang dulu ya soalnya besok gue ada ujian. Gue cabut dulu ya…”

“Iya…hati-hati coy nyetir mobilnya, loe kan lagi mabuk,” ucap Doni dalam keadaan mabuk.

Loe tuh yang mabuk. Mobil dari Hongkong. Gue kan ke sininya jalan kaki tahu,” jawabku.

Kemudian langkah kaki pertamaku aku mulai langkahkan untuk segera meninggalkan tempat ini. Tempat di mana kami semua berkumpul dan tempat nongkrong kami semua.

Aku jalan kaki karena memang jarak antara markas dengan kostanku tidak begitu jauh. Hanya berkisar 2 kilometeran. Langkah demi langkah pun telah berlalu. Sementara semilir angin sore menjamah dedaunan kering seperti halnya dia menjamah wajahku, meriap-riapkan ujung-ujung rambutku. Aku menapaki jalanan aspal ini.

Mendadak aku hentikan langkahku ini karena barusan aku mendengar jeritan perempuan minta tolong. Jeritan yang meminta kepada siapa pun yang mau menolongnya. Kepada siapa pun yang mendengar jeritannya itu. Sungguh jelas suara itu suara perempuan. Setelah kuperhatikan dengan seksama kudapati suara itu berasal dari dalam hutan kecil yang berada di ujung jalan sana.

Kudatangi sumber suara itu. Aku lari. Dan lari. Dan terus berlari. Dengan agak sempoyongan aku terus ,mencari sumber suaranya. Aku melangkah gontai menuju dalam hutan kecil. Setelah aku temukan sumber suara itu dari mana asalnya. Ternyata benar adanya. Tepat di depan mataku terlihat seorang pemuda bangsat. Dia buas bagaikan binatang. Sungguh hinanya dia. Pemuda itu tega memperlakukan gadis tuna netra laiknya gadis murahan.

Padahal gadis tuna netra yang mau dia perkosa itu sudah menjaga dirinya dengan jilbab besarnya. Entah setan apa yang membuat pemuda itu sehingga tega berbuat begitu. Pemuda brengsek itu hampir memperkosa gadis tak berdaya itu kalau saja aku tidak segera menolongnya. Karena tangisan gadis berjilbab itu membuat aku nekad dan berani. Kulihat di wajah cantiknya ada rasa ketakutan yang mendalam.

“Hai brengsek, lepasin nggak…!!!” teriakku dari kejauhan.

Lalu aku menghampirinya. Hingga jarakku dengan dia hanya satu meteran.

“Ada pahlawan juga nih tapi sayang pahlawan mabuk,” ejek pemuda itu.

“Hei loe, banci. Jangan beraninya sama gadis buta aja. Sini lawan gue kalo berani,” kubalas ejeknya.

“Punya nyali juga nih orang,” jawab pemuda itu.

Lalu pemuda itu mendekatiku. Aku siap-siap kalau-kalau dia mendadak menyerangku.

“Hei pemabuk, sekarang juga loe enyah dari hadapanku. Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya,” pemuda itu mengancamku.

“Aku tidak takut sama loe. Loe kan banci. Beraninya sama anak gadis saja,” ejekku.

Pemuda itu menunduk. Tiba-tiba dia melemparkan kepalan tangannya tepat mengenai tengkukku. Aku lengah dibuatnya. Darah pun mengucur akibat pukulan kerasnya. Darah segarku mengalir dari hidungku hingga jatuh ke tanah. Aku tak berdaya. Lemas rasanya kakiku ini untuk bangkit. Kepalaku pusing. Seperti berputar-putar. Pusing sekali. Benar-benar pusing.

“Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Meskipun hamba sering melupakan-Mu. Engkau Maha Pengasih, lagi Maha Pengampun. Saat ini, aku benar-benar membutuhkan pertolongan-Mu. Izinkan aku untuk melawan dia. Beri aku kekuatan. Karena dia sudah melecehkan gadis tuna netra yang sholehah ini. Gadis ini pasti kekasih-Mu. Jadikan aku tentara-Mu meskipun hanya saat ini saja. Aku sudah geram. Perbuatan pemuda bangsat ini tidak bisa didiamkan. Aku tidak peduli kalau pun aku mati ditangan bangsat ini. Mati pun aku bahagia,” ucapku dalam hati.

Sekali lagi. Pemuda itu menendang wajahku. Aku tersungkur menahan kesakitan. Pasrah aku. Kalau pun malaikat Izrail mengambil nyawaku saat ini juga. Aku rela. Meskipun mabuk. Tapi hatiku tidak sedikit pun mabuk. Hati ini ikhlas menolong gadis buta ini. Aku pasrah sudah.

Jikalau memang Allah SWT mentakdirkan hidupku berakhir di tangan pemuda brengsek ini, aku mengikhlaskannya. Aku hanya bisa berpasrah kepada Pemilik nyawaku. Mungkin, inilah azab yang harus aku terima secara langsung di dunia ini, atas segala dosa-dosaku dan kesalahan-kesalahanku yang hampir kulakukan sepanjang usiaku.

Sungguh aku pasrah. Apa arti sakitnya tubuhku akibat tendangan dan pukulan ini. Apa artinya luka di wajahku ini. Apa artinya darah yang mengucur deras ini? Sungguh tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan pedihnya siksa neraka jahannam kelak. Ya Allah, amat sedikit kebaikan yang aku lakukan selama ini jika dibandingkan dengan noda hitam dan dosaku. Cukupkah kebaikan hatiku ini menjadi pertimbangan bagi-Mu untuk mencatatku kedalam barisan jamaah hamba-hamba-Mu yang sholeh dan masuk kedalam surga-Mu.

Aku ingin melawan, tetapi tubuhku rapuh. Aku jatuh. Kepalaku pening. Kepalaku tak sekeras batu. Aku memiliki kepala yang lemah. Kudapati sekitarku terasa berputar-putar.

Aku seseorang yang berhobi berkelahi. Yang aku harapkan saat ini adalah hanya kemenangan. Berkelahi adalah kegemaranku. Tapi kalau keadaanku seperti ini. Kegemaranku berkelahi seakan menjelma menjadi pecundang sejati.

“Brengsek. Sini maju…!” teriakku ketika kekuatan untuk bangkit mulai sedikit terkumpul.

Sejurus kemudian, kami berdua sudah terlibat dalam perkelahian yang cukup sengit. Dia memukulku, dan menendangku. Pukulan pemuda itu aku balas dengan pukulan lagi, dan tendangannya kubalas dengan tendangan lagi. Meski ada rasa sakit dalam diriku. Tak apalah. Aku harus menolong gadis ini. Lagi pula aku berada di pihak yang benar, sedangkan dia berada di pihak yang salah lagi munkar. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku tak tega melihat gadis diperlakukan seperti itu. Bagiku wanita adalah sebaik-baiknya pahlawan. Karena para mujahid maupun pahlawan itu terlahir dari rahim seorang perempuan.

Gadis buta itu mencoba berteriak minta tolong. Tidak lama kemudian warga berbondong-bondong menuju kami. Pemuda itu pun berkata kepada para warga.

“Hajar dia Bang, dia mau memperkosa gadis buta ini,” ucap fitnahnya pada warga.

Betul-betul keji perbuatannya. Selain dia membuatku babak belur, dia juga telah memfitnahku. Sungguh fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Lebih baik aku mati dibunuh daripada mati meninggalkan fitnah. Lindungilah aku ya Allah dari fitnah ini. Engkau Maha Mengetahui, dan hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati hamba-hamba-Mu.

Warga pun termakan oleh fitnahnya. Warga lalu beramai-ramai menghakimiku dengan pukulan-pukulan mereka. Aku pun terkapar setelah mendapatkan pukulan keras dibagian kepalaku. Karena aku dapat hantaman kayu balok yang besar dari warga, aku tersungkur dengan darah segar yang masih menempel di rambut kepalaku.

Mendengar aku dipukuli, gadis buta itu berkata. “Masya Allah,” ucap gadis itu, Naila Muazara Ulfa. “Pak sebentar…!” ucap lanjut Naila, “Bapak tidak berhak mendzalimi orang yang nggak salah!”

Kulihat Naila mencoba melindungiku dari amukan warga. Malah Naila sempat terkena pukulan warga akibat dia menghalang-halangi warga untukku.

“Lebih baik Neng minggir dan diam saja, biar kami yang membereskan masalah ini,” ucap salah satu warga yang berambut gondrong.

“Pak, demi Allah. Bukan dia orang yang mencoba memperkosa saya,” ucap Naila mencoba meyakinkan warga.

“Apa benar yang barusan Neng katakan itu. Apa buktinya kalau memang dia bukan pelakunya,” ucap lanjut warga berambut gondrong itu.

“Bohong! Saya melihat dengan kepala saya sendiri, kalau dia yang mencoba memperkosa gadis buta itu,” sahut si pemuda brengsek tadi mencoba meyakinkan warga.

“Pemuda yang memfitnah orang yang kalian pukuli itulah pelaku sebenarnya. Dia yang mencoba memperkosa saya. Demi Allah dia, saya kenal dengan suara ini. Saya mendengar dengan jelas, tadi dia bilang mabuk ke orang yang bapak pukulin ini. Waktu saya menjerit minta tolong orang yang kalian pukuli ini datang menolongku dalam keadaan mabuk. Berarti tadi yang menolong saya adalah orang ini. Karena dia sedang mabuk,” kata tegas dari seorang gadis buta.

“Kalau gitu, kita cium saja bau mulutnya. Kalau memang mulutnya bau alkohol, berarti benar dia habis mabuk-mabukan,” saran salah satu warga.

“Biar saya aja,” usul salah satu warga yang berambut gondrong. Setelah membaui mulutku, warga itu berkata, “Iya Neng benar, mulutnya bau alkohol. Berarti bukan ia pelakunya.”

Akhirnya tercium juga fitnah pemuda itu oleh warga. Pemuda brengsek itu bingung. Pemuda brengsek itu ketakutan. Pemuda brengsek itu panik. Pemuda brengsek itu gemetaran. Pemuda brengsek itu dihantui rasa takut yang amat dalam. Sehingga tidak ada jalan lagi baginya. Dia milih jalan lari dari kejaran warga. Menyelamatkan diri dari amukan warga. Meskipun usahanya untuk lari dari amukan warga sempat berhasil. Tetapi Allah Swt Maha Adil, akhirnya dia pun tertangkap juga lalu digelandang ke kantor polisi.

Baru saja aku melihat kebesaran Allah SWT, yang telah memenangkan kebenaran dan mengalahkan yang salah. Sesaat kemudian, aku jatuh pingsan. Aku tergeletak di bawah pohon cemara yang ada di dalam hutan kecil ini.

==**==

Pagi harinya, ketika aku terbangun. Ketika aku tersadar. Jarum jam telah menunjukkan angka tujuh. Aku terbangun di kala pagi yang sejuk.

Lidahku pun berucap, “Sekarang gue lagi di mana? Tempat apaan ini?” tanyaku sambil kebingungan.

Spontan lidah ini berucap kesakitan. “Aduh…” teriakku.

Sesaat kemudian, aku lihat ada orang yang turun dari atas ranjang tingkat dan mencoba menghampiriku. Dengan pelan langkahnya mendekatiku. Lalu dia duduk di sebelahku.

“Tenang Akh, jangan banyak bergerak. Istirahat lagi aja dulu,” saran orang itu.

Loe siapa?” tanyaku pada pemuda yang duduk di sebelahku.

“Panggil saja Akmal. Tadi antum pingsan, Akh. Terus ada warga yang membawa antum ke tempat ini,” jelas Akmal.

“Syukur kalau antum sudah sadar, Akh. Sekarang gimana keadaan antum? Sudah mendingan?” tanya Akmal.

“Belum. Oh iya, thanks ya. Bagaimana pun juga orang di sini sudah nolongin gue.”

“Iya ini sudah kewajiban kami Akh. Antum tiduran lagi saja.”

Lalu Akmal menyelimutiku. Dan aku pun tertidur kembali.

==**==

Dua jam kemudian aku terbangun kembali. Jam sembilan. Aku buka mata lebar-lebar. Sewaktu mataku terbuka. Aku lihat temanku Zayan berdiri di samping ranjang di mana aku tidur. Zayan menanyakan kabarku. Aku jawab Alhamdulillah sekarang sudah agak baikkan. Zayan pun membawa serantang bubur ayam untukku. Zayan memang teman baikku. Aku ucapkan terima kasih banyak kepada Zayan. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Zayan.

“Semoga Akh Zuhdi cepat disembuhkan dari sakit Akh Zuhdi ini oleh Allah,” ucap Zayan.

“Terima kasih, Yan atas doanya,” imbuhku “hari ini kan elo ada kuliah, Yan. Kenapa malah ke sini?”

“Iya Akh, sebentar lagi saya mau kuliah. Sekarang masih ada waktu sekitar setengah jam lagi.”

“Oh iya, Yan, Farha sudah tahu belum kalau gue lagi dirawat di sini? Terus kalau boleh tahu, ini tempat apaan, Yan?” tanyaku.

“Kalau masalah Farha sudah tahu atau belum Akh Zuhdi lagi dirawat di sini, saya kurang tahu, Akh,” tambah Zayan, “sekarang Akh Zuhdi lagi di Pondok An-Nahl”.

“Pondok An-Nahl?”

“Iya, Akh.”

“Tempat apaan? Dan siapa yang membawa gue ke sini?”

“Pondok An-Nahl semacam tempat terapi bagi mereka yang pecandu narkoba, Akh. Setelah saya dengar cerita dari Akh Akmal, salah satu santri di sini. Katanya sewaktu Akh Zuhdi lagi menolong seorang perempuan. Akh Zuhdi difitnah oleh seorang pemuda yang di mana pemuda itu sempat memperkosa seorang perempuan. Lalu Akh Zuhdi dihantam benda keras oleh warga sehingga jatuh pingsan. Saat itu juga warga  tahu kalau Akh Zuhdi bukan pelakunya. Setelah mendengarkan penjelasan dari perempuan yang sempat jadi korban  pemerkosaan. Hingga akhirnya warga percaya dan warga membawa Akh Zuhdi ke tempat ini,” jelas Zayan.

“Oh iya Akh, Akh Zuhdi masih ingat nggak waktu Akh Zuhdi tidak sadarkan diri setelah memakai narkoba. Kan waktu itu juga Akh Zuhdi dirawat di sini juga. Masih ingat nggak?” imbuh Zayan.

“Oh iya gue ingat, Yan!. Yang waktu itu elo lagi ngobrol sama ustadz bukan?”

“Betul, Akh.

“Ya Allah, kenapa engkau menakdirkan aku sampai ke tempat ini. Sampai dua kali lagi. Ada apa dengan semua ini ya Allah?”

Insya Allah setiap kejadian itu pasti ada hikmah yang tersembunyi di dalamnya kalau kita orang yang berakal dan bersyukur, Akh.”

“Semoga gue termasuk juga di dalamnya, Yan. Doakan gue, Yan”

“Iya, Akh.

“Oh iya Yan, gue mau curhat!”

“Silahkan saja Akh mau curhat apaan?”

Gini, Yan. Ini soal akhwat. Dua minggu yang lalu waktu gue bertengkar kecil dengan Farha, saat gue melihat segerombolan akhwat yang baru ke luar dari dalam masjid Husnul Khotimah, gue melihat ada akhwat tuna netra. Dia cantik sekali. Entah kenapa gue suka sama akhwat itu, Yan. Menurut loe, gue pantas nggak mencintai wanita secantik dan sesholehah dia? Loe kan tahu sendiri gue kaya gimana orangnya. Gue hanya manusia pendosa yang tak tahu agama.”

“Kalau Akh Zuhdi bener-bener suka sama dia. Akh Zuhdi minta saja ke Allah. Kan akhwat itu milik Allah. Jadi Akh Zuhdi harus minta langsung ke pemiliknya saja. Yaitu Allah SWT,” jawab Zayan.

Insya Allah gue bener-bener suka sama dia, Yan!”

“Nama akhwat itu siapa, Akh?” tanya Zayan.

“Naila namanya,” jawabku.

“Naila ya Akh…?”

“Iya,” lanjut ku “Loe kenal nggak Yan sama Naila?”

“Kalau akhwat itu benar Naila Muazara Ulfa, saya kenal, Akh. Terus dia juga tuna netra.”

“Kalau nama lengkapnya sih gue nggak tahu, Yan.”

“Mungkin benar dia itu Naila. Siapa, Yan?”

“Naila Muazara Ulfa,” jawab Zayan.

“Oh, iya.”

Aku diam sejenak. Lalu aku bertanya kembali ke Zayan.

“Terus kalau gue minta ke Allahnya biar mata gue didonorkan ke Naila, kira-kira Allah mengabulkannya nggak ya, Yan?”

Akh, hati-hati kalau berkata itu. Nanti bisa jadi kenyataan, bagaimana?”

Gue serius Yan. Suatu saat nanti gue berniat mendonorkan kedua bola mataku ini ke Naila. Tapi nggak tau kapan waktunya. Mungkin kalau gue sudah meninggal nanti”

Wallahu’alam, Akh.

“Mau tidak loe jadi saksi kalau gue ini benar-benar dan serius mau mendonorkan mataku ini kalau nanti gue sudah meninggal?”

Insyaallah,

Alhamdulillah,

“Caranya?” tanya Zayan dengan tegas.

“Caranya dengan surat wasiat. Nanti gue mau bikin surat pernyataan yang di dalamnya berisi ketersediaanku untuk mendonorkan kedua bola mataku ini ke Naila.”

“Maksudnya nanti saya jadi saksi dengan cara menandatangi surat pernyataan itu, Akh?”

“Iya, Yan,” tambahku kemudian, “loe mau, kan?”

Insya Allah selagi itu baik, dan selagi saya masih hidup di dunia saya mau jadi saksi dan melaksanakan wasiat dari Akh Zuhdi.”

“Saya salut sama antum, Akh. Antum benar-benar mencintai dia karena Allah  bukan karena nafsu semata,” imbuh Zayan.

“Ah loe bisa saja, Yan. Gue saja belum bisa mencintai diri sendiri karena Allah. Apalagi mencinta orang lain karena Allah. Gue belum pantas, Yan.”

Zayan terdiam. Aku sambung lagi dengan pembicaraan soal surat wasiat yang nanti aku buat.

“”Oh iya Yan, kira-kira gue di sini sampai kapan ya?”

“Sampai Akh Zuhdi sembuh, lah.

“Tapi sekarang gue sudah mendingan kok.”

“Iya mendingan. Tapi belum sembuh total, kan?”

“Emang boleh kalau gue berlama-lama tinggal di sini?”

“Boleh banget, Akh

“Saya sudah membicarakan soal Akh Zuhdi untuk tinggal beberapa lagi di sini dengan ustadz Luthfie.”

“Benar, Yan?”

Zayan hanya tersenyum. Aku amat bahagia mendengarnya. Karena aku telah diizinkan untuk tinggal di sini meskipun hanya beberapa hari saja.

Tiba-tiba rasa bahagia ini menimpaku. Entah ada gejala apa yang ada di dalam hatiku saat ini. Sesaat kemudian kebahagiaanku menjadi berlimpah-limpah. Suasana hatiku tiba-tiba berdendang.

“Untuk masalah surat keterangan sakit, Akh Zuhdi nggak usah khawatir, karena suratnya sudah ada di tangan saya.”

Kemudian Zayan memperlihatkan suratnya kepadaku.

“Kok banyak sekali, Yan? Terus siapa yang bikin?”

“Iya, Akh. Ustadz Luthfie yang bikin. Kata beliau sih biar enak, biar satu dosen dapat satu surat. Dengan begitu Akh Zuhdi bisa menggunakan hak Akh Zuhdi itu untuk tidak masuk kuliah dulu.”

“Emang loe teman baik gue, Yan. Thank’s brow.”

Okay, kalau begitu saya mau berangkat kuliah dulu akh. Karena lima menit lagi pukul setengah sepuluh.”

“Sekali lagi terima kasih, Yan”

Sekali lagi Zayan menjawabnya hanya dengan senyuman. Sebelum pergi Zayan terlebih dahulu mengucapkan salam “Assalamu’alaikum

Aku jawab salamnya dengan jawaban sempurna, “Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

==**==

Sepuluh menit setelah kepergian Zayan. Tampak di depan mata aku melihat sesosok pemuda yang berpeci berpakaian koko dengan sarungnya. Ia menuju ke kamar di mana aku dirawat. Di depan pintu orang itu mengetuk pintu terlebih dahulu sambil mengucapkan salam. Aku pun menjawab salamnya. Lalu dia mendekatiku. Dia berdiri di depanku. Dan berkata. “Bagaimana kabar antum sekarang?” kata orang itu.

Alhamdulillah sekarang saya sudah baikan.”

“Maaf sebelumnya. Mau bertanya. Akang itu ustadz Luthfie, bukan?” tambahku.

“Iya Akh, ana Luthfie”

Tanpa dikomando lagi aku mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau.

Lalu beliau duduk di sebelah kananku. Tangan kanan beliau mengelus-ngelus punggungku sambil mengucapkan “Semoga Allah semoga mencurahkan rahmat-Nya kepadamu Akh. Antum memang pemuda yang luar biasa. Engkau selalu melindungi perempuan yang lemah. Ana salut sama antum. Terus berjuang, Akh,” ucap ustadz Luthfie.

Sejenak aku diam. Sambil berfikir. Apa betul aku ini sebaik itu. Duh Allah, pantaskah aku mendapatkan pujian itu? Mungkin karena beliau tidak mengetahui aib-aibku. Sehingga beliau memuji-mujiku seolah-olah aku pemuda yang baik. Sungguh, jikalau Engkau membeberkan semua kejelekan-kejelekanku di depan beliau. Pasti beliau tidak akan memujiku maupun menghormatiku.

Aku alihkan saja pembicaraan ustadz Luthfie dengan bertanya kepada beliau.

“Kang, bolehkah saya tinggal di sini untuk sementara?”

“Dengan senang hati, kami semua di sini menerima Akh Zuhdi sampai Akh Zuhdi tidak betah lagi di pondok ini?”

“Bagi saya tidak alasan untuk tidak betah tinggal di sini. Suasana pondok ini sungguh masih asing bagi saya. Karena baru dua kali saya berada dil ingkungan pondok An-Nahl ini. Namun, saya senang sekali berada di sini. Sekali lagi terima kasih banyak Kang atas kebaikan sahabat semua yang sudah menolongku.”

“Kalau begitu Akh Zuhdi sekarang istirahatlah,” suruh ustad Luthfie.

“Makasih, Kang…”

“Iya sudah ana tinggal dulu ke belakang ya, Akh…”

“Iya, Kang.”

Semoga sakitku ini menjadi penggugur dosa-dosaku yang selama ini sudah menumpuk. Entah seberapa besarkah dosa-dosaku jikalau dihitung. Mungkin dosaku sebesar Gunung Uhud. Bisa juga lebih.

==**==

Waktu terus bergulir. Hingga hari ke empat aku masih menetap di Pondok An-Nahl.

Selama empat hari ini di Pondok An-Nahl, aku selalu mendapat ketenangan jiwa. Semangat untuk terus menjadi Muslim sejati pun mulai terbuka. Dan selama aku di Pondok An-Nahl. Aku juga mendapati penghuni Pondok An-Nahl ini tiap harinya berkumpul di masjid. Di masjid mereka menghadiri pengajian. Nama masjidnya pun sama dengan nama pondok, yaitu Masjid An-Nahl. Mereka setiap hari, tepatnya tiap ba’da Ashar, dan ba’da Maghrib mereka selalu mengikuti pengajian di masjid An-Nahl. Aku pun telah dua kali mengikuti pengajian rutin di sini. Saat pertama kali aku mengikuti pengajian di masjid An-Nahl rasanya berat sekali. Rasa kantuk terus menghampiriku. Namun, setiap kantuk datang, aku tangkis dengan air wudhu. Dan waktu itu, ustad yang mengisi pengajian adalah seorang ustadz yang berjenggot tebal. Aku pikir ustadz tersebut bukan asli orang Bandung. Karena wajahnya mirip orang Arab. Namun, setelah aku diberi tahu oleh sahabat-sahabat di sini, ternyata beliau asli orang Bandung dan beliau yang berjenggot tebal itu adalah pimpinan pondok An-Nahl. Namanya ustadz Jabar. Nama lengkapnya ustadz Jabar Asyamie. Materi yang disampaikan oleh ustadz Jabar waktu itu adalah tentang pentingnya mengingat kematian.

Beliau menjelaskan bahwa persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujudkan kecuali dengan selalu mengingat kematian di dalam hati. Sedangkan untuk mengingat di dalam hati tidak akan terwujudkan kecuali dengan selalu mendengarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusia pun melalaikannya. Inilah pelajaran yang pertama kali aku dapatkan sewaktu mengikuti pengajian di sini, di Pondok An-Nahl.

Dan sekarang adalah hari kelimaku di pondok An-Nahl. Sore pun telah lewat dan malam telah datang menjelang. Ini malam Jum’at. Malam di mana para santri sini sedang menghabiskan waktunya ber-mujahadah di masjid. Di kamar ini menjadi sepi. Aku berada dalam kesunyian malam.

Saat malam menjelang pukul 23.00, aku terbangun dari tidurku sebab mendengar suara gaduh di luar sana. Entah apa yang terjadi di sana. Aku tidak tahu. Dengan membawa rasa penasaranku aku putuskan untuk keluar dari kamar ini. Untuk melihat sedang terjadi peristiwa apa di luar sana. Dan  sewaktu aku bangun dari tidurku. Aku mendengar langkah kaki yang berlarian. Aku langkahkan kakiku menuju pintu. Pintunya aku buka.

Para penghuni pondok An-Nahl berlarian menuju ke bawah anak tangga. Dan benar adanya, di sana, di bawah anak tangga ada kerumunan sahabat-sahabat. Kemudian aku hampiri kerumunan tersebut. Sesampai di kerumunan kulihat Kang Luthfie sedang menuntun orang yang sedang mengalami sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat dua syahadat dan kalimat istighfar. Sekali, dua kali, hingga sampai berkali-kali, namun tetap saja orang ini tidak mampu mengucapkan kalimat istighfar maupun kalimat dua syahadat hingga sampai tiba ajalnya.

Dia meninggal di pangkuannya Kang Luthfie.Dia meninggal dengan mulut berbusa dan mata memerah. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Kalimat inilah yang diucapkan oleh kita semua. Kalimat yang mengingatkan kita akan kematian.

“Semua berasal dari Allah. Semuanya pun akan kembali kepada-Nya,” ucap kang Luthfie.

“Dan sungguh Allah Mahabesar ketika berfirman: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” imbuh kang Luthfie.

==**==

Keesokan harinya, pukul 07.00 WIB. Para penghuni Pondok An-Nahl ikut menyolatkan jenazah. Ustadz Jabar menjadi imam shalat jenazah itu.

Pukul 09.00 WIB. Keluarga dari almarhum datang untuk mengambil jenazah. Karena jenazah akan dikuburkan di tempat di mana almarhum tinggal, yaitu di kota Majalengka.

==**==

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: