Novel Pesan untuk Nai (part6)

6

Belajar Membaca Al-Qur’an

Benar tebakanku. Sebelumnya Zayan memperkenalkanku kepada Kang Luthfie, kemudian kepada teman-teman yang lainnya.

Setelah kami berkenalan. Aku pun langsung disambut dengan ramah oleh Kang Luthfie dan teman-teman pengajian.

“Sebelumnya ana minta maaf, untuk pekan depan ana tidak bisa mengisi halaqah. Pekan depan ana mau ke luar kota selama lima hari. Nanti ana kasih tugas saja. Untuk dua pekan yang akan datang. Nanti tugas itu dikumpulkan. Karena kelompok kita belum dibentuk struktur organisasinya maka kita tentukan sekarang. Ana persilahkan antum tentukan bersama-sama siapa saja yang mau bersedia menjadi mash’ul (ketua), sekretaris dan bendahara di halaqah kita ini,” ucap kang Luthfie.

Sesuai instruksi dari Kang Luthfie agar kami segera membentuk struktruk organisasi, maka kami pun langsung merundingkannya dengan cara bermusyawarah.

Setelah kami bermusyawarah selama sepuluh menit, akhirnya didapatlah hasil dari musyawarah itu. Yaitu terpilihnya Khalil Zayan sebagai ketuanya, Khasyi’ Salahuddin sebagai sekretaris, dan Khaliq Junaidi Akmal sebagai bendahara liqo. Mereka bertiga pun bersedia atas terpilihnya mereka.

Aku bangga sebagai teman dekatnya Zayan. Menurutku, Zayan memang pantas menjadi ketua di liqo. Dia baik, dia mempunyai jiwa kepemimpinan, dan pengetahuan tentang Islam pun banyak dikuasainya.

Setelahnya terbentuk struktur organisasi, Kang Luthfie langsung menutup halaqah ini dengan ucapan hamdalah, istighfar dan doa akhir majlis.

==**==

Sesampai di kostan. Jarum jam menunjukkan pukul 21.30. Zayan aku ajak bicara. Yang aku bicarakan adalah masalah membaca al-Qur’an. Sungguh aku hanya bisa diam dan mendengar saja sewaktu Kang Luthfie dan Akmal menerangkan tentang keutamaan membaca al-Qur’an dan menghafal al-Qur’an.

“Boro-boro menghafal membacanya juga aku belum bisa.” Itulah kata hatiku yang sejujur-jujurnya.

Langsung saja aku meminta kepada Zayan, apakah dia bersedia mengajari aku belajar membaca al-Qur’an dengan segala ketidaktahuanku ini atau tidak.

Setelah mendengar jawaban dari Zayan senyumku tertoreh dalam kesenangan atas ketersediaannya Zayan untuk mengajariku.

“Terima kasih Yan, terima kasih Yan.” Ucapan itu berulang aku lontarkan.

Sesaat kemudian, aku bertanya kembali kepada Zayan, “kalau mulai belajarnya besok, bagaimana Yan?”

“Boleh…”

Alhamdulillah, terima kasih, Yan”.

“Sama-sama Akh…”

Rasa kantukku secara mendadak hilang karena saking senangnya sebentar lagi aku mau belajar membaca al-Qur’an. Ya Allah, terima kasih Engkau telah memberikan kesempatan untukku. Kesempatan untuk hidup dan matiku. Sungguh nikmat ini, nikmat yang tiada tandingannya.

==**==

Keesokan paginya. Pukul setengah delapan pagi. Tepatnya setelah kami -aku dan Zayan- selesai mandi. Lalu Zayan mengambil buku Panduan Tahsin Intensif terbitan BAQI Publishing.

Kami berdua duduk di atas lantai saling berhadapan. Kemudian Zayan memaparkan tentang keutamaan al-Qur’an yang isinya tentang keutamaan belajar dan mengajar al-Qur’an serta keutamaan tilawah al-Qur’an.

“Di antara keutamaan belajar dan mengajarkan al-Qur’an yang pertama adalah amal yang terbaik,” ucap Zayan.

“Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari. Yaitu dari Utsman bin Affan r.a, dari Nabi SAW telah bersabda: Sebaik-baik kami sekalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya,” lanjut Zayan.

Itulah kata pembukaan dari Zayan ketika aku belajar al-Qur’an kepadanya. Kata ini juga yang membuatku semangat untuk terus belajar dan belajar.

“Kemudian yang kedua, barangsiapa yang berkumpul di suatu masjid dari masjid-masjid Allah, lalu mereka membaca al-Qur’an dengan mempelajarinya, maka akan turun kepada mereka ketentraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah senantiasa menyebut-nyebut yang ada di sisi-Nya.

Yang ketiga, akan terhindar dari kehancuran. Di mana haditsnya yang diriwayatkan Tirmidzi yang berbunyi: Dari Ibnu Abbas ia telah berkata: Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikit pun dari al-Qur’an pada rongga mulutnya, bagaikan rumah yang rapuh.

Lalu keempat akan mendapat sebaik-baik anugerah Allah. Di mana haditsnya yang berbunyi: Barangsiapa yang sibuk dengan al-Qur’an (melebihi dari pada sibuk) dengan dzikir dan memohon (berdo’a) kepada Allah, pasti Allah akan berikan kepadanya karunia yang lebih utama dari yang Allah berikan kepada orang-orang yang memohon (berdo’a). Dan keutamaan kalam Allah di atas semua ungkapan, laksana keagungan Allah diatas semua makhluk-Nya (HR. Tirmidzi).

Dan yang terakhir, yang kelima yakni akan mendapatkan keistimewaan di hadapan makhluk. Hadits yang kelima ini riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi: Tidak ada hasud kecuali kepada dua perkara: Seseorang yang diberi Allah al-Qur’an, maka ia mengamalkannya siang malam. Dan seseorang yang diberi harta, maka ia menginfakkannya siang malam.

Setelahnya Zayan memberikan motivasi tentang keutamaan belajar dan mengajarkan al-Qur’an beserta hadits-haditsnya, lalu Zayan pun menyebutkan beberapa adab dan etika dalam membaca al-Qur’an sebelum memulai membaca al-Qur’an.

Telah disebutkan, beberapa adab dan etika seseorang ketika dalam membaca al-Qur’an oleh Zayan. Pertama, sebelum membaca al-Qur’an, hendaknya membersihkan mulut dengan siwak atau lainnya. Kedua, diutamakan bagi yang membaca al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadas besar maupun kesil. Ketiga, membaca al-Qur’an disunahkan di tempat yang bersih dan terpilih. Keempat, menghadap kiblat, diutamakan bagi pembaca al-Qur’an di luar shalat. Kelima, memohon perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan A’uudzu billaahi minasy-syaithaanir rajiim. Keenam, membaca basmalah. Ketujuh, bersikap khusyu’ dan merenungkan maknanya ketika membaca. Dan yang terakhir, membaca al-Qur’an dengan tartil (tidak tergesa-gesa).

Maka, setelah Zayan selesai memberikan tausiyah singkatnya, lalu baru ke tahap selanjutnya. Tahapan untuk belajar  membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Langsung saja, aku memulainya dengan membaca basmalah.

Yang pertama kali aku pelajari adalah huruf-huruf hijaiyah. Huruf alif adalah huruf pertama dari huruf-huruf hijaiyah. Dan masih banyak lagi huruf hijaiyah tersebut. Alhamdulillah, aku bisa menghafal semua huruf hijaiyah 30 huruf dalam waktu 60 menit. Aku tidak peduli, apakah waktu sebanyak itu terlalu lama atau standar untuk menghafalkan semua huruf hijaiyah.  Yang penting, akhirnya aku bisa menghafal semua huruf itu. Meskipun dalam pengucapan aku sering terbata-bata. Itu artinya aku mendapatkan pahala yang lebih, karena aku terbata-bata dalam mengucapkan huruf Arab dan al-Qur’an.

Sungguh pagi ini, dengan disaksikan Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, akhirnya aku dipermudah untuk menghafal huruf-huruf hijaiyah ini. Dengan diulang-ulang terus hafalanku ini, aku seperti sedang menikmati kesedihannya para setan dan iblis yang hari ini telah menyaksikanku, melihatku mempelajari al-Qur’an dikarenakan aku telah diberi petunjuk oleh Allah SWT lalu mempelajarinya hingga aku tekadkan dalam keinginan untuk dapat membaca al-Qur’an dan as-sunnah.

Lalu kuresapi apa yang aku baca. Kuucapkan dengan secara berulang-ulang hingga Zayan menguji hafalanku. Namun, aku tetap bisa menyebutkan huruf-huruf hijaiyah secara acak dan juga berdasarkan bentuknya. Semua itu aku baca tanpa kesalahan.

Alhamdulillah,” ucapku.

Sungguh ini adalah keberkahan dari Allah SWT kepadaku. Aku yakin, jika kita berniat untuk bersungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkannya. Allah akan mempermudah setelah kesulitan.

“Hebat Akh, antum bisa menghafal huruf-huruf hijaiyah dalam waktu sejam,” ucap Zayan.

“Iya, Yan, aku bersyukur sekali bisa menghafal huruf Arab yang awalnya aku tidak tau sama sekali dengan huruf Arab ini.”

“Kalau begitu, besok kita lanjutkan lagi belajarnya. Bagaimana, akh?” tanya Zayan.

Ok, Yan. Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih banyak.”

“Kembali kasih, akh…hehe…”

“Emang masih banyak ya Yan yang mesti aku pelajari dari al-Qur’an ini?” tanyaku.

“Bisa dibilang begitu, Akh. Malah selama kita masih hidup kewajiban untuk menuntut ilmu itu tetap ada dan harus dilakukan dengan bersunguh-sungguh.”

“Oh begitu ya Yan?”

“He-eh”.

“Besok aku belajar apa lagi, Yan?”

“Besok, Akh Zuhdi belajar harakat-nya.”

Harakat? Memang harakat apa Yan?”

Kemudian Zayan menjelaskan kalau huruf-huruf hijaiyah itu akan dapat dibaca oleh kita apabila huruf-huruf hijaiyah tersebut ber-harakat dan berangkaian antara huruf hijaiyah yang satu dengan huruf yang lainnya.

“Terus setelah itu apalagi?”

“Semangat banget nih akh Zuhdi?”

“Iya Yan, aku ingin sekali bisa baca al-Qur’an. Makanya aku bersemangat”.

“Saya juga jadi ikutan semangat Akh lihat Akh Zuhdi bersemangat begitu. Bagaimana kalau belajarnya kita lanjutkan saja sekarang? Kebetulan saya lagi nggak ada agenda, Akh,” ucap Zayan.

“Siap, Yan.”

Kami pun melanjutkan belajar al-Qur’annya.

==**==

Pukul setengah sembilan. Kemudian Zayan menjelaskan terlebih dahulu tentang teorinya, bahwa dalam bahasa Arab, setiap kata ditulis dalam bentuk yang bersambung. Artinya, huruf-huruf hijaiyah digabung menjadi satu. Tidak ada bentuk kapital pada tulisan bahasa Arab. Oleh sebab itu, huruf-huruf ditulis dalam empat bentuk yang berbeda, ada yang bentuk di awal, bentuk di tengah, bentuk di akhir, dan bentuk terpisah.

Berkat Zayan memberikan contoh bentuk huruf-hurufnya dalam bentuk tabel. Alhamdulillah aku dapat memahaminya dengan baik. Dan yang harus diingat bahwa bahasa Arab ditulis dari sisi kanan ke sisi kiri. Kebalikannya kalau kita menulis huruf alphabet.

“Perhatikan bahwa enam huruf berikut: alif (A), dal (D), dzal (Dz), ra (R), za (Z), waw(W), yaitu huruf-huruf yang ditandai dengan warna merah pada tabel, memiliki bentuk tengah dan akhir yang sama. Ini berarti, apabila huruf-huruf tersebut berada di tengah atau awal kata, maka huruf-huruf tersebut tidak dapat digabung dengan huruf yang ada setelahnya. Dan apabila salah satu huruf dari enam huruf yang disebutkan di atas berada setelah huruf lain yang sekelompok dengannya, maka huruf yang kedua ditulis dalam bentuk terpisahnya. Contohnya seperti yang saya tulis ini” ucap Zayan sambil menuliskan contoh dibuku tulis.

“Bagaimana Akh, bisa?” tanya Zayan.

“Hmmm…iya-iya paham, Yan,” jawabku.

“Lanjut?” tanya Zayan kembali.

“Lanjut…”

“Yang terakhir, ketika huruf alif ada setelah huruf lam, maka keduanya ditulis dalam bentuk yang berbeda dengan contoh yang ini,” Zayan sambil menunjukkan contohnya yang ia tulis.

“Hal ini berlaku baik saat alif berada di tengah atau akhir kata. Ini adalah contoh huruf lam yang digabung dengan huruf alif. Dibacanya: laa,” lanjut Zayan.

Aku perhatikan apa yang dikatakan oleh Zayan dan contoh yang Zayan tuliskan dibuku. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami cara menyambung huruf-huruf hijaiyah ini. Sehingga menjadi suatu rangkaian huruf-huruf hijaiyah.

Waktu terus bergulir. Aku masih terus belajar dan masih terus berkonsentrasi dengan apa yang diajarkan oleh Zayan kepadaku.

Menit demi menit pun berlalu, hingga waktu pun sudah berjalan dua jam lebih lima belas menit. Sungguh tidak terasa waktu begitu cepat.

==**==

“Oh iya Yan, sebentar lagi kan pukul sebelas. Sepertinya kita sudahi dulu saja belajarnya. Bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja?Kita pun belum masak nasi,” ucapku tiba-tiba,“nanti yang masak nasi aku saja.”

“Iya Akh, tapi sebelumnya mari kita tutup terlebih dahulu pelajaran hari ini dengan mengucapkan hamdalah.”

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…..” ucap kami berdua serentak.

Aku pun masak nasi. Kemudian kutinggal saja hingga matang. Hanya menunggu beberapa menit saja, akan memasuki waktu shalat Dzuhur.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 12.15, Zayan mengajakku pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjama’ah.

Namun sesampai di masjid. Masjid yang di dekat kostan kami, masjid Husnul Khotimah. Ternyata kami ketinggalan shalatnya. Tapi, masih ada seorang jama’ah yang masih berdiri melaksanakan shalat.

Kemudian Zayan menepuk pundak orang itu. Mengikutinya di belakang. Karena aku tidak paham soal makmum yang ketinggalan. Aku pun ikut-ikutan saja dulu. Selesai shalat nanti aku tinggal bertanya saja soal ini kepada Zayan. Aku yakin, Allah juga akan memahami ketidaktahuanku ini.

Allahu akbar” ku ucapkan takbir.

Beberapa kemudian. Imam salam. Namun setelah tasyahud, Zayan berdiri kembali.  Aku bingung. Sungguh aku tak tahu.Masih dalam keadaan shalat aku terus bertanya-tanya. Apa yang harus aku lakukan? Apa?

Ya Allah, berilah aku petunjuk.  Setelah aku menenangkan diri, akhirnya aku dapat jalan keluarnya. Iya, mungkin jalan keluar ini baik untukku saat ini.

Jalan keluarnya adalah mengikuti atau mencontoh setiap gerakan yang dilakukan oleh Zayan. Ketika Zayan ruku, aku pun ikut ruku. Zayan sujud, aku ikut sujud juga. Terus saja aku begitu, mengikutinya dengan jeda beberapa detik dari gerakannya Zayan.

Hingga akhirnya Zayan mengakhiri shalatnya dengan salam. Aku pun begitu. Salamku, setelah salamnya Zayan. Dalam hatiku, kuucapkan terima kasih kepada Allah yang sudah memberikan ketenangan saat aku bimbang dalam shalat.

Selesai menjalankan shalat dzuhur. Kami tidak langsung pulang ke kostan. Tapi, kami berencana untuk mampir dulu ke warung nasi untuk membeli lauk pauk, untuk makan siang hari ini.

Sambil berjalan, aku bertanya masalah yang tadi ke Zayan. Masalah menepuk pundak seseorang yang lagi shalat, lalu kita mengikutinya dibelakang. Apakah itu dibenarkan atau tidak?

Pertanyaan inilah yang mengganggu pikiranku selama menjalankan shalat Dzuhur tadi. Kemudian Zayan menjawab pertanyaanku itu.

Zayan menjelaskan bahwa yang menepuk itu bermaksud ingin berjama’ah, otomatis yang ditepuk menjadi imam dan yang menepuk menjadi makmum. Dan imam akan mengeraskan suara apabila akan berganti gerakan shalatnya. Kalau yang menepuk cuma satu orang, dia akan berdiri disebelahnya tapi agak mundur sedikit. Dan apabila ada lagi yang mau gabung berjamaah, dia akan menepuk pundak makmum itu, dan makmum akan mundur sejajar dengan orang yang barusan menepuknya.

“Begitu, Akh, yang saya ketahui,” jawab Zayan.

Wallahua’lam, apakah ada dalilnya atau tidak. Karena saya belum menemukan dalil untuk masalah itu. Tapi kalau Akh Zuhdi tidak puas dengan jawaban saya. Akh Zuhdi bisa menanyakan kembali masalah ini ke ustadz yang memahami akan hal itu,” imbuh Zayan.

“Oh begitu ya, Yan. Mungkin untuk saat ini aku sudah puas kok dengan jawabamu itu. Nanti kalau ada kesempatan lagi, aku mau nanya ke ustadz. Seperti yang kamu sarankan, Yan”

“Iya Akh…” jawab singkatnya.

Sesampai di warung nasi. Aku dapati tak seorang pun yang sedang membeli diwarungnya ibu Rini. Pikirku mungkin nanti juga banyak yang beli. Karena biasanya juga di warung ibu Rini ramai dengan mahasiswa UPG, terutama jurusan FPOK. Dan sering sekali aku bertemu dengan beberapa teman yang sekelas denganku di warung ini.

Kadang ikutan bercanda dengan mereka. Kadang juga kalau lagi kumpul-kumpul, mereka mengobrolkan masalah cewe.  Karena cewe katanya itu perhiasan dunia. Makanya suka jadi bahan obrolan. Karena saking berharganya cewe bagi cowo. Begitu kata salah satu temanku.

Tapi yang aku tahu, perhiasaan dunia itu adalah wanita sholehah. Bukan semua cewe. Karena manusia hanya ada dua. Baik dan tidak baik. Begitu juga ada yang sholeh/sholehah dan tidak sholeh/sholehah.

“Ibu, seperti biasa. Telur dua sama sayur sawinya juga dua,” ucapku.

“Kalau A Zayan?” tanya ibu Rini.

“Ikan tongkol, telur, dan tumis kangkungnya, Bu. Tapi tumis kangkungnya bikin dua bungkus,” jawab Zayan.

Ibu Rini langsung melayani kami berdua. Setelah lauk pauk terbeli. Kami langsung beranjak ke kostan.

Setiba di kostan. Kami makan. Lalu selesai makan. Kami istirahat sejenak sambil menonton berita di televisi.

“Awas! Gelombang Tinggi 2-5 M Tanggal 28-30 Desember 2008.” Itulah tema beritanya.

Diberitakan bahwa gelombang setinggi dua sampai lima meter mengancam beberapa perairan Indonesia, pada 28-30 Desember 2008. Gelombang ini berbahaya bagi perahu nelayan, tongkang, tugboat, roro, LCT dan ferry. Demikian disampaikan Kasi Data & Informasi Klas I Tanjung Priok Stasiun Meteorologi Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sugarin dalam keterangan tertulis tentang peringatan dini gelombang tinggi pada hari Minggu (28/12/2008).

Tinggi gelombang dua sampai tiga meter mengancam yaitu, Laut Natuna, Perairan barat Nias-Enggano, Perairan barat Bengkulu, Perairan barat daya Selat Sunda, Samudera Hindia selatan Jawa-Bali-Nusa tenggara, Laut Jawa, Perairan Sulawesi Selatan, Laut Bali, Laut Flores, Perairan Selatan Rote, Laut Sawu, Laut Sulawesi, Perairan Sangihe-Talaud, dan Laut Halmahera.

Sedangkan tinggi gelombang tiga sampai empat meter yang berbahaya bagi semua jenis kapal terjadi di Laut China Selatan dan Laut Filipina.

Beberapa kemudian. Selesai nonton acara berita. Aku meminta kepada Zayan untuk mengajari belajar al-Qur’an kembali. Zayan pun mengiyakan. Dan dia langsung mengambil alat tulis beserta meja kecil.

Bismillahirrahmaanirrahiim…” Zayan mengawalinya dengan membaca basmalah. Lalu aku mengikutinya membaca basmalah.

“Dalam pelajaran kali ini, kita akan memiliki beberapa contoh tentang bagaimana huruf-huruf tersebut digabungkan untuk membentuk sebuah kata: Contoh 1, Mari kita mulai dengan kata yang sederhana: Misalnya, kata “syam” yang artinya matahari, yang terdiri atas huruf-huruf berikut: huruf “syin“, kemudian “mim” dan akhirnya “sin” ,“ucap Zayan.

“Pertama, kita mulai dengan huruf “syin” dalam bentuk awalnya, seperti ini. Kemudian, huruf “mim” dalam bentuk tengahnya, seperti ini. Dan yang terakhir, huruf “sin” dalam bentuk akhirnya, seperti ini,” imbuh Zayan.

“Bagaimana, Akh? Sudah paham belum? Kalau masih belum paham, nanti saya ulangi lagi dari awal pembahasan” tambah Zayan kembali.

“Iya, aku coba dulu saja ya, Yan?” jawabku.

“Iya silahkan boleh, Akh.”

“Ingat Akh, menulisnya dari kanan ke kiri,” imbuh Zayan.

Okee…” jawab singkatku.

Setelah aku mencoba menggabungkan huruf-huruf tersebut, ternyata aku bisa. Aku bahagia sekali. Sungguh.

“Setelah menggabungkan huruf-huruf tersebut, maka kita mempunyai kata “syams“, Akh,” kata Zayan dengan tenang.

“Sekarang mari kita coba kata yang lain. Bagaimana menulis nama Akh Zuhdi sendiri? Coba deh, Akh!” imbuh Zayan.

Sebelumnya, Akh Zuhdi menulisnya dengan dimulai dengan huruf z, yang setara dengan huruf “za” dalam bahasa Arab. Huruf berikutnya adalah h yaitu “ha” ber-harakat sukun. Kemudian huruf berikutnya lagi adalah d, yaitu “dal”. Kemudian huruf yang terakhir huruf “i” atau “y” yaitu huruf “ya” dalam bahasa Arab.

Sambil mendengarkan ucapan Zayan, aku sambil menulisnya di buku catatanku. Setelah itu, Zayan melihat hasil kerjaanku.

“Iya-iya-iya.. Betul, Akh,” seru Zayan sambil melihat pekerjaanku menulis namaku sendiri memakai huruf Arab.

Alhamdulillah, aku bisa, Yan?” seruku.

“Iya Akh…”

“Sekarang coba Akh Zuhdi, baca dua kata berikut yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang ditulis menggunakan huruf Arab.”

Karena aku baru belajar, lalu aku eja dua kata itu.

Dan aku jawab, “syam-kha sama kha-ba.

“Iya betul Akh…!” seru Zayan. “Saya tidak menyangka, Akh Zuhdi bisa secepat itu menangkap apa yang saya ajarkan. Saya salut sama antum, Akh. Sungguh ini adalah berkah dari Allah SWT kepada Akh Zuhdi. Saya yakin, Akh Zuhdi pasti bisa mempelajari semua ini dengan  cepat dan baik. Karena semangat Akh Zuhdi yang menggebu-gebu itu sehingga menjadikan kemudahan bagi Akh Zuhdi mempelajari al-Qur’an.”

“Iya terima kasih atas pujiannya sekaligus doanya, Yan.”

Lalu Zayan menganggukkan kepalanya. “Sekarang Akh Zuhdi tinggal mempelajari tentang harakat-nya saja.”

“Susah nggak, Yan?” tanyaku.

Nggak kok Akh, saya yakin Akh Zuhdi pasti bisa memahami sampai ke harakat-harakat-nya juga.”

Mendengar ucapan Zayan, semangatku bertambah.

“Iya sudah Akh, kita mulai saja pelajaran tentang harakat. Dalam bahasa Arab, terdapat tiga jenis vokal: Pertama, tiga huruf vokal, yaitu (alif, waw, dan ya) digunakan untuk vokal-vokal yang panjang. Kedua “hamza“. Ketiga, tanda-tanda vokal yang digunakan untuk vokal-vokal yang pendek. Sebagai catatan, untuk membedakan vokal-vokal pendek dengan vokal yang panjang, maka tulisan Arab menggunakan tanda vokal. Hal ini diimplimentasikan dengan menuliskan tanda vokal tersebut di atas atau di bawah huruf. Akan saya tulis contoh huruf “siin” dengan menggunakan empat tanda vokal yang berbeda. Kalau tanda vokal yang diatas huruf dan tandanya seperti garis miring pendek itu disebut “fatha”. Dan kalau tanda yang seperti huruf “waw” kecil di atas huruf seperti ini, namanya “dhommah”, tanda ini diletakan di atas suatu huruf apabila hendak menyuarakanu yang pendek setelah huruf yang bersangkutan.

Sedangkan tanda yang seperti sebuah garis miring pendek di bawah huruf itu namanya “kasra”. Tanda ini diletakkan di bawah suatu huruf apabila hendak menyuarakan i yang pendek setelah huruf yang bersangkutan. Yang terakhir ini, tanda yang seperti lingkaran kecil di atas suatu huruf, namanya “sukuun”. Tanda ini diletakkan di atas suatu huruf apabila tidak ada suara yang harus diucapkan setelah huruf tersebut.”

Begitu Zayan selesai menjelaskan, aku langsung dites. Ternyata, aku juga hafal dengan cepat.

Lalu Zayan melanjutkan kembali penjelasannya. “Catatan: dalam bahasa Arab, kata-kata (seperti: fat-ha, dhomma, kasra, dan sukuun) sesungguhnya memiliki arti sebagai berikut: fat-ha artinya “pembukaan”, dhomma artinya “penutupan”, kasra artinya “pemutusan”, dan sukuun artinya “diam”. Arti kata-kata ini menunjuk kepada bentuk mulut saat pelafalannya.

Sebagai contoh, saya akan membuka mulut dengan lebar saat mengucapkan suara fat-ha, yaitu “a“, dan menutup mulut saat mengucapkan suara dhomma, yaitu “u”, dan diam saat mengucapkan suatu huruf yang memiliki sukuun di atasnya.

Saya ingin Akh Zuhdi mengetahui hal ini, karena menurut saya, ini dapat membantu Akh Zuhdi memahami bagaimana tashkiil (harakat) bekerja. Tanda vokal di sini sangat penting dalam bahasa Arab. Arti suatu kata dapat menjadi sangat berbeda apabila tanda vokal yang digunakan pada suatu huruf diubah. Perhatikan beberapa contoh berikut: dzahaba dengan dzahab. Kalau dzahaba artinya pergi (bentuk lampau), sedangkan dzahab artinya emas, kemudian kutub dengan kataba. Kalau kutub itu artinya buku-buku, sedangkan kataba artinya menulis.”

Zayan berhenti sejenak. Menghela nafas.Kemudian melanjutkan kembali. “Ada dua tanda lain yang digunakan dalam tulisan Arab yang mewakili huruf tambahan, tanda tersebut adalah: Pertama, shadda berarti mewakili huruf yang ganda yang beruntun dan tanda ini berbentuk seperti huruf “siin” kecil dan diletakkan di atas huruf. Sebagai contoh: Berikut ini adalah kata “qishshoh” (yang berarti “kisah”), perhatikan tanda “shadda” di atas huruf “shod“” ucap Zayan sambil menunjukkannya.

Kedua, tanwiin berarti melafalkan huruf “nun” pada akhir suatu kata. Tanwiin memiliki tiga bentuk yang serupa “tashkiil“, tetapi tanwiin hanya diletakkan di atas atau di bawah huruf terakhir kata. Tabel ini menunjukkan “tanwiin” pada huruf “alif”, “ba” dan “ta“. Dan contoh huruf yang di tabel yang sudah diberi tanda tanwiin ini dibacanya: ‘an’, ‘bun’, ‘tin’.”

Zayan diam sejenak. Kemudian memberiku kesempatan untuk bertanya, kalau ada yang belum mengerti. Sekali lagi, aku paham sekali dengan apa yang dijelaskan oleh Zayan dari awal sampai yang ini.

=***=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: