Novel Pesan untuk Nai (part7)

7

Walimahan Murabbi

Lima bulan kemudian.

Selama lima bulan terAkhir, sungguh aku mendapatkan kehidupan yang baru. Kehidupan yang penuh berkah, kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Mulai dari aku ikut halaqah bersama Akh Zayan, lalu belajar membaca Al-Qur’an bersama Akh Zayan, hingga aku memutuskan untuk berpisah selama-lamanya dengan Luqyana Farha, pacar pertamaku. Yang membuatku bahagia waktu itu adalah Farha-lah yang pertama kali mengajak untuk memutuskan jalinan antaraku dengan dia,. Alasannya karena Allah SWT.

Sampai sekarang masih teringat dalam memoriku. Saat Farha memutuskanku. Farha melontarkan pertanyaan kepadaku: “Adakah aktivitas di dalam pacaran yang tidak menjerumuskan ke dalam maksiat menurut Allah SWT bukan menurut kita?” Kemudian Farha menerangkan maksud pertanyaan itu kepadaku. “Pertanyaan di atas sungguh sangat berhubungan sekali dengan Firman Allah Swt yang berbunyi: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (Q.S Al-Baqarah: 216).

Pertanyaan ini juga yang menjadikan aku berpikir semasa itu. Adakah? Aktivitas seperti apakah yang tidak menjerumuskan ke dalam dosa saat kita berpacaran?

Duh Illahi, aku mohon ampunilah dosa-dosaku sewaktu aku dan Farha masih berpacaran.

==**==

Seminggu setelah Farha memutuskanku, aku baru tahu kalau Farha sedang menuntut ilmu di pesantren Daarut Tauhiid. Pantas saja Farha bisa berbicara seperti itu kepadaku. Ilmu agamanya telah menuntun dia. Saat itu aku hanya bisa diam dan mengiyakan keputusan dari Farha itu. Penampilan Farha pun berubah 180 derajat. Farha yang dulu aku kenal bukan seperti Farha yang sekarang. Farha yang sekarang jauh lebih anggun dan cantik karena polesan wajahnya yang berbalutkan jilbab panjang dan gamisnya. Ia bak bidadari bumi. Auranya pun terpancar di balik kerudungnya itu. Sungguh cantik sekali.

==**==

Pukul 09:00 WIB.

Kini, aku bersama sahabat-sahabatku, Khalil Zayan, Khaliq Junaidi Akmal, dan Khasyi’ Salahuddin sedang menghadiri walimahannya kang Luthfy yang bertempatkan di pesantren An-Nahl. Pesantren kecil yang ada di Geger Arum.

Janur melengkung pun ikut menghiasi gapura Geger Arum. Di sepanjang jalan dari gapura Geger Arum sampai masuk ke jalan sempit menuju pesantren An-Nahl dipasang umbul-umbul yang berwarna-warni.

Panggung pengantin yang ada di halaman pesantren yang menghadap ke masjid itu terlihat begitu sederhana. Begitu juga dengan tempat untuk tamu undangan. Tampak sederhana sekali. Namun mahligainya yang bernuansakan Islam membuat walimah ini begitu indah. Mewah di hadapan Allah.

Setiba di gerbang pesantren, aku bersama tiga sahabatku berhenti sejenak. Kemudian kami mengisi buku tamu yang telah disodorkan kepada kami. Setelah mengisi buku tamu, kami langsung menuju ke panggung pengantin untuk memberi selamat kepada kang Luthfy dan Teh Hasna, Laimuna Haura Hasna nama lengkapnya.

Semakin lama, semakin banyak para tamu yang berdatangan ke acara walimahnya Kang Luthfy. Usai mengucapkan selamat kepada Kang Luthfy kemudian kami pun menikmati hidangan prasmanan.

Aku mengajukan diri untuk menjadi panitia walimahan kepada Kang Luthfy. Begitu juga dengan Akhi Zayan, Akhi Akmal, dan Akhi Udin. Beliau pun mengizinkan. Kami pun langsung bagi-bagi tugas. Dan aku mendapatkan tugas untuk menerima tamu.

Kali ini tidak ada yang namanya “Pagar Ayu”. Karena si penerima tamu semuanya laki-laki. Aku bersama ketiga teman baru laki-lakiku Ilham, Budi dan Surya sudah siap-siap standby di meja tamu. Di atas meja tamu sudah tersedia buku tamu lengkap dengan ballpoint-nya beserta souvenir yang menurutku luar biasa. Souvenir pernikahan Kang Luthfy ini unik, karena ada pesan dakwahnya. Souvenir-nya itu buku saku yang di dalamnya terdapat bacaan doa. Seperti Al-ma’tsurat, Asmaul Husna, Doa Pelembut Hati, Doa Keberkahan Rezeki, dan Doa Keluarga Sakinah. Di belakang buku saku tersebut ada kata ucapan terima kasih dari kedua mempelai dan juga kutipan ayat-ayat al-Qur’an.

Menit demi menit pun terus berjalan. Dan para tamu terus berdatangan. Kebanyakan para tamu dari kalangan aktivis kampus, sekolah, maupun ormas Islam. Seolah-olah aku merasakan seperti berada di tengah-tengah acara pengajian saja.

Hari ini adalah pengalamanku yang pertama dalam hidupku. Menjadi panitia di pernikahan guruku memang pengalaman yang luar biasa. Walau pesta pernikahannya itu biasa-biasa saja, tidak semewah penikahannya para artis. Tempatnya pun tidak di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya wah. Namun sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di pondok kecil, pondok An-Nahl.

Dengan memasang tenda di halaman serta jalan buntu di depannya. Tendanya pun tenda biasa, bukan tenda yang paling megah. Makanan prasmanan ditempatkan di meja sederhana yang bertaplak putih di samping masjid pondok.

Untuk pembawa acara serta pembaca do’a pun dari penghuni pondok sendiri. Pernikahan yang biasa ini menyuguhkan hiburan berupa nasyid, di mana personilnya adalah para santri yang sedang mondok di An-Nahl.

Sekali lagi, walaupun pernikahan ini tak tampak kemegahannya, tetapi aku merasa sangat nyaman berada di sini. Ada suasana yang jarang kuperoleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara pernikahannya Kang Luthfy ini. Para tamu saling sapa, hingga berbincang akrab. Dan juga antara tamu undangan akhwat dan ikhwan dipisahkan tempatnya.

Sesekali aku menoleh ke arah wajah Kang Luthfy. Dari wajah beliau terpancar kebahagiaan yang tiada tara. Begitu juga dengan istri beliau, Teh Hasna.

Para tamu yang akan memberi selamat kepada kedua mempelai terpaksa harus mengantri karena terlalu banyaknya tamu yang datang. Para panitia pun mulai kerepotan. Walau pun agak kerepotan, tapi para panitia begitu cekatan dalam bekerja. Sehingga para panitia bisa melayani para tamu undangan dengan baik.

Suasana pernikahan ini memberiku suatu pelajaran tentang apa makna pesta pernikahan. Akan kesederhanaan dalam merayakan pesta pernikahan. Sehingga ada pertanyaan dalam bathinku. Apa sulitnya kita berpikir dan bersikap sederhana seperti ini?

Tak terasa waktu pun terus berjalan dan saat mendekati waktu Dzuhur, para tamu undangan yang datang pun mulai berkurang. Karena acaranya sendiri hanya sampai pukul 11.30 WIB.

Hari pernikahan Kang Luthfy ini bisa dibilang pernikahan yang acaranya benar-benar ringkas dan cepat. Sehingga pukul 12.00 WIB semua tenda dan perlengkapannya dirapikan. Setelahnya semua beres, kami segera mohon diri untuk pulang.

==***==

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: