Novel Pesan untuk Nai (part8)

8

Ketika Hidayah Menyapa

April 2009

Babak demi babak yang aku alami selama di bangku perkuliahan, di situ ada hidayah yang menyapaku dan mengajakku ke jalan yang di ridhoi oleh Allah. Hidayah saat aku bisa mengaji, shalat, dan sedikit demi sedikit memahami apa itu Islam walaupun dari lahir aku terlahir sebagai muslim. Aku yakin babak demi babak dalam setiap episode kehidupanku ini tidak pernah terlepas dari skenarionya Sang Khalik, Allah SWT. Begitu juga ketika aku memutuskan untuk masuk ke UKM keIslaman LDK ORDA’I UPG Bandung, menjadi seorang aktivis dakwah di kampus. Sebutan yang begitu berat aku rasakan.

Ketika hidayah menyapaku dan mengajakku untuk berIslam secara kaffah, aku pun dituntut untuk selalu memperbaiki diri. Tetapi semua itu belum cukup karena Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Alangkah egoisnya kita ketika kita tak mau berbagi dengan saudara-saudara kita. Kemauan untuk mengajak orang merasakan indahnya hidup dengan iman dan Islam pun tertanam kuat di dada.

Menjadi baik itu perlu proses. Dan kita tidak bisa menunggu sampai menjadi benar-benar baik, baru kemudian mengajak orang menuju kebaikan. Learning by doing pun menjadi pilihan. Kita tak pernah tahu berapa lagi jatah usia yang diberikan-Nya kepada kita. Mau tak mau proses perbaikan diri kita pun harus bersinergi dengan perbaikan ummat secara universal. Dan semua itu berawal dari hidayah. Hidayah datang atas kehendak-Nya.

Hidayah itu sungguh teramat mahal dan menuju keistiqomahan itu tidaklah mudah. Beruntunglah mereka, orang-orang yang sudah lama memutuskan untuk memilih jalan dakwah. Sebab ia tidak sendirian memikul berat bebannya. Ia punya banyak saudara perjuangan yang akan menjaganya. Bukankah Allah pun menyukai kita berjuang dalam barisan yang teratur? Dan aktivis dakwah bukanlah status sementara ketika kita di kampus. Di mana pun kita, kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya. Semoga jalan dakwah ini mampu menyelamatkan kita dari adzab pedih-Nya.

Aku begitu terkesan dengan taushiyah yang disampaikan oleh murabbi-ku dalam memaknai babak demi babak dalam setiap episode kehidupan, ”Tak ada yang sia-sia. Apa yang sudah kita lewati semuanya indah. Ya! Semua itu akan terasa indah bila dibingkai dengan bingkai dakwah.”

Kita harus membingkai tiap kejadian dengan bingkai dakwah. Berharap setiap permasalahan yang dihadiahkan untuk kita menjadikan kita lebih dewasa dan bijak. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Maka ketika kita memutuskan untuk berjalan di atas jalan dakwah, bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia.

Kesan pertama di kampus bumi siliwangi tercinta –UPG (Universitas Pendidikan Guru)– memang benar-benar kesan yang tidak bisa dilupakan. Gedung fakultas menjulang tinggi di mana-mana. Pepohonan yang cukup rindang di berbagai penjuru kampus menjadi penarik perhatian. Tak jarang ikhwan atau pun akhwat yang berlalu lalang sepanjang hari di ruas-ruas jalannya. Aku pun segera beradaptasi dan mencari tempat untuk beraktualisasi. Meskipun aku baru bisa ngaji di umur  berkepala dua, entah kenapa motivasi untuk bergabung dengan LDK –ORDA’I (Organisasi Dakwah Islam) UPG– itu datang menghampiri. Apa karena aku merasa iri kepada mereka-mereka yang sudah lama berkomitmen untuk menjalani jalan dakwah ini? Apa pun yang mendorong aku untuk bergabung dengan LDK, itu sesungguhnya atas kehendak Allah SWT.

Bagiku LDK ini adalah wadah ternyaman untuk kita berekspresi. Baru beberapa waktu berjalan, aku tersadar bahwa LDK hanyalah salah satu wadah perjuangan di kampus. Namun aku sudah terlanjur jatuh cinta, aku tak ingin ‘mendua’ meskipun akhirnya ada amanah lain yang juga harus diterima dengan lapang dada, yaitu harus melatih bola voli siswa SMPN 29 Bandung.

Aku bergabung bersama LDK ORDA’I (2009-2010) -pada masa kepemimpinan Akhi Asep- dan di sini aku berjumpa dengan orang-orang hebat. Karena ajakan Akhi Akmal akhirnya aku masuk ke Departemen Syiar dengan teman-teman yang lainnya, yang personilnya enam ikhwan dan sepuluh akhwat.

Di sini aku menjumpai sosok ikhwah yang pantas dijadikan teladan. Setidaknya keteladan itu jelas terlihat di tataran ketua umum, sekretaris, dan ketua departemen. Dari mereka aku bisa belajar pentingnya perjuangan, perhatian, dan keikhlasan. Aku mencoba memahami bahwa kinerja bidang pun bukan sekedar merealisasikan program kerja yang telah dibuat. Aku menyaksikan sosok senior yang tenang dan selalu terkendali menghadapi setiap kondisi. Secara tidak langsung aku juga diajarkan untuk segera menetralisir rasa kecewa terhadap kenyataan yang seringkali berbeda dengan harapan.

Salah satunya adalah keadaan di mana saya mendapati tidak semua pengurus aktif. Di tahun ini program kerja bidang Kajian Islam dan Propaganda Islam dari Departemen Syiar LDK ORDA’I UPG lumayan banyak. Di Departemen Internal ada program kerja yang bernama: (1) BOOK (Bina Ukhuwah Kader); acara yang dikemas untuk mempererat ukhuwah antar kader dakwah, menyikapi isu-isu keislaman dan mengkomunikasikan permasalahan yang dialami para kader; (2) LATANSA (Silahturahmi Antar Sahabat); bertujuan mempererat ukhuwah antar rohis se-UPG, mensinergiskan progam kerja antar rohis fakultas dan meningkatkan eksistensi sahabat UKM keislaman; (3) KISS dan KISS (Kajian Islam Senin Sore dan Kajian Islam Selasa Sore); sebuah kajian rutin untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang fiqh islam; (5) IM2 (Ini lho.. Mading Masa kini); mading yang memuat isu islam kontemporer. (6) TRA (Taklim Rutin Anggota); sebuah kajian yang diikuti oleh anggota LDK ORDA’I UPG.

Khalil Zayan, teman sekamarku adalah Ketua Departemen Syi’ar di LDK ORDA’I UPG, dan beliau juga menjadi ketua pula dalam acara seminar yang akan digelar bulan Juni mendatang. Andre membentuk struktur panitia. Acara ini tergolong cukup besar di bidang Kajian Islam, karena akan melibatkan dosen dan mahasiswa. Target pencapaian adalah seratus peserta. Itu berarti peserta akan memenuhi ruang auditorium PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) kampus UPG tersebut.

Khaliq Junaidi Akmal, teman halaqoh-ku yang ahli dalam membuat tulisan, membuat sebuah artikel yang sangat bagus akan pentingnya seminar ini. Akhi Akmal memasukkannya dalam koran kampus yang memang independen, sehingga ia tak mendapatkan halangan yang berarti.

Andri, teman baruku di LDK pun memanfaatkan keahliannya dalam dunia maya dengan menjaring massa melalui dunia cyber. Andri menggunakan email, blog dan facebook untuk menyebarkan berita ini. Dan tulisan-tulisan Akmal, Andri muat dalam setiap pesannya dalam internet.

Selanjutnya Asep, yang notabenenya Ketua Umum LDK ORDA’I UPG yang memiliki karisma dalam dirinya, mengajak para dosen untuk berpartisipasi dalam acara seminar ini. Akhi Asep menggunakan cara-cara yang baik dan menawan hati dalam menarik hati dosen.

Sementara untuk pasukan akhwat sendiri ada Azizah, Rina, Entin dan Riska yang menjalankan amanahnya guna mengajak para muslimah untuk hadir dalam seminar. Mereka kerap mempublikasikannya dalam kajian keputrian yang setiap minggunya dihadiri oleh tak kurang dari empat puluh dalam KAMUS (Kajian Muslimah), di setiap Jum’at sore.

Dalam mempersiapkan kegiatan ini, tak jarang Akh Zayan dan teman-temannya harus pulang malam untuk mengadakan rapat-rapat. Di siang hari, mereka aktif mencari sponsor demi terselenggaranya kegiatan. Lelah, inilah yang dirasakan Akh Zayan dan jajaran kepanitiaanya.

Saat aku dan Akh Asep mendapati teman kita yang tengah termenung di sekret ORDA’I, Akhi Asep seakan menangkap kegalauan hati saudaranya, Zayan. Ia memperhatikan bahwa Zayan sedikit melemah semangat dakwahnya. Zayan hanya bisa terdiam.

Antum kenapa?” ucap Akhi Asep.

“Ingat, di sana di Pelestina, saudara-saudara kita tengah berjuang. Apa yang kita lakukan di sini, belumlah seberapa dibandingkan mereka,” ujar Asep sambil menatap ke arah Zayan.

Akh Zayan tertunduk malu, karena Akhi Asep mengetahui kegalauan hatinya. Ucapan Akhi Asep itu seakan menjadi air sejuk di tengah kegersangan hatinya dan menjadi penyemangat bagi kegalauan hatinya.

=BERSAMBUNG=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: