Novel Pesan untuk Nai (part5)

5

Takut Akan Kematian

Sepekan setelah kejadian sakaratul maut waktu itu, rasa takut akan mati masih menghantui pikiranku. Aku takut kalau matiku bukan mati yang husnul khotimah, melainkan mati yang suul khotimah.

Kini aku tidak tinggal di Pondok An-Nahl lagi. Aku sudah menempati kamar kostanku kembali. Setelah beberapa hari aku tinggalkan.

Aduhai jiwa, kenapa engkau merasakan takut dan cemas yang amat sangat begini? Padahal kejadian sakaratul maut seperti itu sudah berlalu seminggu yang lalu.

Pukul 20.00 WIB. Malam ini malam minggu. Biasanya aku malam mingguan bersama Farha. Namun kali ini, aku bersibuk diri memikirkan akan ketakutanku sendiri. Takut mati.

Kurasakan kamar kostanku ini demikian gerah. Sementara jiwaku, jiwa kurang tenang. Duhai jiwa, apa yang bisa aku lakukan sekarang agar aku bisa menenangkanmu?

Sepi mencekam. Senyap menelan. Tak biasanya aku mengalami malam seperti ini. Tak biasanya suasana jiwaku seperti malam ini.

Malam pun semakin larut. Empat jam telah berlalu. Tapi, rasa takutku tak kunjung pergi dari jiwaku. Hingga kini pukul 24.00 WIB.

Sewaktu aku terbangun dari lamunanku. Aku menemukan jalan keluarnya. Akhirnya kutemukan jawabannya.

Shalat! Ya, shalatlah yang mampu menenangkan jiwaku. Lalu aku masuk ke kamar mandi. Mengambil air wudlu dengan pelan. Berwudlu.

Tapi aku mau shalat apa?! Shalat Isya sudah aku tunaikan. Lantas…

Masyaallah, demikian bodohkah aku menjadi muslim. Selama ini aku hanya melaksanakan shalat wajib saja. Kemudian melalaikan ibadah yang sunnah.

Sejenak aku berfikir. Rasa-rasanya aku pernah mendapatkan ilmu tentang shalat sunnah. Namun aku lupa. Mungkin ini akibat karena aku tidak mengamalkannya.

Aku pun segera berfikir. Kenapa harus bingung-bingung. Cara saja di internet. Di sana banyak ilmu pengetahuan tentang agama. Aku yakin ilmu tentang tahajjud pun ada di internet.

Tanpa ditunda-tunda lagi aku pun segera keluar mencari warnet yang masih buka. Aku coba ke warnet Qbee terlebih dahulu.

Sesampai di sana. Alhamdulillah, warnet Qbee masih buka walaupun sudah larut malam. Selama duapertiga jam aku sudah mendownload beberapa file tentang shalat sunnah tahajjud. Kemudian aku save ke dalam flashdisk. Sudah ada sebagian yang aku baca dan ada juga sebagian yang belum dibaca. Berhubung lima belas menit lagi mau masuk pukul 01.00 WIB. Aku bergegas pulang ke kostan.

Setiba di kostan. Aku lihat Zayan masih terjaga dalam tidurnya. Setelah aku mengerti tentang shalat tahajjud, ternyata shalat malam seperti shalat tahajjud ini di usahakan melakukannya setelah bangun tidur. Tujuannya untuk menghilangkan rasa kantuk. Jikalau kita melaksanakan shalat tahajjud dalam keadaan mengantuk berat, mungkin kita tidak bisa khusyu’ melaksakannya. Bacaan shalat kita pun menjadi melantur seandainya kita shalat dalam keadaan mengantuk. Maka dari itu, shalat tahajjud dianjurkan tidur terlebih dahulu.

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Aku masih ada waktu untuk tidur selama dua jam ke depan. Semoga saat aku bangun nanti aku sudah dalam keadaan segar bugar. Sehingga bisa menjalankan shalat tahajjud dengan tenang. Sebelum tidur terlebih dahulu aku memasang alarm pada waktu alarm 03:00 di handphone-ku.

==**==

Alhamdulillah, karena Allah sudah mengizinkanku bangun melalui perantara nada alarm yang cukup keras ini, akhirnya aku tergeliat bangun untuk menjalankan shalat lail. Yakni shalat tahajjud.

Mungkin baru kali ini aku manfaatkan anugerah yang sudah Allah berikan kepadaku untuk beribadah. Yakni dengan mudahnya aku terbangun dari tidur jikalau ada sesuatu yang mengusik tidurku, seperti bunyi nada alarm, maupun suara apapun serta kalau ada orang yang menggerak-gerakkan anggota badanku. Sebelumnya aku bangun malam bukan untuk shalat lail, melainkan untuk menonton pertandingan sepak bola.

Di saat mata ini terbuka. Saat itu juga aku melihat Zayan sedang khusyu’ menunaikan ibadah shalat sunnah tahajjud. Dan ini bukan pertama kalinya aku melihat Zayan melaksanakan shalat lail. Tapi sudah sering. Bahkan setiap sepertiga malam, setiap aku bangun untuk menonton pertandingan sepak bola, Zayan pasti menyempatkan untuk shalat lail. Lalu mengaduh segala urusannya di dunia kepada-Nya dalam do’anya.

Setelah bangkit dari tempat tidurku. Aku bergegas menuju ke kamar mandi. Lalu mengambil air wudlu dengan pelan. Usai berwudlu, aku gelar sajadahku. Aku pun shalat tahajjud.

Seusai shalat aku lanjutkan dengan ber-munajat kepada-Nya dalam bentuk untaian doa. Usai doa aku berdzikir.

Astaghfirullaahal’azhiim, alladzii laa ilaaha illaa huwalhayyul qayyuum, wa atuubu ilaiih,” aku baca bacaan dzikir ini tiga kali. Lalu aku sambung dengan doa berbahasa Indonesia. “Ya Allah, sungguh hamba takut akan kematian. Seandainya saat ini aku tahu kalau nanti aku mati dalam keadaan husnul khotimah, mungkin aku tidak merasa ketakutan seperti ini. Tapi, Engkau Maha Menentukan. Al Muktadir. Engkaulah yang menentukan kapan aku mati dan dalam keadaan apa aku mati. Maka berilah aku petunjuk, yaa Rabb. Aku tak mau tersesat lagi mungkar. Tunjukilah aku jalan yang lurus.” Aku akhiri dengan mengusapkan kedua tanganku ke wajahku sambil mengucapkan alhamdulillaahirabbil’aalamiin.

Semakin aku larut dalam do’a, semakin aku menemukan ketenangan dalam jiwa ini. Dalam hati ini, ada sebutir harapan yang kelak nanti aku tanam dalam ladang amalku.

Detik jam terus berputar. Perputaran jarum jam menunjukkan tunduknya kepada Kuasa-Nya Illahi.  Jarum jam menunjukkan angka empat.

Hingga menjelang subuh aku masih saja duduk di tempat shalatku. Aku putuskan sebelum adzan Subuh dikumandangkan aku harus mandi untuk mengusir kantukku, lelahku, dan letihku.

Aku pun mandi. Usai mandi. Aku segera berwudlu. Tatkala aku selesai mandi, selesai berwudlu, adzan Subuh pun kudengar. Suara adzan yang memecah keheningan.

Lalu Zayan mengajakku untuk shalat berjama’ah di masjid Husnul Khotimah. Ajakan Zayan aku kabulkan. Hingga akhirnya kami berdua shalat Subuh berjama’ah di masjid Husnul Khotimah. Masjid ini bisa dibilang masjid yang berukuran kecil, namun jama’ahnya masyaallah banyaknya. Banyak yang belum bangun maksudnya.

Usia shalat subuh. Kami pun pulang. Seperti biasanya, selepas shalat Zayan suka menyempatkan diri untuk membaca al-Qur’an. Setengah kemudian, Zayan pun selesai membaca al-Qur’an. Lantas Zayan meletakkan al-Qur’an di rak buku. Kemudian aku ajak Zayan untuk berbincang-bincang.

Beberapa waktu kemudian kami duduk saling berhadapan. Aku yang memulai perbincangan kali ini. Lalu aku mengajukan pertanyaan seperti ini: “Yan, beberapa hari belakangan ini gue sering membayangkan kalau orang mati dikubur sendiri di kuburan, sempit, dan hanya berkawankan serangga seperti kalajengking dan kelabang. Gue jadi ingin ber-istighfar terus, dan takut untuk memejamkan mata.”

“Apa yang harus gue lakukan, agar rasa takut akan kematian dan membayangkan alam kubur bisa hilang dari benak gue, Yan?” imbuhku.

Akh, kematian itu datang dengan caranya sendiri. Kadang tak terduga. Termasuk ketika dia menjemput  sahabat kita seminggu yang lalu di Pondok An-Nahl. Sungguh sangat tidak terduga.”

“Justru itu gue takut setelah melihat peristiwa di Pondok An-Nahl, Yan. Gue masih terbayang, ketika lidah beliau tidak mampu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat maupun kalimat istighfar. Apakah gue juga seperti itu, Yan?”

Wallahu’alam,” jawab Zayan dengan singkat.

“Terus, apa yang harus gue lakukan untuk menghilangkan rasa takutku akan kematian?” tanyaku kembali kepada Zayan.

“Ketahuilah Akh, bahwasannya selalu mengingat akan kematian itu disunnahkan dan harus benar-benar ditekankan atas diri kita, bahwa kita akan meninggal dunia sebab apabila kita selalu mengingat itu akan menimbulkan fadilah dan kebaikan atas diri dan hati kita salah satunya kita tidak terlalu banyak berangan-angan tentang dunia, dan akan menimbulkan sifat zuhud dari dunia yang fana’ ini, merasa cukup apa yang telah Allah berikan berupa rizki buat kita (qona’ah), lebih cinta kepada akhirat dan rajin beribadah kepada Allah, dan selalu berbuat kebaikan hanya ingin mendapatkan keridhaan Allah SWT. Ini semua apabila kita selalu mengingatkan atas diri kita, kita akan menghadapi kematian. Nabi Muhammad Saw bersabda:

Perbanyaklah kalian mengingat atas kematian. Mengingat kematian bukan hanya di lisan saja yang mengatakan, kita akan mati, kita akan mati, itu sangat sedikit sekali manfaatnya, harus dipikirkan dan dimasukkan di dalam hati kita, berpikir nanti bagaimana menghadapi sakarotul maut? Bagaimana keadaan kita ketika sakarotul maut? Dan apa persiapan kita ketika maut menjemput kita?. Apa dalam khusnul khotimah atau tidak!.

Sebagian Ulama’ Salaf mengatakan: Lihatlah setiap sesuatu yang baik, yang kira-kira sesuatu itu merupakan suatu kebaikan dan sesuatu itu akan medapatkan ridha Allah dan Rasulnya dan engkau suka mati dan keadaan itu, maka lazimkan sesuatu itu atau perbanyaklah berusaha tidak meninggalkannya, seperti contoh membaca al-Quran tentunya kita senang dan berharap meninggal dalam keadaan membaca al-Quran maka lazimkan membacanya setiap waktu, sebab kita tidak tahu kapan kita akan meninggal dunia.

Begitu pun sebaliknya apa bila kita takut mati dalam keadaan tidak di-ridha-i Allah maka jauhkan hal-hal yang bisa menimbulkan murka Allah dan bisa menyebabkan kita mati dalam suul khotimah. Adapun takut atas mengahapi kematian itu merupakan sifat manusia, karena membayangkan sakitnya, dosanya, dan terpisah dengan orang-orang yang kita kasihi. Siapa orang yang rindu, kangen dan cinta ingin bertemu dengan Allah, maka Allah pun akan rindu ingin bertemu denganya, dan barang siapa yang tidak mau atau benci bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak mau bertemu denganya.

Assayidah ‘Aisyah r.a berkata kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, kami semua takut akan kematian, maka Nabi Muhammad SAW menjawab: Sesungguhnya orang yang beriman apabila mengahapi sakarotul maut diberikan oleh Allah SWT kabar gembira dengan rahmat Allah dan kasih sayang Allah, sebaliknya apabila orang tidak beriman atau orang kafir apabila datang ajalnya akan diberikan kabar gembira berupa azab Allah,” jawab Zayan dengan jelas.

Setelah mendengar penjelasan dari Zayan. Aku terdiam sejenak. Apa yang harus aku lakukan? Duh, aku bingung? Ya, Allah, bagaimana bisa selama ini aku gunakan waktuku untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Hal yang sia-sia. Untuk hal-hal yang justru menjauhkanku dari-Mu. Malah diriku lebih memilih untuk mendekatkanku kepada kekasihku, Farha. Bersibuk diri dalam berpacaran. Sementara aku tidak bersibuk diri dalam mencari ridha-Mu.

Ketika semakin lama kubertanya kepada diriku sendiri, aku mendapatkan kesadaran bahwa suatu saat semua akan menuju pada satu titik yang akhir, yaitu kematian. Ketika kita telah sampai di titik terakhir itu, yang ada hanya menyisakan sepi. Semuanya akan kembali kepada Illahi. Dan akan dimintai pertanggungjawabannya setiap perbuatan yang kita berbuat di dunia kelak di akhirat nanti.

“Yan, aku ingin berubah…” Inilah kata-kata yang aku lontarkan kepada Zayan.

“Berubah?”

“Maksudnya apa, Akh?” imbuh Zayan.

Gue ingin belajar agama, Yan. Gue malu kepada diri gue sendiri. Sungguh gue malu kepada Allah, Yan. Sebagai muslim, gue belum mampu menjadi muslim yang kaffah. Tolongin gue, Yan”

Sejenak Zayan diam. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Temanku Zayan hanya melihatku, dan kurasakan tatapannya itu menembus qolbu-ku.

“Bagaimana, Yan..? Loe bisa bantu gue?”

Zayan hanya tersenyum. Kemudian Zayan mendekapku. Inilah kali pertama aku didekap oleh laki-laki.

Seusai Zayan mendekapku. Dia berkata: “Akh, apa yang lebih menyenangkan hati seorang sahabat, kecuali melihat saudaranya itu menjadi muslim yang sejati? Semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya kepada Akh Zuhdi. Hasrat antum untuk berubah adalah kuasa-Nya. Allah tidak melihat siapa antum. Kalau hidayah Allah sudah datang tak seorang pun yang sanggup mencegahnya. Sujud syukur lah Akh kepada Allah. Allah telah menyaksikannya.”

Aku pun bersujud. Bersyukur kepada Allah. Tak henti-hentinya aku ucapkan hamdalah. Beberapa kemudian aku pun bangkit dari sujudku.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan…?”

“Kalau begitu Akh Zuhdi bisa bergabung di kelompok kami.”

“Kelompok apa?” tanyaku.

“Maksudnya di halaqah-nya kita. Seperti ta’lim saja, Akh.

“Tempatnya di mana?” tanyaku kembali.

“Kami biasanya berkumpul di masjid An-Nahl. Masjid di Pondok An-Nahl. Nanti yang menjadi murabbi-nya adalah Kang Luthfie. Beliau yang nantinya mengarahkan kita semua”

“Tapi, Yan…?”

“Tapi kenapa, Akh?”

Gue malu, Yan. Gue kan nggak bisa ngaji? Betapa memalukan seorang yang tidak bisa mengaji seperti gue ini bergabung di ta’lim kalian dan menjadi bagiannya?”

Zayan tersenyum. “Masalah mengaji, nanti juga diajarkan kok sama Kang Luthfie. Kami juga dulunya tidak bisa mengaji. Sama seperti Akh Zuhdi. Ikut ya, Akh?”

“Bagaimana kalau nanti teman-teman menertawakan kebodohanku dalam membaca al-Qur’an?”

Insyaallah tidak ada seorang pun yang menertawakan Akh Zuhdi, kecuali Akh Zuhdi melawak di ta’lim nanti,” Zayan mencoba mencairkan keraguanku, “kalau pun akh Zuhdi malu, kenapa coba harus malu terhadap sesuatu yang memang belum bisa Akh Zuhdi kerjakan? Saya yakin sekali, kalau Akh Zuhdi mau belajar, pasti bisa.”

Zayan benar. Aku bulatkan tekadku. Kuucapkan kalimat basmalah dalam hati.

“Kapan gue bisa ikut ta’lim dengan loe, Yan?”

“Insyaallah jadwal ta’lim-nya setiap malam minggu, dan Insya Allah rutin.”

“Iya sudah malam minggu nanti gue mau ikut di ta’lim kalian”

“Terima kasih, Yan,” imbuhku.

“Iya sama-sama, Akh.

Aku ajak Zayan untuk berjabat tangan sambil tersenyum.

==**==

Sabtu, tanggal 27 Desember 2008, pukul 19.15 WIB. Usai shalat isya, aku teringatkan satu janji dengan Zayan. Janji yang aku tunggu-tungu sejak minggu kemarin. Malam ini, tepatnya nanti pukul 20.00 WIB ada jadwal ta’lim. Namun, Zayan sering menyebutnya halaqoh atau liqo. Karena sekarang masih pukul 19.35 WIB, artinya ada waktu dua puluh lima menit untuk menyiapkan perlengkapan apa saja yang mau kubawa. Sementara aku lihat Zayan sedang membaca al-Qur’an.

Beberapa menit kemudian, aku bertanya kepada Zayan. Apa saja yang harus aku persiapkan untuk liqo nanti. Kata Zayan, cukup membawa mushaf al-Qur’an dan alat tulis seperti buku dan pena saja. Kemudian aku cari mushaf-ku yang aku simpan di antara buku-buku yang tertata rapi di rak buku. Aku ambil mushaf itu, kemudian aku simpan di tas hitamku. Sebelumnya, aku bersihkan terlebih dahulu mushaf-ku. Karena mushafku berdebu. Sejak aku membeli mushaf ini hingga sekarang aku telah menelantarkannya. Aku diamkan begitu saja di rak buku. Sebab, kalau pun aku membacanya aku harus paham dulu tulisan Arabnya. Karena aku belum bisa membaca tulisan Arab.

Sangat ironis sekali kalau sekarang aku lebih suka membawa komik kartun, novel barat yang tebal-tebal di tas dan dalam tentengan, dengan bangga aku membawa buku-buku karya penulis barat, Harry Potter, buku-buku Kahli Gibran, novel-novel cengeng. Kenapa ya? tanyaku dalam hati.

Seolah-olah aku malu dan minder ketika menenteng ataupun membawa al-Qur’an dalam tas. Padahal aku seorang muslim. Sementara mereka orang Kristiani dengan bangga membawa al-Kitabnya dan menentengnya kemana pun mereka pergi.

Duh, Gusti Allah, ampunilah aku atas kelalaianku akan kewajibanku untuk menyembah dan beribadah kepada-Mu.

Duh, Gusti, Engkau Maha Mengetahui. Saksikanlah bahasa hatiku ini. Yang hanya bisa menjerit kepada-Mu. Hingga aku tidak mendapatkan nikmat untuk mendekati-Mu. Kepada siapakah aku harus mengeluh jika bukan kepada-Mu? Engkaulah tempat bergantung. Tempat aku mengharapkan pertolongan. Sungguh aku malu kepada diriku sendiri. Terlebih kepada-Mu. Karena aku telah men-dzolimi diri sendiri.

Terpujilah nama-Mu, ya Rabb. Dengan rahmat-Mu aku bermohon dan memuji. Cintailah diriku, sebagaimana Engkau mencintai hamba-hamba yang bertakwa kepada-Mu. Jagalah aku, sebagaimana Engkau menjaga para kekasih-Mu. Kuatkan aku dengan Cinta-Mu itu. Aku yakin, dan sungguh merasa yakin akan kekuatan Cinta-Mu. Cinta-Mu pasti akan menguatkanku. Dan sampaikanlah sholawatku beserta salamku ini kepada kekasih-Mu dan keluarganya yang suci. Murabbi segala murabbi, dialah baginda Nabi Muhammad Saw. Nabi terakhir ummat Islam.

Kenapa kita seolah-olah merasa ketinggalan zaman ketika kita membaca al-Qur’an? Sementara orang lain membaca buku-buku karya penulis barat. Kenapa seolah-olah buku-buku bacaan, koran dan surat kabar justru menjadi menu wajib sehari-hari di ruang baca kita, sementara al-Qur’an tak lebih dari sekedar pajangan di rumah kita yang kita, pajang di rak buku sampai debu-debu menghiasinya saking tak pernah dibacanya, gumam hatiku.

Sejak aku membeli mushaf hingga sekarang mushaf pun hanya aku pajang di rak buku sampai debu pun menghiasinya. Saking tidak pernah aku baca.

Sebentar lagi jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Kami -aku dan Zayan- bersegera untuk berangkat ke tempat halaqoh dengan tepat waktu. Kami berangkat ke sana naik motor.

Jarak antara kostanku dengan pondok An-Nahl hanya dua kilometer. Hanya butuh beberapa menit saja kami pun sampai di depan pondok An-Nahl.

Aku buka pagar pondok dan melangkahkan kaki ke dalam lingkungan pondok. Kami langsung menuju ke masjid An-Nahl di mana letaknya tepat di samping pondok An-Nahl.

Sesampai di depan masjid terlihat di dalam masjid sana sudah kumpul beberapa teman halaqoh-nya Zayan. Dan aku pun melihat di dalam sana Kang Luthfie sebagai murabbi, beliaulah yang akan mengisi halaqoh kita nanti.

Assalamu’alaikum,” serempak salam kami pada seisi masjid.

Walaikumsalam,” serentak jawab mereka.

Kang Luthfie yang pertama kali aku ajak jabat tangan. Kemudian disusul dengan teman-teman.

“Maaf ustadz, telat!” ucapku dengan senyum.

Nggak kok, Akh! Baru aja dimulai,” jawab salah satu sahabat yang di samping Kang Luthfie.

Sewaktu aku dan Zayan datang, Kang Luthfie sedang memberikan materi.

“Al-Qur’an adalah ibarat air dalam kehidupan ikan, ikan hanya bisa hidup di dalamnya. Mulai dari plankton ikan yang terkecil, sampai ikan hiu, atau jenis mahluk air apapun hanya dapat tinggal jika airnya mencukupi, mereka akan dengan segera mati ketika terjebak dalam air yang dangkal atau terseret oleh gelombang laut, tak peduli ikan apa itu, ketika ia tidak berada di air, ikan itu Insya Allah akan mati dengan segera,” sejenak kang Luthfie menghentikan penjelasannya.

Sesudah menghela nafas, Kang Luthfie melanjutkannya. “Ikhwah Fillah, al-Qur’an itu ibarat air, maka kita, yang mengaku orang Islam ibarat ikannya. Bayangkan kembali bagaimana menderitanya ikan yang berada di air dangkal yang tidak sesuai dengan porsinya, atau renungkan kembali ikan yang terseret gelombang ke daratan, ia pasti akan mati. Kembali pada kita, mungkinkah kita hidup tanpa al-Qur’an? Jawabannya, Insya Allah mungkin. Tapi kalau ditanya lagi, selamatkah kita hidup tanpa al-Qur’an? Jawabanya, Insya Allah kita akan segera “mati”. Sama persis seperti ikan yang kehabisan air. “Mati” di sini bukan hanya berarti kematian secara syari’at di mana ruh kita diambil kembali oleh pemilik-Nya dan jasad kita dikubur dalam tanah. “Mati” di sini dapat berarti mati hatinya, mati aqidahnya, mati rasa kemanusiaanya, mati pendengaran dan penglihatan bathinnya. Sehingga kita hanya akan menyerupai mayat yang bisa berjalan, yang punya hati tapi tak merasa, punya mata tapi tak melihat, punya telinga tapi tak mendengar kalamullah, mati, karena memang mata, hati, dan pendengaran kita ditutup oleh Allah.”

Kemudian Kang Luthfie langsung menutupnya dengan ucapan salam “Assalamu’alaikum Wr. Wb.”

Syukron jazakumallah khoir kepada Kang Luthfie yang sudah memberikan tausiyah singkatnya. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari materi yang baru saja Kang Luthfie sampaikan itu. Karena kita butuh syafaat, maka dari itu kita harus sering-sering membaca al-Qur’an. Dengan membaca al-Qur’an akan didapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. Di samping itu, akan melahirkan kebersihan jiwa, kejernihan perasaan dan mempertebal ketakwaan. Membaca al-Qur’an merupakan kebaikan dan merupakan syafaat yang akan diberikan pada hari Kiamat kelak. Seperti sabda Rasulullah Saw, yaitu Bacalah al-Qur’an, karena pada hari Kiamat, al-Qur’an akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya. Lebih-lebih kita bisa menghafalkannya. Karena menghafal al-Qur’an merupakan keutamaan yang besar. Melalui hafalan, hati akan lebih hidup dengan cahaya kitabullah, manusia juga akan segan dan menghormatinya. Bahkan dengan hafalan itu, maka derajat kita akan ditinggikan oleh Allah. Semakin banyak hafalan semakin ditinggikan derajat kita, sesuai dengan banyaknya hafalan yang kita miliki selaku umat muslim,” ucap singkat pemuda yang di samping kanan kang Luthfie.

Kemudian pemuda tersebut mengutip satu hadits lagi sebagai penutup, hadits yang diriwayatkan dari Abu Dawud dan Tirmidzi, “Dikatakan kepada orang yang menghafal al-Qur’an, bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia dengan tartil. Karena kedudukanmu (di surga) sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.”

Itulah kalimat terakhir dari pemuda yang berada di samping kanan Kang Luthfie. Entah siapa namanya. Aku pun tidak tahu. Karena diriku belum berkenalan dengan teman-teman yang ada di sini. Termasuk dengan pemuda tersebut. Pikirku, mungkin di akhir pertemuan ta’lim ini baru kita saling memperkenalkan diri.

==**==

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: