Novel Pesan untuk Nai (part2)

2

Farha, Pacar Pertamaku

Keesokan harinya tepatnya sepulang dari jogging di Pondok Hijau Indah (PHI), sekitar jam sembilan aku langsung pergi ke Gramedia dengan mengendarai Tiger White-ku. Niat untuk membeli mushaf pun aku niatkan kembali. Sesampai di sana, aku singgah dulu di BEC (Bandung Electronic Center) untuk melihat-lihat laptop dan alat elektronik yang lainnya. Siapa tahu ada model baru dan harganya cocok dengan keadaan keuanganku.

Setelah mengelilingi seluruh ruang BEC, aku pun mengakhiri untuk tidak berlama-lama di BEC. Karena tujuan utamaku membeli mushaf Al-Qur’an belum juga aku wujudkan.

Jarak antara BEC dengan Gramedia hanya beberapa meter saja. Sekitar 50 meteran. Aku berjalan kaki menuju ke Gramedia. Sesampai di sana. Aku langsung mengarah ke lantai dua Gramedia. Karena di sana tempat khusus buku-buku tentang agama. Tanpa menunggu waktu lagi kuambil sebuah mushaf al-Qur’an.

Kupikir tujuanku sudah tercapai. Aku langsung menuju ke kassa. Di kassa sudah ada dua orang yang mengantri. Semuanya wanita.

Sesampai di depan kassa. Mataku langsung tertuju kepada salah satu gadis yang tepat sedang berada di depanku. Sungguh wajahnya ayu mempesona. Kulit putih, pipi yang kemerah-merahan bak merahnya bintang di ufuk timur. Rambutnya terurai menyentuh bahunya. Hitam warna rambutnya. Dia gadis berkaos merah dengan setelan jeans yang cocok dengan tubuhnya. Sungguh aku telah jatuh cinta kepadanya saat pandangan pertama kali tertuju kepadanya.

Mungkin ini yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama. Baru kali ini aku merasakan jatuh cinta. Bersamaan dengan ini pula aku baru merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Hati kecilku berkata dia akan menjadi kekasih hatimu Zuhdi. Mungkin ini bisikan cinta. Mulutku tak henti-hentinya menyebut keindahan yang dia miliki.

Orang di depan gadis berkaos merah ini pun keluar dari antrian. Lantas gadis di depanku -gadis pujaanku- melangkah maju ke depan. Aku pun maju mengikuti barisan di belakangnya.

Kulihat dia mengeluarkan keranjang belanjaannya itu. Dia mengeluarkan satu persatu buku yang di keranjang. Setelah aku hitung. Dia membeli buku sejumlah lima buah. Novel Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 yang ia beli, dan sisanya buku tentang matematika.

Tangannya merogoh semua saku celananya. Mungkin ia mencari dompet. Ternyata dompetnya tidak ada di sakunya. Dia izin ke luar bermaksud mengambil dompet di dalam tas. Namun spontan mulutku berkata.

“Kenapa, Teh?” tanyaku.

Nggak apa-apa kok. Sepertinya dompet saya ketinggalan di tas,” jawabnya.

“Oh, kalau begitu pakai uang gue saja dulu. Nggak apa-apa kok.

Gadis ini diam sejenak. Mungkin dia heran. Mungkin juga dia tidak percaya kalau ada orang yang belum dikenalnya tapi dia sudah baik kepadanya.

“Hmm…iya sudah kalau Aa percaya sama saya mah. Nanti di bawah uangnya saya langsung ganti, A. Makasih ya, A.”

Aku jawab dengan senyuman. Dia pun membalas dengan senyum.

Selama perjalanan menuju jalan raya, aku menyengajakan diri untuk jalan kaki. Bermaksud menemaninya untuk mengobrol. Berawal dari sanalah aku dan gadis pujaanku dipertemukan. Luqyana Farha. Nama panggilannya Farha.

Beberepa hari setelah perkenalanku dengan Farha. Aku sering jalan bareng sama Farha. Ternyata Farha juga kuliah di UPG Bandung (Universitas Pendidikan Guru). Dia mahasiswi angkatan 2007. Mahasiswi Pendidikan Matematika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FPMIPA). Farha seangkatan denganku. Tapi umurnya lebih muda setahun dari aku. Karena dia seorang yang berpendidikan maka Farha berbicara dengan nada yang lembut, santun, dan sopan.

==**==

Hari-hariku menjadi cerah. Setelah kedatangan Farha dalam hidupku. Cahaya yang terpancar dari parasnya menerangi jiwaku yang kesepian. Dan semuanya berubah. Yang dulu aku seorang preman kampus kini aku tunduk kepada senyum manisnya saja. Setia dalam cinta. Dan Farha adalah cinta pertamaku.

Waktu terus berlalu. Hari berganti hari, dan minggu pun sudah berbilang. Telah hampir dua bulan kami berpacaran. Selama dua bulan pula kami mengalami pertengkaran baik yang kecil maupun yang besar. Wajar, karena dua hati yang berbeda tiba-tiba disatukan dalam ikatan cinta, dan saling berkomitmen yang disebut dengan pacaran.

Selama dua bulan itu pula. Aku telah meninggalkan begitu saja niatan untuk mempelajari bacaan al-Qur’an. Malah aku sibuk berpacaran dengan Farha. Sibuk kesana kemari. Pokoknya tiada hari tanpa bersama Farha. Seperti halnya orang-orang yang berpacaran, aku dengan Farha juga melakukan perbuatan selayaknya orang berpacaran. Seperti berdua-duan di tempat di mana hanya ada aku dan Farha saja, terus jalan berdua, makan bareng, saling bergandengan tangan, bermesraan, rebahan, berciuman, dan masih banyak lainnya.

Ya Allah, terima kasih.

Meskipun aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuaku tapi aku bisa mendapatkannya dari Farha. Aku pun bisa memberikan cintaku ini kepada Farha. Kita saling mencintai.

Suatu hari di hari Jum’at malam Sabtu, aku diajak Farha untuk mengantarkannya ke rumah teman sekelasnya. Saat itu kita sedang libur kuliahnya. Libur karena tanggal merah. Rumah teman Farha itu di desa Trisi, Kabupaten Indramayu. Sewaktu itu aku sudah mengenalkan Farha kepada kedua orangtuaku yang ada di Indramayu. Dan Farha menginap dua hari di Indramayu. Tidak di rumah orangtuaku, melainkan di rumah nenekku. Di Desa Krangkeng. Sementara Farha sendiri asli orang Garut. Orang Cibatu tepatnya. Dialek Sundanya kental. Meskipun Farha sering mengobrol denganku menggunakan bahasa Indonesia, tapi dialek kesundaannya itu tidak bisa diubah.

Jam menunjukkan pukul 20:00. Hawa malam aku hirup dengan menahan rasa dingin karena terpaan udara di malam hari.

Kami pamitan ke Nenek untuk pergi ke Desa Trisi. Nenek hanya berpesan agar berhati-hati di jalan. Dan jangan kebut-kebutan kalau mengendarai motor itu. Karena berbeda dengan naik sepeda. Kalau jatuh dari sepeda cukup hanya diobati dengan obat merah saja juga Insya Allah sembuh. Tapi. Jatuh dari motor. Taruhannya kalau tidak luka-luka. Memar-memar. Bahkan nyawa kita juga bisa jadi taruhannya.

Seusai pamitan aku menyalakan mesin motorku untuk memanaskan terlebih dahulu mesinnya. Sesudah itu aku langsung menyela motor. Aku mengendarai motor ini dengan kecepatan sedang. Antara kecepatan 50-60 km/jam.

Saat kami sudah menempuh kira-kira seperempat perjalanan kulihat langit semakin gelap. Gelap tanpa cahaya bintang-bintang. Bulan pun tertelan awan tebal diatas sana. Harapku semoga saja tidak hujan.

Tapi saat masuk ke Widasari. Hujan pun turun. Air menghujani kami berdua. Kami dibuat basah oleh airnya.

Kita pun memutuskan singgah di bawah atap warung kecil. Jam ditanganku menunjukkan pukul 21:30. Di sini sepi. Sudah tak ada orang yang lalu lalang. Hanya sesekali kendaraan motor dan mobil melintas di jalan raya ini.

Warung kecil ini letaknya di tengah-tengah toang. Yang di samping kiri dan kanan jalan hanya ada sawah dan pepohonan saja. Di samping kanan warung ada dua buah rumah sedangkan di sebelah kirinya ada rumah kecil bercat putih. Aku singgah di depan rumah kecil itu karena dua rumah yang di sebelah kanan warung lampunya sudah mati semua. Itu menandakan bahwa pemilik rumah sudah tidur. Sementara rumah kecil yang bercat putih itu lampu di luarnya masih menyala. Mungkin pemilik rumah ini masih terjaga dari tidurnya.

Tanpa dikomando lagi dalam keadaan basah kuyup kami menuju rumah kecil itu. Sambil berlari-lari kecil kami mencoba dekati rumah kecil itu. Setelah mendekat. Lalu aku ketuk daun pintu.

Assalamu’alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Kuucapkan lagi. Tetap sama. Tidak ada jawaban juga. Namun pada ketukan terakhir. Terdengar suara langkah orang berjalan dengan sandal bakiaknya di dalam sana.

Pelan-pelan pintu terbuka. Seorang ibu-ibu ke luar sambil menjawab salamku tadi.

Wa’alaikum salam,” jawab ibu setengah baya itu.

Ibu setengah baya itu menatap kami berdua dengan penuh tanya. Mungkin ibu ini bertanya-tanya tentang kami berdua. Tentang asal usul kami dan tentang tujuan kami berdua hingga kami bisa sampai di sini.

Tidak seperti pertanyaan orang pada umumnya yang biasanya menanyakan nama kepada orang yang baru dikenal, ibu ini malah langsung mempersilahkanku untuk masuk ke dalam. Tanpa rasa khawatir dan was-was. Sama sekali tidak mencurigai kami berdua.

Ditangan kanannya beliau sambil membawa lampu cempor yang terbuat dari botol bekas minuman. Lalu meletakkan lampu cempor tersebut di atas lemari kecil.

“Silakan masuk,” kata ibu itu.

Kami pun masuk. Ibu itu pun mempersilahkan kami duduk. Kami pun duduk. Kali ini kami duduk dengan lesehan beralaskan tikar yang sudah rusak.

“Maaf, Nak, rumah ibu seperti ini. Dan kebetulan lampu yang di dalam ini lagi mati. Jadi gelap-gelapan seperti ini,” kata ibu itu dengan nada serak.

“Seharusnya kami yang minta maaf. Maaf Bu, kami sudah mengganggu waktu ibu. Hujanlah yang mengantarkan kami sampai ke rumah ibu. Sekali lagi maaf kalau kami sudah merepotkan ibu,” kataku.

“Ibu tidak merasa direpotkan kok, Nak. Malah ibu senang kalau ada tamu yang bertamu ke rumah ibu. Karena menghormati tamu itu termasuk ibadah,” jawabnya dengan nada yang masih serak.

“Hujan-hujan begini kalian ini mau ke mana, Nak?” tanya ibu bermata sembab itu.

“Begini Bu ceritanya,” kata Farha, “kami kan dari Desa Krangkeng. Kami mau main ke rumah teman yang di Desa Trisi. Tapi malah turun hujan. Sedangkan rumah teman kami itu masih jauh. Namun alhamdulillah kami bisa singgah di rumah ibu ini.”

“Nama kalian siapa, Nak?” tanya ibu kembali.

“Saya Farha, Ibu” Farha mengawali untuk menjawab pertanyaan ibu itu.

Kemudian Farha berdiri dan mengajak ibu untuk bersalaman. Farha mencium tangan ibu setengah baya itu.

Gue Zuhdi, Bu,” jawabku.

Secepat kilat tangan Farha mencubit tanganku.

“Aduh,” sambil menahan rasa sakit akibat cubitan tadi.

Farha membisikiku. Agar tidak menggunakan kata gue lagi. Tujuannya untuk menjaga kesopanan apabila sedang berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita.

Aku ulangi jawabanku tadi. “Maaf, saya Zuhdi, Bu. Nama panjangnya Khaliq Najamuddin Zuhdi.”

“Nak, nama kalian ini bagus-bagus semua. Pasti orang tua kalian mencintai kalian berdua?”

Dalam hatiku berkata. Sampai kiamat pun kedua orangtuaku tidak bisa mencintaiku dengan sepenuh jiwa. Karena mereka sudah cinta harta. Cinta dunia. Cinta kedudukan. Dan cinta uang.

“Semoga saja begitu apa yang dikatakan ibu itu benar,” jawabku.

Aku pun menanyakan nama beliau. Nama beliau adalah Jamilah. Sesuai namanya, beliau cantik. Sudah cantik, ditambah lagi Bu Jamilah mengenakan kerudung.

Wah, subhanallah Bu Jamilah cantik luar dalam. Karena cahaya wajahnya itu dan cara berpakaiannya itu. Aku yakin kalau Bu Jamilah ini termasuk salah satu hamba Allah SWT yang taat beribadah.

“Sebentar ya, Nak,” kata Bu Jamilah.

Kemudian Bu Jamilah segera masuk ke dalam dapur. Beberapa menit kemudian, beliau ke luar dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat dua gelas air minum yang berisikan air teh yang hangat. Beliau pun membawa handuk kering untuk kami.

Bu Jamilah mempersilahkan agar diminum.

“Silahkan diminum”.

“Maaf, ibu hanya bisa menyuguhkan minuman saja,” imbuhnya.

Bu Jamilah pun memberikan handuk kering itu kapada kami. Menyuruh kami untuk mengeringkan diri terlebih dahulu.

“Ini sudah lebih dari cukup kok, Bu. Jadi merepotkan ibu,” kata Farha.

“Tidak apa-apa kok, Nak.”

Tak terasa hampir setengah jam kami mengobrol. Jam di handphone-ku sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit.

“Kalau mau tidur. Di kamar ibu saja ya, Nak Farha. Terus Nak Zuhdi bisa tidur di kamar anak ibu.”

“Kalau saya tidur di kamar anak ibu. Ibu tidur di mana?” tanyaku.

“Ibu bisa tidur di ruang tamu.“

Nggak usah Bu, biar saya saja yang tidur di ruang tamu. Ibu tidur di kamar saja ya…” pintaku.

“Ibu jadi tidak enak sama Nak Zuhdi kalau tidur di ruang tamu.”

Nggak apa-apa kok, Bu. Saya justru merasa nggak enak kalau ibu harus tidur di ruang tamu. Bisa dapat menginap saja kami sudah bersyukur.”

“Iya sudah kalau Nak Zuhdi ingin tidur di ruang tamu. Nanti ibu bawakan selimut dan bantal.”

“Terima kasih ya bu. Maaf beribu maaf kalau kami sudah merepotkan ibu.”

“Ini sudah kewajiban ibu, Nak. Sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk menghormati tamu.”

Lalu Farha diantarnya menuju ke kamar. Beliau pun mengambilkan bantal dan selimut untukku. Sebagai sesama muslim aku ucapkan terima kasih.

Malam semakin larut. Aku sudah terlelap dalam tidur.

==**==

Waktu Subuh pun tiba. Waktu di mana sebagian orang bermalas-malasan untuk bangun pagi. Apalagi mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid. Berat rasanya kalau tidak mempunyai iman yang kuat. Berat rasanya kalau tidak punya keyakinan kalau shalat Subuh itu mempunyai rahasia besar di dalamnya. Aku pun merasakan semua itu. Aku berat untuk bangun pagi waktu Subuh. Seringnya aku lalai sampai waktu Subuh terlewati.

Aku bangun. Karena dibangunkan oleh Bu Jamilah. Digerak-gerakkannya tubuhku ini oleh Bu Jamilah. Maka mata ini pun terpaksa terbuka dari katupnya.

Tersentaklah aku. Aku kaget sewaktu Bu Jamilah berdiri di depanku yang masih mengenakan mukena. Aku mengira Bu jamilah itu hantu pocong. Secara spontan aku mengucapkan astagfirullah.

“Kenapa Nak Zuhdi?” tanya Bu Jamilah kepadaku.

Nggak apa-apa kok, Bu. Saya cuma kaget saja. Saya kira ibu itu…”

“Hantu?”

“Iya, Bu..” jawabku malu-malu.

“Ada-ada saja Nak Zuhdi ini. Iya sudah, sekarang Nak Zuhdi shalat Subuh dulu.”

“Kalau Neng Farha sudah bangun, Nak?” imbuh Bu Jamilah.

“Sepertinya belum Bu. Biar saya saja yang membangunkan Farha.”

“Iya sudah kalau begitu.”

Lalu aku menuju kamar di mana Farha tidur di dalamnya. Aku ketuk pintu kamar. Kemudian Farha membukakan pintu. Tiba-tiba Bu Jamilah menghampiri kami.

“Bagaimana Nak Zuhdi, Nak Farha sudah bangun belum?” tanya Bu Jamilah.

“Farha sudah bangun kok, Bu..” terdengar suara Farha. Beberapa saat kemudian, Farha keluar menghampiri Bu Jamilah.

“Iya sudah kalian shalat Subuh dulu,” kata Bu Jamilah, “Ibu mau membuat teh hangat dulu.”

“Makasih, Bu,” jawabku dan Farha serempak.

Ibu Jamilah tersenyum kepada kami. Senyumnya kurasakan begitu menentramkan.

Kami segera melaksanakan shalat Subuh. Kami mengerjakannya dengan berjamaah. Aku imamnya. Farha makmumnya. Sungguh, demi Allah, baru kali ini aku jadi imam untuk mengimami sebuah shalat. Ketika kami selesai mengerjakan shalat Subuh. Beberapa saat kemudian aku berdiri dari tempat dudukku. Sementara Farha masih duduk di tempat shalatnya. Duduk tertunduk dalam doa-doanya.

Usai menjalankan shalat, kami dipanggil oleh Bu Jamilah. Kami pun menghampiri Bu Jamilah. Sesampai di depan Bu Jamilah aku lihat tangan beliau sedang menenteng kantong hitam. Entah apa isi kantong itu. Aku tidak tahu.

Sewaktu kami menanyakan anak Bu tiba-tiba terlihat dari kamar Bu Jamilah ada gadis kecil yang ke luar dari dalam sana. Ia berlari mendekati kami. Gadis kecil yang manis. Wajah mungilnya terbungkuskan jilbab putih. Kira-kira usia gadis kecil itu tiga tahunan.

Gadis kecil itu memanggil-manggil Bu Jamilah dengan panggilan ibu. Tidak salah lagi gadis kecil ini pasti putrinya Bu Jamilah. Setelah kutanyakan kepada Bu Jamilah ternyata benar adanya. Ia putri Bu Jamilah yang paling kecil. Namanya Aisyah. Ternyata Bu Jamilah itu telah ditinggalkan oleh suaminya satu tahun silam. Suami Bu Jamilah meninggal sewaktu berlayar mencari nafkah sebagai nelayan. Ibu Jamilah juga memiliki putra. Namanya Indra Ahmad Rosyid. Menurut penuturannya, Ahmad -kakaknya Aisyah- sedang menuntut ilmu di Bandung. Di UPG Bandung. Dia mengambil jurusan pendidikan Mesin.

“Ibu punya alamatnya Ahmad yang di Bandung? Atau nomor telepon yang bisa saya hubungi?” tanyaku. “Insya Allah saya akan menemui anak ibu untuk bersilaturrahmi.”

Tanpa dijawab lagi, Bu Jamilah langsung masuk ke kamar. Sebentar kemudian beliau ke luar dengan membawa secarik kertas yang tertuliskan nomor telepon. Lalu kertas itu diberikannya kepadaku.

Aku pun menerima pemberian Bu Jamilah itu. Biar aku simpan di dompet saja dulu nomor ini. Kemudian bu Jamilah mengajak untuk membakar singkong. Lalu dikeluarkannya beberapa singkong yang ada di dalam kantong.

Seusai mengeluarkan singkong, Bu Jamilah ke luar lewat pintu belakang. Beberapa menit kemudian masuk kembali ke dalam dengan membawa beberapa potongan kayu. Kayu itu ditaruhnya di dekat tungku masak.

Saat itu juga, saat Bu Jamilah membawa kayu. Aku langsung menggantikan beliau. Biar tugas seperti ini diambil alih olehku saja.

Ibu menuruti permintaanku itu. Setelah terkumpul kayunya, Farha kusuruh untuk mencuci singkong terlebih dahulu. Setelah selesai mencuci singkong, aku dan Farha meminta Bu Jamilah untuk duduk saja di kursi. Biar kami saja yang membakar singkong.

Sesekali aku memandangi wajah gadis kecil Aisyah. Sebenarnya dari dulu aku menginginkan kehadiran adik ke dalam kehidupanku. Tapi ibuku sampai sekarang belum juga mewujudkan keinginanku itu.

Seandainya aku punya adik seperti Aisyah bahagianya aku. Hari-hariku pasti akan berwarna. Indah selalu aku rasa. Tawa dan candanya pasti menghibur hati laraku. Oh…Aisyah berkenankah engkau apabila aku jadikan adikku?

Dia melihatku. Aku sapa dengan senyuman. Dia pun tersenyum.

“Ibu, Aisyah mau menemani Kak Zuhdi dan Kak Farha membakar singkong. Boleh nggak, Bu?” tanya Aisyah kepada ibunya.

“Boleh,” jawab Bu Jamilah, “tapi hati-hati Aisyah.”

“Iya Bu..” jawab Aisyah sumringah.

Aisyah menghampiriku. Ia duduk di sebelahku. Memberi senyum hangat kepadaku.Farha yang tadinya duduk di sebelahku. Ia pun pindah duduknya mendekat ke Aisyah. Kami pun saling bercanda. Tawa pun mewarnai candaan kita.

Waktu terus menggerogoti kebersamaan kami. Hingga seusai memakan singkong bakar aku dan Farha memaksakan diri untuk pamitan. Kalau saja ada pilihan untuk tetap tinggal di sini untuk beberapa hari lagi atau segera meninggalkan rumah ini. Kami -aku dan Farha- pasti memilih untuk tinggal di sini saja. Karena aku sudah merasakan atmosfir sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah meski keluarga Bu Jamilah ini serba kekurangan. Tapi karena waktulah yang memisahkan kami, kami terpisahkan jua.

Kulihat jam di handphone, sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.  Mungkin hanya seribu ucapan terima kasih yang mampu aku  berikan. Tapi kebaikan Bu Jamilah yang begitu ikhlas menerimaku dengan Farha di rumahnya begitu mahal harganya. Tidak sepadan kalau hanya dibalas dengan ucapan terima kasih saja. Lalu, aku niatkan untuk memberikan sebagian rezekiku kepada Bu Jamilah beserta anaknya. Bukan maksudku untuk membeli ketulusan dan keikhlasan Bu Jamilah. Karena keikhlasan tidak bisa dihargai dengan uang. Itu yang aku tahu.

Meskipun Bu Jamilah seorang janda beliau sangat kerja keras dalam menafkahi keluarganya. Hingga akhirnya Bu Jamilah bisa membiayai kuliahnya Ahmad. Seorang miskin demikian mudah memuliakan tamu, sedangkan dia sendiri mau mengalah sebab kepunyaannya akan diberikan kepada tamunya itu yaitu aku dan Farha.

Segera kubuka dompetku. Kuambil dua lembar dua puluh ribu dengan selembar uang lima ribuan, dan kusegera persiapkan untuk aku berikan kepada Bu Jamilah. Ilahi, semoga ini menjadi amalan baikku dan catatlah dalam buku kebaikanku.

“Bu, terimalah uang ini,” ucapku.

Bu Jamilah kaget.

“Uang apa ini, Nak?” tanya Bu Jamilah.

“Iya, terimalah Bu…” tambah Farha.

“Tidak, ibu tidak mau…!”

“Tidak mau? Kenapa, ibu? Insya Allah uang ini halal.”

“Ibu percaya kalau uang ini halal. Dan juga ibu tau kalau Nak Zuhdi ini ikhlas memberikannya. Tapi alangkah baiknya uang Nak Zuhdi ini disimpan saja buat keperluan Nak Zuhdi dan Neng Farha di perjalanan nanti”.

“Ibu, tidak usah mengkhawatirkan masalah itu. Insyaallah kami sudah membekali diri dengan cukup. Dan ini rezeki dari Allah. Apa ibu mau menolak rezeki?”

“Bukan maksud ibu menolak rezeki, Nak”.

Alhamdulillah kalau begitu. Terima ya, Bu.”

“Iya, ibu terima uang ini. Sebelumnya terima kasih banyak atas pemberian Nak Zuhdi ini”.

Tiba-tiba Aisyah berkata. Suara kecilnya itu menghangatkan hati.

“Kak Zuhdi mau pulang sekarang?” tanya Aisyah.

“Iya, Aisyah. Kak Zuhdi dan Kak Farha mau pamitan dulu. Insya Allah kalau kita berjodoh nanti kakak main ke sini lagi. Kita main bareng-bareng lagi. Kita bakar-bakar singkong lagi.”

“Sama Kak Farha juga?” tanyanya lagi.

“Iya dong cantik,” jawab Farha kemudian mencium kedua pipinya Aisyah.

Aisyah pun mencium balik pipi Farha. Semakin perpisahan mendekat semakin air mata ini tidak tertahan lagi. Akhirnya aku menitikkan air mata juga. Aku menangis karena melihat keluarga ini, mengetahui kebaikan dan ketulusan mereka.

Begitu juga dengan Farha. Ia pun menangis. Mungkin sama alasannya. Karena kami berdua sama-sama merasakan keikhlasan Bu Jamilah ini yang sudah diberikan kepada kami.

Sebelum berucap salam perpisahan. Farha menyalami Bu Jamilah dengan mencium tangan beliau. Sebelum aku menyalami Bu Jamilah, beliau segera menangkupkan kedua tangannya. Menghindar dari sentuhan yang bukan muhrim.

“Saya berangkat, Bu,” Farha mencium tangan Bu Jamilah.

Sementara Aisyah aku gendong. Sebagai tanda perpisahanku dengan Aisyah aku hanya bisa memberikan ciuman yang paling hangat untuk adik kecilku ini.

Setelah pamitan. Kami pun langsung melajutkan kembali perjalanan. Berencana untuk silaturahmi ke temannya Farha.

==**==

Tiga puluh menit setelah perpisahanku dengan Bu Jamilah, dengan bidadari kecilku, Aisyah, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Di rumah temannya Farha, Muna namanya. Ternyata Muna itu adalah teman dekat Farha. Meski tidak sedekat urat nadi. Tapi hubungan mereka seperti saudara sendiri saja.

Setelah tiba di depan rumah Muna. Kami mendekati pintu rumahnya. Aku ketuk pintunya. Ternyata sekali ketuk, pintu langsung dibukakan. Terlihat di depanku seorang gadis yang membukakan pintu. Gadis itu langsung memeluk Farha.

Kok kamu nggak bilang dulu sih hari ini mau ke sini Rha. Nyebelin ih,” seru Muna.

“Aku sengaja Na, biar surprise” jawab Farha. “Gimana kabar kamu, Na?”

“Alhamdulillah baik Rha, kamu sendiri gimana?”

“Ya Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik saja.”

Farha memperkenalkanku kepada Muna.Muna pun memperkenalkan diri dengan tersenyum sambil berkata, “Ini toh Farha cowo kamu,” tambah Muna, “Ganteng.”

“Ganteng?”

“Iya.”

“Munaaaaa, awas saja kalau kamu ngerebut cowo aku ini. Ntar aku jitak kepala kamu”

“Hehehe…piss ah. Tenang saja Rha. Kalian itu cocok banget. Yang jadi cowo-nya ganteng. Cewe-nya juga cuaaantik banget.”

“Apaan sih, Na,” kata Farha.

Kami hanya tersenyum. Mendengar celoteh Muna barusan. Muna mempersilahkan kami duduk. Setelah itu, Muna pergi ke belakang. Kemudian Muna datang dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat tiga gelas air minum dan dua buah toples.

Mulailah obrolan demi obrolan kami isi di pertemuan kali ini. Dari obrolan masalah kuliah sampai masalah ke cowok-cowok. Karena Muna masih menjomblo. Muna banyak bertanya kepada Farha tentang cowok. Dan juga dibarengin dengan komentar-komentar tentang cowok. Kata Muna, kebanyakan dari cowok itu suka mendua atau selingkuh setelah dia mempunyai pacar. Aku sanggah pernyataan Muna itu. Muna pun menjawab, kan kebanyakan. Jadi ada juga cowok yang setia sama pacarnya.

Waktu pun terus menggerogoti pertemuan kami ini. Hingga berjam-jam. Hingga sampai menjelang Dzuhur.

Seusai shalat Dzuhur. Kami pun bersegera pamitan pulang. Karena sepulang dari sini, dari rumah Muna, kami langsung pulang ke Bandung lagi.

==**==

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: