Category: Novel Fallah – Pesan untuk Nai

Novel Pesan untuk Nai (part8)

8

Ketika Hidayah Menyapa

April 2009

Babak demi babak yang aku alami selama di bangku perkuliahan, di situ ada hidayah yang menyapaku dan mengajakku ke jalan yang di ridhoi oleh Allah. Hidayah saat aku bisa mengaji, shalat, dan sedikit demi sedikit memahami apa itu Islam walaupun dari lahir aku terlahir sebagai muslim. Aku yakin babak demi babak dalam setiap episode kehidupanku ini tidak pernah terlepas dari skenarionya Sang Khalik, Allah SWT. Begitu juga ketika aku memutuskan untuk masuk ke UKM keIslaman LDK ORDA’I UPG Bandung, menjadi seorang aktivis dakwah di kampus. Sebutan yang begitu berat aku rasakan.

Ketika hidayah menyapaku dan mengajakku untuk berIslam secara kaffah, aku pun dituntut untuk selalu memperbaiki diri. Tetapi semua itu belum cukup karena Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Alangkah egoisnya kita ketika kita tak mau berbagi dengan saudara-saudara kita. Kemauan untuk mengajak orang merasakan indahnya hidup dengan iman dan Islam pun tertanam kuat di dada.

Menjadi baik itu perlu proses. Dan kita tidak bisa menunggu sampai menjadi benar-benar baik, baru kemudian mengajak orang menuju kebaikan. Learning by doing pun menjadi pilihan. Kita tak pernah tahu berapa lagi jatah usia yang diberikan-Nya kepada kita. Mau tak mau proses perbaikan diri kita pun harus bersinergi dengan perbaikan ummat secara universal. Dan semua itu berawal dari hidayah. Hidayah datang atas kehendak-Nya.

Hidayah itu sungguh teramat mahal dan menuju keistiqomahan itu tidaklah mudah. Beruntunglah mereka, orang-orang yang sudah lama memutuskan untuk memilih jalan dakwah. Sebab ia tidak sendirian memikul berat bebannya. Ia punya banyak saudara perjuangan yang akan menjaganya. Bukankah Allah pun menyukai kita berjuang dalam barisan yang teratur? Dan aktivis dakwah bukanlah status sementara ketika kita di kampus. Di mana pun kita, kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya. Semoga jalan dakwah ini mampu menyelamatkan kita dari adzab pedih-Nya.

Aku begitu terkesan dengan taushiyah yang disampaikan oleh murabbi-ku dalam memaknai babak demi babak dalam setiap episode kehidupan, ”Tak ada yang sia-sia. Apa yang sudah kita lewati semuanya indah. Ya! Semua itu akan terasa indah bila dibingkai dengan bingkai dakwah.”

Kita harus membingkai tiap kejadian dengan bingkai dakwah. Berharap setiap permasalahan yang dihadiahkan untuk kita menjadikan kita lebih dewasa dan bijak. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Maka ketika kita memutuskan untuk berjalan di atas jalan dakwah, bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia.

Kesan pertama di kampus bumi siliwangi tercinta –UPG (Universitas Pendidikan Guru)– memang benar-benar kesan yang tidak bisa dilupakan. Gedung fakultas menjulang tinggi di mana-mana. Pepohonan yang cukup rindang di berbagai penjuru kampus menjadi penarik perhatian. Tak jarang ikhwan atau pun akhwat yang berlalu lalang sepanjang hari di ruas-ruas jalannya. Aku pun segera beradaptasi dan mencari tempat untuk beraktualisasi. Meskipun aku baru bisa ngaji di umur  berkepala dua, entah kenapa motivasi untuk bergabung dengan LDK –ORDA’I (Organisasi Dakwah Islam) UPG– itu datang menghampiri. Apa karena aku merasa iri kepada mereka-mereka yang sudah lama berkomitmen untuk menjalani jalan dakwah ini? Apa pun yang mendorong aku untuk bergabung dengan LDK, itu sesungguhnya atas kehendak Allah SWT.

Bagiku LDK ini adalah wadah ternyaman untuk kita berekspresi. Baru beberapa waktu berjalan, aku tersadar bahwa LDK hanyalah salah satu wadah perjuangan di kampus. Namun aku sudah terlanjur jatuh cinta, aku tak ingin ‘mendua’ meskipun akhirnya ada amanah lain yang juga harus diterima dengan lapang dada, yaitu harus melatih bola voli siswa SMPN 29 Bandung.

Aku bergabung bersama LDK ORDA’I (2009-2010) -pada masa kepemimpinan Akhi Asep- dan di sini aku berjumpa dengan orang-orang hebat. Karena ajakan Akhi Akmal akhirnya aku masuk ke Departemen Syiar dengan teman-teman yang lainnya, yang personilnya enam ikhwan dan sepuluh akhwat.

Di sini aku menjumpai sosok ikhwah yang pantas dijadikan teladan. Setidaknya keteladan itu jelas terlihat di tataran ketua umum, sekretaris, dan ketua departemen. Dari mereka aku bisa belajar pentingnya perjuangan, perhatian, dan keikhlasan. Aku mencoba memahami bahwa kinerja bidang pun bukan sekedar merealisasikan program kerja yang telah dibuat. Aku menyaksikan sosok senior yang tenang dan selalu terkendali menghadapi setiap kondisi. Secara tidak langsung aku juga diajarkan untuk segera menetralisir rasa kecewa terhadap kenyataan yang seringkali berbeda dengan harapan.

Salah satunya adalah keadaan di mana saya mendapati tidak semua pengurus aktif. Di tahun ini program kerja bidang Kajian Islam dan Propaganda Islam dari Departemen Syiar LDK ORDA’I UPG lumayan banyak. Di Departemen Internal ada program kerja yang bernama: (1) BOOK (Bina Ukhuwah Kader); acara yang dikemas untuk mempererat ukhuwah antar kader dakwah, menyikapi isu-isu keislaman dan mengkomunikasikan permasalahan yang dialami para kader; (2) LATANSA (Silahturahmi Antar Sahabat); bertujuan mempererat ukhuwah antar rohis se-UPG, mensinergiskan progam kerja antar rohis fakultas dan meningkatkan eksistensi sahabat UKM keislaman; (3) KISS dan KISS (Kajian Islam Senin Sore dan Kajian Islam Selasa Sore); sebuah kajian rutin untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang fiqh islam; (5) IM2 (Ini lho.. Mading Masa kini); mading yang memuat isu islam kontemporer. (6) TRA (Taklim Rutin Anggota); sebuah kajian yang diikuti oleh anggota LDK ORDA’I UPG.

Khalil Zayan, teman sekamarku adalah Ketua Departemen Syi’ar di LDK ORDA’I UPG, dan beliau juga menjadi ketua pula dalam acara seminar yang akan digelar bulan Juni mendatang. Andre membentuk struktur panitia. Acara ini tergolong cukup besar di bidang Kajian Islam, karena akan melibatkan dosen dan mahasiswa. Target pencapaian adalah seratus peserta. Itu berarti peserta akan memenuhi ruang auditorium PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) kampus UPG tersebut.

Khaliq Junaidi Akmal, teman halaqoh-ku yang ahli dalam membuat tulisan, membuat sebuah artikel yang sangat bagus akan pentingnya seminar ini. Akhi Akmal memasukkannya dalam koran kampus yang memang independen, sehingga ia tak mendapatkan halangan yang berarti.

Andri, teman baruku di LDK pun memanfaatkan keahliannya dalam dunia maya dengan menjaring massa melalui dunia cyber. Andri menggunakan email, blog dan facebook untuk menyebarkan berita ini. Dan tulisan-tulisan Akmal, Andri muat dalam setiap pesannya dalam internet.

Selanjutnya Asep, yang notabenenya Ketua Umum LDK ORDA’I UPG yang memiliki karisma dalam dirinya, mengajak para dosen untuk berpartisipasi dalam acara seminar ini. Akhi Asep menggunakan cara-cara yang baik dan menawan hati dalam menarik hati dosen.

Sementara untuk pasukan akhwat sendiri ada Azizah, Rina, Entin dan Riska yang menjalankan amanahnya guna mengajak para muslimah untuk hadir dalam seminar. Mereka kerap mempublikasikannya dalam kajian keputrian yang setiap minggunya dihadiri oleh tak kurang dari empat puluh dalam KAMUS (Kajian Muslimah), di setiap Jum’at sore.

Dalam mempersiapkan kegiatan ini, tak jarang Akh Zayan dan teman-temannya harus pulang malam untuk mengadakan rapat-rapat. Di siang hari, mereka aktif mencari sponsor demi terselenggaranya kegiatan. Lelah, inilah yang dirasakan Akh Zayan dan jajaran kepanitiaanya.

Saat aku dan Akh Asep mendapati teman kita yang tengah termenung di sekret ORDA’I, Akhi Asep seakan menangkap kegalauan hati saudaranya, Zayan. Ia memperhatikan bahwa Zayan sedikit melemah semangat dakwahnya. Zayan hanya bisa terdiam.

Antum kenapa?” ucap Akhi Asep.

“Ingat, di sana di Pelestina, saudara-saudara kita tengah berjuang. Apa yang kita lakukan di sini, belumlah seberapa dibandingkan mereka,” ujar Asep sambil menatap ke arah Zayan.

Akh Zayan tertunduk malu, karena Akhi Asep mengetahui kegalauan hatinya. Ucapan Akhi Asep itu seakan menjadi air sejuk di tengah kegersangan hatinya dan menjadi penyemangat bagi kegalauan hatinya.

=BERSAMBUNG=

Iklan

Novel Pesan untuk Nai (part7)

7

Walimahan Murabbi

Lima bulan kemudian.

Selama lima bulan terAkhir, sungguh aku mendapatkan kehidupan yang baru. Kehidupan yang penuh berkah, kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Mulai dari aku ikut halaqah bersama Akh Zayan, lalu belajar membaca Al-Qur’an bersama Akh Zayan, hingga aku memutuskan untuk berpisah selama-lamanya dengan Luqyana Farha, pacar pertamaku. Yang membuatku bahagia waktu itu adalah Farha-lah yang pertama kali mengajak untuk memutuskan jalinan antaraku dengan dia,. Alasannya karena Allah SWT.

Sampai sekarang masih teringat dalam memoriku. Saat Farha memutuskanku. Farha melontarkan pertanyaan kepadaku: “Adakah aktivitas di dalam pacaran yang tidak menjerumuskan ke dalam maksiat menurut Allah SWT bukan menurut kita?” Kemudian Farha menerangkan maksud pertanyaan itu kepadaku. “Pertanyaan di atas sungguh sangat berhubungan sekali dengan Firman Allah Swt yang berbunyi: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (Q.S Al-Baqarah: 216).

Pertanyaan ini juga yang menjadikan aku berpikir semasa itu. Adakah? Aktivitas seperti apakah yang tidak menjerumuskan ke dalam dosa saat kita berpacaran?

Duh Illahi, aku mohon ampunilah dosa-dosaku sewaktu aku dan Farha masih berpacaran.

==**==

Seminggu setelah Farha memutuskanku, aku baru tahu kalau Farha sedang menuntut ilmu di pesantren Daarut Tauhiid. Pantas saja Farha bisa berbicara seperti itu kepadaku. Ilmu agamanya telah menuntun dia. Saat itu aku hanya bisa diam dan mengiyakan keputusan dari Farha itu. Penampilan Farha pun berubah 180 derajat. Farha yang dulu aku kenal bukan seperti Farha yang sekarang. Farha yang sekarang jauh lebih anggun dan cantik karena polesan wajahnya yang berbalutkan jilbab panjang dan gamisnya. Ia bak bidadari bumi. Auranya pun terpancar di balik kerudungnya itu. Sungguh cantik sekali.

==**==

Pukul 09:00 WIB.

Kini, aku bersama sahabat-sahabatku, Khalil Zayan, Khaliq Junaidi Akmal, dan Khasyi’ Salahuddin sedang menghadiri walimahannya kang Luthfy yang bertempatkan di pesantren An-Nahl. Pesantren kecil yang ada di Geger Arum.

Janur melengkung pun ikut menghiasi gapura Geger Arum. Di sepanjang jalan dari gapura Geger Arum sampai masuk ke jalan sempit menuju pesantren An-Nahl dipasang umbul-umbul yang berwarna-warni.

Panggung pengantin yang ada di halaman pesantren yang menghadap ke masjid itu terlihat begitu sederhana. Begitu juga dengan tempat untuk tamu undangan. Tampak sederhana sekali. Namun mahligainya yang bernuansakan Islam membuat walimah ini begitu indah. Mewah di hadapan Allah.

Setiba di gerbang pesantren, aku bersama tiga sahabatku berhenti sejenak. Kemudian kami mengisi buku tamu yang telah disodorkan kepada kami. Setelah mengisi buku tamu, kami langsung menuju ke panggung pengantin untuk memberi selamat kepada kang Luthfy dan Teh Hasna, Laimuna Haura Hasna nama lengkapnya.

Semakin lama, semakin banyak para tamu yang berdatangan ke acara walimahnya Kang Luthfy. Usai mengucapkan selamat kepada Kang Luthfy kemudian kami pun menikmati hidangan prasmanan.

Aku mengajukan diri untuk menjadi panitia walimahan kepada Kang Luthfy. Begitu juga dengan Akhi Zayan, Akhi Akmal, dan Akhi Udin. Beliau pun mengizinkan. Kami pun langsung bagi-bagi tugas. Dan aku mendapatkan tugas untuk menerima tamu.

Kali ini tidak ada yang namanya “Pagar Ayu”. Karena si penerima tamu semuanya laki-laki. Aku bersama ketiga teman baru laki-lakiku Ilham, Budi dan Surya sudah siap-siap standby di meja tamu. Di atas meja tamu sudah tersedia buku tamu lengkap dengan ballpoint-nya beserta souvenir yang menurutku luar biasa. Souvenir pernikahan Kang Luthfy ini unik, karena ada pesan dakwahnya. Souvenir-nya itu buku saku yang di dalamnya terdapat bacaan doa. Seperti Al-ma’tsurat, Asmaul Husna, Doa Pelembut Hati, Doa Keberkahan Rezeki, dan Doa Keluarga Sakinah. Di belakang buku saku tersebut ada kata ucapan terima kasih dari kedua mempelai dan juga kutipan ayat-ayat al-Qur’an.

Menit demi menit pun terus berjalan. Dan para tamu terus berdatangan. Kebanyakan para tamu dari kalangan aktivis kampus, sekolah, maupun ormas Islam. Seolah-olah aku merasakan seperti berada di tengah-tengah acara pengajian saja.

Hari ini adalah pengalamanku yang pertama dalam hidupku. Menjadi panitia di pernikahan guruku memang pengalaman yang luar biasa. Walau pesta pernikahannya itu biasa-biasa saja, tidak semewah penikahannya para artis. Tempatnya pun tidak di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya wah. Namun sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di pondok kecil, pondok An-Nahl.

Dengan memasang tenda di halaman serta jalan buntu di depannya. Tendanya pun tenda biasa, bukan tenda yang paling megah. Makanan prasmanan ditempatkan di meja sederhana yang bertaplak putih di samping masjid pondok.

Untuk pembawa acara serta pembaca do’a pun dari penghuni pondok sendiri. Pernikahan yang biasa ini menyuguhkan hiburan berupa nasyid, di mana personilnya adalah para santri yang sedang mondok di An-Nahl.

Sekali lagi, walaupun pernikahan ini tak tampak kemegahannya, tetapi aku merasa sangat nyaman berada di sini. Ada suasana yang jarang kuperoleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara pernikahannya Kang Luthfy ini. Para tamu saling sapa, hingga berbincang akrab. Dan juga antara tamu undangan akhwat dan ikhwan dipisahkan tempatnya.

Sesekali aku menoleh ke arah wajah Kang Luthfy. Dari wajah beliau terpancar kebahagiaan yang tiada tara. Begitu juga dengan istri beliau, Teh Hasna.

Para tamu yang akan memberi selamat kepada kedua mempelai terpaksa harus mengantri karena terlalu banyaknya tamu yang datang. Para panitia pun mulai kerepotan. Walau pun agak kerepotan, tapi para panitia begitu cekatan dalam bekerja. Sehingga para panitia bisa melayani para tamu undangan dengan baik.

Suasana pernikahan ini memberiku suatu pelajaran tentang apa makna pesta pernikahan. Akan kesederhanaan dalam merayakan pesta pernikahan. Sehingga ada pertanyaan dalam bathinku. Apa sulitnya kita berpikir dan bersikap sederhana seperti ini?

Tak terasa waktu pun terus berjalan dan saat mendekati waktu Dzuhur, para tamu undangan yang datang pun mulai berkurang. Karena acaranya sendiri hanya sampai pukul 11.30 WIB.

Hari pernikahan Kang Luthfy ini bisa dibilang pernikahan yang acaranya benar-benar ringkas dan cepat. Sehingga pukul 12.00 WIB semua tenda dan perlengkapannya dirapikan. Setelahnya semua beres, kami segera mohon diri untuk pulang.

==***==

Novel Pesan untuk Nai (part6)

6

Belajar Membaca Al-Qur’an

Benar tebakanku. Sebelumnya Zayan memperkenalkanku kepada Kang Luthfie, kemudian kepada teman-teman yang lainnya.

Setelah kami berkenalan. Aku pun langsung disambut dengan ramah oleh Kang Luthfie dan teman-teman pengajian.

“Sebelumnya ana minta maaf, untuk pekan depan ana tidak bisa mengisi halaqah. Pekan depan ana mau ke luar kota selama lima hari. Nanti ana kasih tugas saja. Untuk dua pekan yang akan datang. Nanti tugas itu dikumpulkan. Karena kelompok kita belum dibentuk struktur organisasinya maka kita tentukan sekarang. Ana persilahkan antum tentukan bersama-sama siapa saja yang mau bersedia menjadi mash’ul (ketua), sekretaris dan bendahara di halaqah kita ini,” ucap kang Luthfie.

Sesuai instruksi dari Kang Luthfie agar kami segera membentuk struktruk organisasi, maka kami pun langsung merundingkannya dengan cara bermusyawarah.

Setelah kami bermusyawarah selama sepuluh menit, akhirnya didapatlah hasil dari musyawarah itu. Yaitu terpilihnya Khalil Zayan sebagai ketuanya, Khasyi’ Salahuddin sebagai sekretaris, dan Khaliq Junaidi Akmal sebagai bendahara liqo. Mereka bertiga pun bersedia atas terpilihnya mereka.

Aku bangga sebagai teman dekatnya Zayan. Menurutku, Zayan memang pantas menjadi ketua di liqo. Dia baik, dia mempunyai jiwa kepemimpinan, dan pengetahuan tentang Islam pun banyak dikuasainya.

Setelahnya terbentuk struktur organisasi, Kang Luthfie langsung menutup halaqah ini dengan ucapan hamdalah, istighfar dan doa akhir majlis.

==**==

Sesampai di kostan. Jarum jam menunjukkan pukul 21.30. Zayan aku ajak bicara. Yang aku bicarakan adalah masalah membaca al-Qur’an. Sungguh aku hanya bisa diam dan mendengar saja sewaktu Kang Luthfie dan Akmal menerangkan tentang keutamaan membaca al-Qur’an dan menghafal al-Qur’an.

“Boro-boro menghafal membacanya juga aku belum bisa.” Itulah kata hatiku yang sejujur-jujurnya.

Langsung saja aku meminta kepada Zayan, apakah dia bersedia mengajari aku belajar membaca al-Qur’an dengan segala ketidaktahuanku ini atau tidak.

Setelah mendengar jawaban dari Zayan senyumku tertoreh dalam kesenangan atas ketersediaannya Zayan untuk mengajariku.

“Terima kasih Yan, terima kasih Yan.” Ucapan itu berulang aku lontarkan.

Sesaat kemudian, aku bertanya kembali kepada Zayan, “kalau mulai belajarnya besok, bagaimana Yan?”

“Boleh…”

Alhamdulillah, terima kasih, Yan”.

“Sama-sama Akh…”

Rasa kantukku secara mendadak hilang karena saking senangnya sebentar lagi aku mau belajar membaca al-Qur’an. Ya Allah, terima kasih Engkau telah memberikan kesempatan untukku. Kesempatan untuk hidup dan matiku. Sungguh nikmat ini, nikmat yang tiada tandingannya.

==**==

Keesokan paginya. Pukul setengah delapan pagi. Tepatnya setelah kami -aku dan Zayan- selesai mandi. Lalu Zayan mengambil buku Panduan Tahsin Intensif terbitan BAQI Publishing.

Kami berdua duduk di atas lantai saling berhadapan. Kemudian Zayan memaparkan tentang keutamaan al-Qur’an yang isinya tentang keutamaan belajar dan mengajar al-Qur’an serta keutamaan tilawah al-Qur’an.

“Di antara keutamaan belajar dan mengajarkan al-Qur’an yang pertama adalah amal yang terbaik,” ucap Zayan.

“Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari. Yaitu dari Utsman bin Affan r.a, dari Nabi SAW telah bersabda: Sebaik-baik kami sekalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya,” lanjut Zayan.

Itulah kata pembukaan dari Zayan ketika aku belajar al-Qur’an kepadanya. Kata ini juga yang membuatku semangat untuk terus belajar dan belajar.

“Kemudian yang kedua, barangsiapa yang berkumpul di suatu masjid dari masjid-masjid Allah, lalu mereka membaca al-Qur’an dengan mempelajarinya, maka akan turun kepada mereka ketentraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah senantiasa menyebut-nyebut yang ada di sisi-Nya.

Yang ketiga, akan terhindar dari kehancuran. Di mana haditsnya yang diriwayatkan Tirmidzi yang berbunyi: Dari Ibnu Abbas ia telah berkata: Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikit pun dari al-Qur’an pada rongga mulutnya, bagaikan rumah yang rapuh.

Lalu keempat akan mendapat sebaik-baik anugerah Allah. Di mana haditsnya yang berbunyi: Barangsiapa yang sibuk dengan al-Qur’an (melebihi dari pada sibuk) dengan dzikir dan memohon (berdo’a) kepada Allah, pasti Allah akan berikan kepadanya karunia yang lebih utama dari yang Allah berikan kepada orang-orang yang memohon (berdo’a). Dan keutamaan kalam Allah di atas semua ungkapan, laksana keagungan Allah diatas semua makhluk-Nya (HR. Tirmidzi).

Dan yang terakhir, yang kelima yakni akan mendapatkan keistimewaan di hadapan makhluk. Hadits yang kelima ini riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi: Tidak ada hasud kecuali kepada dua perkara: Seseorang yang diberi Allah al-Qur’an, maka ia mengamalkannya siang malam. Dan seseorang yang diberi harta, maka ia menginfakkannya siang malam.

Setelahnya Zayan memberikan motivasi tentang keutamaan belajar dan mengajarkan al-Qur’an beserta hadits-haditsnya, lalu Zayan pun menyebutkan beberapa adab dan etika dalam membaca al-Qur’an sebelum memulai membaca al-Qur’an.

Telah disebutkan, beberapa adab dan etika seseorang ketika dalam membaca al-Qur’an oleh Zayan. Pertama, sebelum membaca al-Qur’an, hendaknya membersihkan mulut dengan siwak atau lainnya. Kedua, diutamakan bagi yang membaca al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadas besar maupun kesil. Ketiga, membaca al-Qur’an disunahkan di tempat yang bersih dan terpilih. Keempat, menghadap kiblat, diutamakan bagi pembaca al-Qur’an di luar shalat. Kelima, memohon perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan A’uudzu billaahi minasy-syaithaanir rajiim. Keenam, membaca basmalah. Ketujuh, bersikap khusyu’ dan merenungkan maknanya ketika membaca. Dan yang terakhir, membaca al-Qur’an dengan tartil (tidak tergesa-gesa).

Maka, setelah Zayan selesai memberikan tausiyah singkatnya, lalu baru ke tahap selanjutnya. Tahapan untuk belajar  membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Langsung saja, aku memulainya dengan membaca basmalah.

Yang pertama kali aku pelajari adalah huruf-huruf hijaiyah. Huruf alif adalah huruf pertama dari huruf-huruf hijaiyah. Dan masih banyak lagi huruf hijaiyah tersebut. Alhamdulillah, aku bisa menghafal semua huruf hijaiyah 30 huruf dalam waktu 60 menit. Aku tidak peduli, apakah waktu sebanyak itu terlalu lama atau standar untuk menghafalkan semua huruf hijaiyah.  Yang penting, akhirnya aku bisa menghafal semua huruf itu. Meskipun dalam pengucapan aku sering terbata-bata. Itu artinya aku mendapatkan pahala yang lebih, karena aku terbata-bata dalam mengucapkan huruf Arab dan al-Qur’an.

Sungguh pagi ini, dengan disaksikan Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, akhirnya aku dipermudah untuk menghafal huruf-huruf hijaiyah ini. Dengan diulang-ulang terus hafalanku ini, aku seperti sedang menikmati kesedihannya para setan dan iblis yang hari ini telah menyaksikanku, melihatku mempelajari al-Qur’an dikarenakan aku telah diberi petunjuk oleh Allah SWT lalu mempelajarinya hingga aku tekadkan dalam keinginan untuk dapat membaca al-Qur’an dan as-sunnah.

Lalu kuresapi apa yang aku baca. Kuucapkan dengan secara berulang-ulang hingga Zayan menguji hafalanku. Namun, aku tetap bisa menyebutkan huruf-huruf hijaiyah secara acak dan juga berdasarkan bentuknya. Semua itu aku baca tanpa kesalahan.

Alhamdulillah,” ucapku.

Sungguh ini adalah keberkahan dari Allah SWT kepadaku. Aku yakin, jika kita berniat untuk bersungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkannya. Allah akan mempermudah setelah kesulitan.

“Hebat Akh, antum bisa menghafal huruf-huruf hijaiyah dalam waktu sejam,” ucap Zayan.

“Iya, Yan, aku bersyukur sekali bisa menghafal huruf Arab yang awalnya aku tidak tau sama sekali dengan huruf Arab ini.”

“Kalau begitu, besok kita lanjutkan lagi belajarnya. Bagaimana, akh?” tanya Zayan.

Ok, Yan. Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih banyak.”

“Kembali kasih, akh…hehe…”

“Emang masih banyak ya Yan yang mesti aku pelajari dari al-Qur’an ini?” tanyaku.

“Bisa dibilang begitu, Akh. Malah selama kita masih hidup kewajiban untuk menuntut ilmu itu tetap ada dan harus dilakukan dengan bersunguh-sungguh.”

“Oh begitu ya Yan?”

“He-eh”.

“Besok aku belajar apa lagi, Yan?”

“Besok, Akh Zuhdi belajar harakat-nya.”

Harakat? Memang harakat apa Yan?”

Kemudian Zayan menjelaskan kalau huruf-huruf hijaiyah itu akan dapat dibaca oleh kita apabila huruf-huruf hijaiyah tersebut ber-harakat dan berangkaian antara huruf hijaiyah yang satu dengan huruf yang lainnya.

“Terus setelah itu apalagi?”

“Semangat banget nih akh Zuhdi?”

“Iya Yan, aku ingin sekali bisa baca al-Qur’an. Makanya aku bersemangat”.

“Saya juga jadi ikutan semangat Akh lihat Akh Zuhdi bersemangat begitu. Bagaimana kalau belajarnya kita lanjutkan saja sekarang? Kebetulan saya lagi nggak ada agenda, Akh,” ucap Zayan.

“Siap, Yan.”

Kami pun melanjutkan belajar al-Qur’annya.

==**==

Pukul setengah sembilan. Kemudian Zayan menjelaskan terlebih dahulu tentang teorinya, bahwa dalam bahasa Arab, setiap kata ditulis dalam bentuk yang bersambung. Artinya, huruf-huruf hijaiyah digabung menjadi satu. Tidak ada bentuk kapital pada tulisan bahasa Arab. Oleh sebab itu, huruf-huruf ditulis dalam empat bentuk yang berbeda, ada yang bentuk di awal, bentuk di tengah, bentuk di akhir, dan bentuk terpisah.

Berkat Zayan memberikan contoh bentuk huruf-hurufnya dalam bentuk tabel. Alhamdulillah aku dapat memahaminya dengan baik. Dan yang harus diingat bahwa bahasa Arab ditulis dari sisi kanan ke sisi kiri. Kebalikannya kalau kita menulis huruf alphabet.

“Perhatikan bahwa enam huruf berikut: alif (A), dal (D), dzal (Dz), ra (R), za (Z), waw (W), yaitu huruf-huruf yang ditandai dengan warna merah pada tabel, memiliki bentuk tengah dan akhir yang sama. Ini berarti, apabila huruf-huruf tersebut berada di tengah atau awal kata, maka huruf-huruf tersebut tidak dapat digabung dengan huruf yang ada setelahnya. Dan apabila salah satu huruf dari enam huruf yang disebutkan di atas berada setelah huruf lain yang sekelompok dengannya, maka huruf yang kedua ditulis dalam bentuk terpisahnya. Contohnya seperti yang saya tulis ini” ucap Zayan sambil menuliskan contoh dibuku tulis.

“Bagaimana Akh, bisa?” tanya Zayan.

“Hmmm…iya-iya paham, Yan,” jawabku.

“Lanjut?” tanya Zayan kembali.

“Lanjut…”

“Yang terakhir, ketika huruf alif ada setelah huruf lam, maka keduanya ditulis dalam bentuk yang berbeda dengan contoh yang ini,” Zayan sambil menunjukkan contohnya yang ia tulis.

“Hal ini berlaku baik saat alif berada di tengah atau akhir kata. Ini adalah contoh huruf lam yang digabung dengan huruf alif. Dibacanya: laa,” lanjut Zayan.

Aku perhatikan apa yang dikatakan oleh Zayan dan contoh yang Zayan tuliskan dibuku. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami cara menyambung huruf-huruf hijaiyah ini. Sehingga menjadi suatu rangkaian huruf-huruf hijaiyah.

Waktu terus bergulir. Aku masih terus belajar dan masih terus berkonsentrasi dengan apa yang diajarkan oleh Zayan kepadaku.

Menit demi menit pun berlalu, hingga waktu pun sudah berjalan dua jam lebih lima belas menit. Sungguh tidak terasa waktu begitu cepat.

==**==

“Oh iya Yan, sebentar lagi kan pukul sebelas. Sepertinya kita sudahi dulu saja belajarnya. Bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja?Kita pun belum masak nasi,” ucapku tiba-tiba,“nanti yang masak nasi aku saja.”

“Iya Akh, tapi sebelumnya mari kita tutup terlebih dahulu pelajaran hari ini dengan mengucapkan hamdalah.”

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…..” ucap kami berdua serentak.

Aku pun masak nasi. Kemudian kutinggal saja hingga matang. Hanya menunggu beberapa menit saja, akan memasuki waktu shalat Dzuhur.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 12.15, Zayan mengajakku pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjama’ah.

Namun sesampai di masjid. Masjid yang di dekat kostan kami, masjid Husnul Khotimah. Ternyata kami ketinggalan shalatnya. Tapi, masih ada seorang jama’ah yang masih berdiri melaksanakan shalat.

Kemudian Zayan menepuk pundak orang itu. Mengikutinya di belakang. Karena aku tidak paham soal makmum yang ketinggalan. Aku pun ikut-ikutan saja dulu. Selesai shalat nanti aku tinggal bertanya saja soal ini kepada Zayan. Aku yakin, Allah juga akan memahami ketidaktahuanku ini.

Allahu akbar” ku ucapkan takbir.

Beberapa kemudian. Imam salam. Namun setelah tasyahud, Zayan berdiri kembali.  Aku bingung. Sungguh aku tak tahu.Masih dalam keadaan shalat aku terus bertanya-tanya. Apa yang harus aku lakukan? Apa?

Ya Allah, berilah aku petunjuk.  Setelah aku menenangkan diri, akhirnya aku dapat jalan keluarnya. Iya, mungkin jalan keluar ini baik untukku saat ini.

Jalan keluarnya adalah mengikuti atau mencontoh setiap gerakan yang dilakukan oleh Zayan. Ketika Zayan ruku, aku pun ikut ruku. Zayan sujud, aku ikut sujud juga. Terus saja aku begitu, mengikutinya dengan jeda beberapa detik dari gerakannya Zayan.

Hingga akhirnya Zayan mengakhiri shalatnya dengan salam. Aku pun begitu. Salamku, setelah salamnya Zayan. Dalam hatiku, kuucapkan terima kasih kepada Allah yang sudah memberikan ketenangan saat aku bimbang dalam shalat.

Selesai menjalankan shalat dzuhur. Kami tidak langsung pulang ke kostan. Tapi, kami berencana untuk mampir dulu ke warung nasi untuk membeli lauk pauk, untuk makan siang hari ini.

Sambil berjalan, aku bertanya masalah yang tadi ke Zayan. Masalah menepuk pundak seseorang yang lagi shalat, lalu kita mengikutinya dibelakang. Apakah itu dibenarkan atau tidak?

Pertanyaan inilah yang mengganggu pikiranku selama menjalankan shalat Dzuhur tadi. Kemudian Zayan menjawab pertanyaanku itu.

Zayan menjelaskan bahwa yang menepuk itu bermaksud ingin berjama’ah, otomatis yang ditepuk menjadi imam dan yang menepuk menjadi makmum. Dan imam akan mengeraskan suara apabila akan berganti gerakan shalatnya. Kalau yang menepuk cuma satu orang, dia akan berdiri disebelahnya tapi agak mundur sedikit. Dan apabila ada lagi yang mau gabung berjamaah, dia akan menepuk pundak makmum itu, dan makmum akan mundur sejajar dengan orang yang barusan menepuknya.

“Begitu, Akh, yang saya ketahui,” jawab Zayan.

Wallahua’lam, apakah ada dalilnya atau tidak. Karena saya belum menemukan dalil untuk masalah itu. Tapi kalau Akh Zuhdi tidak puas dengan jawaban saya. Akh Zuhdi bisa menanyakan kembali masalah ini ke ustadz yang memahami akan hal itu,” imbuh Zayan.

“Oh begitu ya, Yan. Mungkin untuk saat ini aku sudah puas kok dengan jawabamu itu. Nanti kalau ada kesempatan lagi, aku mau nanya ke ustadz. Seperti yang kamu sarankan, Yan”

“Iya Akh…” jawab singkatnya.

Sesampai di warung nasi. Aku dapati tak seorang pun yang sedang membeli diwarungnya ibu Rini. Pikirku mungkin nanti juga banyak yang beli. Karena biasanya juga di warung ibu Rini ramai dengan mahasiswa UPG, terutama jurusan FPOK. Dan sering sekali aku bertemu dengan beberapa teman yang sekelas denganku di warung ini.

Kadang ikutan bercanda dengan mereka. Kadang juga kalau lagi kumpul-kumpul, mereka mengobrolkan masalah cewe.  Karena cewe katanya itu perhiasan dunia. Makanya suka jadi bahan obrolan. Karena saking berharganya cewe bagi cowo. Begitu kata salah satu temanku.

Tapi yang aku tahu, perhiasaan dunia itu adalah wanita sholehah. Bukan semua cewe. Karena manusia hanya ada dua. Baik dan tidak baik. Begitu juga ada yang sholeh/sholehah dan tidak sholeh/sholehah.

“Ibu, seperti biasa. Telur dua sama sayur sawinya juga dua,” ucapku.

“Kalau A Zayan?” tanya ibu Rini.

“Ikan tongkol, telur, dan tumis kangkungnya, Bu. Tapi tumis kangkungnya bikin dua bungkus,” jawab Zayan.

Ibu Rini langsung melayani kami berdua. Setelah lauk pauk terbeli. Kami langsung beranjak ke kostan.

Setiba di kostan. Kami makan. Lalu selesai makan. Kami istirahat sejenak sambil menonton berita di televisi.

“Awas! Gelombang Tinggi 2-5 M Tanggal 28-30 Desember 2008.” Itulah tema beritanya.

Diberitakan bahwa gelombang setinggi dua sampai lima meter mengancam beberapa perairan Indonesia, pada 28-30 Desember 2008. Gelombang ini berbahaya bagi perahu nelayan, tongkang, tugboat, roro, LCT dan ferry. Demikian disampaikan Kasi Data & Informasi Klas I Tanjung Priok Stasiun Meteorologi Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sugarin dalam keterangan tertulis tentang peringatan dini gelombang tinggi pada hari Minggu (28/12/2008).

Tinggi gelombang dua sampai tiga meter mengancam yaitu, Laut Natuna, Perairan barat Nias-Enggano, Perairan barat Bengkulu, Perairan barat daya Selat Sunda, Samudera Hindia selatan Jawa-Bali-Nusa tenggara, Laut Jawa, Perairan Sulawesi Selatan, Laut Bali, Laut Flores, Perairan Selatan Rote, Laut Sawu, Laut Sulawesi, Perairan Sangihe-Talaud, dan Laut Halmahera.

Sedangkan tinggi gelombang tiga sampai empat meter yang berbahaya bagi semua jenis kapal terjadi di Laut China Selatan dan Laut Filipina.

Beberapa kemudian. Selesai nonton acara berita. Aku meminta kepada Zayan untuk mengajari belajar al-Qur’an kembali. Zayan pun mengiyakan. Dan dia langsung mengambil alat tulis beserta meja kecil.

Bismillahirrahmaanirrahiim…” Zayan mengawalinya dengan membaca basmalah. Lalu aku mengikutinya membaca basmalah.

“Dalam pelajaran kali ini, kita akan memiliki beberapa contoh tentang bagaimana huruf-huruf tersebut digabungkan untuk membentuk sebuah kata: Contoh 1, Mari kita mulai dengan kata yang sederhana: Misalnya, kata “syam” yang artinya matahari, yang terdiri atas huruf-huruf berikut: huruf “syin“, kemudian “mim” dan akhirnya “sin” ,“ucap Zayan.

“Pertama, kita mulai dengan huruf “syin” dalam bentuk awalnya, seperti ini. Kemudian, huruf “mim” dalam bentuk tengahnya, seperti ini. Dan yang terakhir, huruf “sin” dalam bentuk akhirnya, seperti ini,” imbuh Zayan.

“Bagaimana, Akh? Sudah paham belum? Kalau masih belum paham, nanti saya ulangi lagi dari awal pembahasan” tambah Zayan kembali.

“Iya, aku coba dulu saja ya, Yan?” jawabku.

“Iya silahkan boleh, Akh.”

“Ingat Akh, menulisnya dari kanan ke kiri,” imbuh Zayan.

Okee…” jawab singkatku.

Setelah aku mencoba menggabungkan huruf-huruf tersebut, ternyata aku bisa. Aku bahagia sekali. Sungguh.

“Setelah menggabungkan huruf-huruf tersebut, maka kita mempunyai kata “syams“, Akh,” kata Zayan dengan tenang.

“Sekarang mari kita coba kata yang lain. Bagaimana menulis nama Akh Zuhdi sendiri? Coba deh, Akh!” imbuh Zayan.

Sebelumnya, Akh Zuhdi menulisnya dengan dimulai dengan huruf z, yang setara dengan huruf “za” dalam bahasa Arab. Huruf berikutnya adalah h yaitu “ha” ber-harakat sukun. Kemudian huruf berikutnya lagi adalah d, yaitu “dal”. Kemudian huruf yang terakhir huruf “i” atau “y” yaitu huruf “ya” dalam bahasa Arab.

Sambil mendengarkan ucapan Zayan, aku sambil menulisnya di buku catatanku. Setelah itu, Zayan melihat hasil kerjaanku.

“Iya-iya-iya.. Betul, Akh,” seru Zayan sambil melihat pekerjaanku menulis namaku sendiri memakai huruf Arab.

Alhamdulillah, aku bisa, Yan?” seruku.

“Iya Akh…”

“Sekarang coba Akh Zuhdi, baca dua kata berikut yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang ditulis menggunakan huruf Arab.”

Karena aku baru belajar, lalu aku eja dua kata itu.

Dan aku jawab, “syam-kha sama kha-ba.

“Iya betul Akh…!” seru Zayan. “Saya tidak menyangka, Akh Zuhdi bisa secepat itu menangkap apa yang saya ajarkan. Saya salut sama antum, Akh. Sungguh ini adalah berkah dari Allah SWT kepada Akh Zuhdi. Saya yakin, Akh Zuhdi pasti bisa mempelajari semua ini dengan  cepat dan baik. Karena semangat Akh Zuhdi yang menggebu-gebu itu sehingga menjadikan kemudahan bagi Akh Zuhdi mempelajari al-Qur’an.”

“Iya terima kasih atas pujiannya sekaligus doanya, Yan.”

Lalu Zayan menganggukkan kepalanya. “Sekarang Akh Zuhdi tinggal mempelajari tentang harakat-nya saja.”

“Susah nggak, Yan?” tanyaku.

Nggak kok Akh, saya yakin Akh Zuhdi pasti bisa memahami sampai ke harakat-harakat-nya juga.”

Mendengar ucapan Zayan, semangatku bertambah.

“Iya sudah Akh, kita mulai saja pelajaran tentang harakat. Dalam bahasa Arab, terdapat tiga jenis vokal: Pertama, tiga huruf vokal, yaitu (alif, waw, dan ya) digunakan untuk vokal-vokal yang panjang. Kedua “hamza“. Ketiga, tanda-tanda vokal yang digunakan untuk vokal-vokal yang pendek. Sebagai catatan, untuk membedakan vokal-vokal pendek dengan vokal yang panjang, maka tulisan Arab menggunakan tanda vokal. Hal ini diimplimentasikan dengan menuliskan tanda vokal tersebut di atas atau di bawah huruf. Akan saya tulis contoh huruf “siin” dengan menggunakan empat tanda vokal yang berbeda. Kalau tanda vokal yang diatas huruf dan tandanya seperti garis miring pendek itu disebut “fatha”. Dan kalau tanda yang seperti huruf “waw” kecil di atas huruf seperti ini, namanya “dhommah”, tanda ini diletakan di atas suatu huruf apabila hendak menyuarakanu yang pendek setelah huruf yang bersangkutan.

Sedangkan tanda yang seperti sebuah garis miring pendek di bawah huruf itu namanya “kasra”. Tanda ini diletakkan di bawah suatu huruf apabila hendak menyuarakan i yang pendek setelah huruf yang bersangkutan. Yang terakhir ini, tanda yang seperti lingkaran kecil di atas suatu huruf, namanya “sukuun”. Tanda ini diletakkan di atas suatu huruf apabila tidak ada suara yang harus diucapkan setelah huruf tersebut.”

Begitu Zayan selesai menjelaskan, aku langsung dites. Ternyata, aku juga hafal dengan cepat.

Lalu Zayan melanjutkan kembali penjelasannya. “Catatan: dalam bahasa Arab, kata-kata (seperti: fat-ha, dhomma, kasra, dan sukuun) sesungguhnya memiliki arti sebagai berikut: fat-ha artinya “pembukaan”, dhomma artinya “penutupan”, kasra artinya “pemutusan”, dan sukuun artinya “diam”. Arti kata-kata ini menunjuk kepada bentuk mulut saat pelafalannya.

Sebagai contoh, saya akan membuka mulut dengan lebar saat mengucapkan suara fat-ha, yaitu “a“, dan menutup mulut saat mengucapkan suara dhomma, yaitu “u”, dan diam saat mengucapkan suatu huruf yang memiliki sukuun di atasnya.

Saya ingin Akh Zuhdi mengetahui hal ini, karena menurut saya, ini dapat membantu Akh Zuhdi memahami bagaimana tashkiil (harakat) bekerja. Tanda vokal di sini sangat penting dalam bahasa Arab. Arti suatu kata dapat menjadi sangat berbeda apabila tanda vokal yang digunakan pada suatu huruf diubah. Perhatikan beberapa contoh berikut: dzahaba dengan dzahab. Kalau dzahaba artinya pergi (bentuk lampau), sedangkan dzahab artinya emas, kemudian kutub dengan kataba. Kalau kutub itu artinya buku-buku, sedangkan kataba artinya menulis.”

Zayan berhenti sejenak. Menghela nafas.Kemudian melanjutkan kembali. “Ada dua tanda lain yang digunakan dalam tulisan Arab yang mewakili huruf tambahan, tanda tersebut adalah: Pertama, shadda berarti mewakili huruf yang ganda yang beruntun dan tanda ini berbentuk seperti huruf “siin” kecil dan diletakkan di atas huruf. Sebagai contoh: Berikut ini adalah kata “qishshoh” (yang berarti “kisah”), perhatikan tanda “shadda” di atas huruf “shod“” ucap Zayan sambil menunjukkannya.

Kedua, tanwiin berarti melafalkan huruf “nun” pada akhir suatu kata. Tanwiin memiliki tiga bentuk yang serupa “tashkiil“, tetapi tanwiin hanya diletakkan di atas atau di bawah huruf terakhir kata. Tabel ini menunjukkan “tanwiin” pada huruf “alif”, “ba” dan “ta“. Dan contoh huruf yang di tabel yang sudah diberi tanda tanwiin ini dibacanya: ‘an’, ‘bun’, ‘tin’.”

Zayan diam sejenak. Kemudian memberiku kesempatan untuk bertanya, kalau ada yang belum mengerti. Sekali lagi, aku paham sekali dengan apa yang dijelaskan oleh Zayan dari awal sampai yang ini.

=***=

Novel Pesan untuk Nai (part5)

5

Takut Akan Kematian

Sepekan setelah kejadian sakaratul maut waktu itu, rasa takut akan mati masih menghantui pikiranku. Aku takut kalau matiku bukan mati yang husnul khotimah, melainkan mati yang suul khotimah.

Kini aku tidak tinggal di Pondok An-Nahl lagi. Aku sudah menempati kamar kostanku kembali. Setelah beberapa hari aku tinggalkan.

Aduhai jiwa, kenapa engkau merasakan takut dan cemas yang amat sangat begini? Padahal kejadian sakaratul maut seperti itu sudah berlalu seminggu yang lalu.

Pukul 20.00 WIB. Malam ini malam minggu. Biasanya aku malam mingguan bersama Farha. Namun kali ini, aku bersibuk diri memikirkan akan ketakutanku sendiri. Takut mati.

Kurasakan kamar kostanku ini demikian gerah. Sementara jiwaku, jiwa kurang tenang. Duhai jiwa, apa yang bisa aku lakukan sekarang agar aku bisa menenangkanmu?

Sepi mencekam. Senyap menelan. Tak biasanya aku mengalami malam seperti ini. Tak biasanya suasana jiwaku seperti malam ini.

Malam pun semakin larut. Empat jam telah berlalu. Tapi, rasa takutku tak kunjung pergi dari jiwaku. Hingga kini pukul 24.00 WIB.

Sewaktu aku terbangun dari lamunanku. Aku menemukan jalan keluarnya. Akhirnya kutemukan jawabannya.

Shalat! Ya, shalatlah yang mampu menenangkan jiwaku. Lalu aku masuk ke kamar mandi. Mengambil air wudlu dengan pelan. Berwudlu.

Tapi aku mau shalat apa?! Shalat Isya sudah aku tunaikan. Lantas…

Masyaallah, demikian bodohkah aku menjadi muslim. Selama ini aku hanya melaksanakan shalat wajib saja. Kemudian melalaikan ibadah yang sunnah.

Sejenak aku berfikir. Rasa-rasanya aku pernah mendapatkan ilmu tentang shalat sunnah. Namun aku lupa. Mungkin ini akibat karena aku tidak mengamalkannya.

Aku pun segera berfikir. Kenapa harus bingung-bingung. Cara saja di internet. Di sana banyak ilmu pengetahuan tentang agama. Aku yakin ilmu tentang tahajjud pun ada di internet.

Tanpa ditunda-tunda lagi aku pun segera keluar mencari warnet yang masih buka. Aku coba ke warnet Qbee terlebih dahulu.

Sesampai di sana. Alhamdulillah, warnet Qbee masih buka walaupun sudah larut malam. Selama duapertiga jam aku sudah mendownload beberapa file tentang shalat sunnah tahajjud. Kemudian aku save ke dalam flashdisk. Sudah ada sebagian yang aku baca dan ada juga sebagian yang belum dibaca. Berhubung lima belas menit lagi mau masuk pukul 01.00 WIB. Aku bergegas pulang ke kostan.

Setiba di kostan. Aku lihat Zayan masih terjaga dalam tidurnya. Setelah aku mengerti tentang shalat tahajjud, ternyata shalat malam seperti shalat tahajjud ini di usahakan melakukannya setelah bangun tidur. Tujuannya untuk menghilangkan rasa kantuk. Jikalau kita melaksanakan shalat tahajjud dalam keadaan mengantuk berat, mungkin kita tidak bisa khusyu’ melaksakannya. Bacaan shalat kita pun menjadi melantur seandainya kita shalat dalam keadaan mengantuk. Maka dari itu, shalat tahajjud dianjurkan tidur terlebih dahulu.

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Aku masih ada waktu untuk tidur selama dua jam ke depan. Semoga saat aku bangun nanti aku sudah dalam keadaan segar bugar. Sehingga bisa menjalankan shalat tahajjud dengan tenang. Sebelum tidur terlebih dahulu aku memasang alarm pada waktu alarm 03:00 di handphone-ku.

==**==

Alhamdulillah, karena Allah sudah mengizinkanku bangun melalui perantara nada alarm yang cukup keras ini, akhirnya aku tergeliat bangun untuk menjalankan shalat lail. Yakni shalat tahajjud.

Mungkin baru kali ini aku manfaatkan anugerah yang sudah Allah berikan kepadaku untuk beribadah. Yakni dengan mudahnya aku terbangun dari tidur jikalau ada sesuatu yang mengusik tidurku, seperti bunyi nada alarm, maupun suara apapun serta kalau ada orang yang menggerak-gerakkan anggota badanku. Sebelumnya aku bangun malam bukan untuk shalat lail, melainkan untuk menonton pertandingan sepak bola.

Di saat mata ini terbuka. Saat itu juga aku melihat Zayan sedang khusyu’ menunaikan ibadah shalat sunnah tahajjud. Dan ini bukan pertama kalinya aku melihat Zayan melaksanakan shalat lail. Tapi sudah sering. Bahkan setiap sepertiga malam, setiap aku bangun untuk menonton pertandingan sepak bola, Zayan pasti menyempatkan untuk shalat lail. Lalu mengaduh segala urusannya di dunia kepada-Nya dalam do’anya.

Setelah bangkit dari tempat tidurku. Aku bergegas menuju ke kamar mandi. Lalu mengambil air wudlu dengan pelan. Usai berwudlu, aku gelar sajadahku. Aku pun shalat tahajjud.

Seusai shalat aku lanjutkan dengan ber-munajat kepada-Nya dalam bentuk untaian doa. Usai doa aku berdzikir.

Astaghfirullaahal’azhiim, alladzii laa ilaaha illaa huwalhayyul qayyuum, wa atuubu ilaiih,” aku baca bacaan dzikir ini tiga kali. Lalu aku sambung dengan doa berbahasa Indonesia. “Ya Allah, sungguh hamba takut akan kematian. Seandainya saat ini aku tahu kalau nanti aku mati dalam keadaan husnul khotimah, mungkin aku tidak merasa ketakutan seperti ini. Tapi, Engkau Maha Menentukan. Al Muktadir. Engkaulah yang menentukan kapan aku mati dan dalam keadaan apa aku mati. Maka berilah aku petunjuk, yaa Rabb. Aku tak mau tersesat lagi mungkar. Tunjukilah aku jalan yang lurus.” Aku akhiri dengan mengusapkan kedua tanganku ke wajahku sambil mengucapkan alhamdulillaahirabbil’aalamiin.

Semakin aku larut dalam do’a, semakin aku menemukan ketenangan dalam jiwa ini. Dalam hati ini, ada sebutir harapan yang kelak nanti aku tanam dalam ladang amalku.

Detik jam terus berputar. Perputaran jarum jam menunjukkan tunduknya kepada Kuasa-Nya Illahi.  Jarum jam menunjukkan angka empat.

Hingga menjelang subuh aku masih saja duduk di tempat shalatku. Aku putuskan sebelum adzan Subuh dikumandangkan aku harus mandi untuk mengusir kantukku, lelahku, dan letihku.

Aku pun mandi. Usai mandi. Aku segera berwudlu. Tatkala aku selesai mandi, selesai berwudlu, adzan Subuh pun kudengar. Suara adzan yang memecah keheningan.

Lalu Zayan mengajakku untuk shalat berjama’ah di masjid Husnul Khotimah. Ajakan Zayan aku kabulkan. Hingga akhirnya kami berdua shalat Subuh berjama’ah di masjid Husnul Khotimah. Masjid ini bisa dibilang masjid yang berukuran kecil, namun jama’ahnya masyaallah banyaknya. Banyak yang belum bangun maksudnya.

Usia shalat subuh. Kami pun pulang. Seperti biasanya, selepas shalat Zayan suka menyempatkan diri untuk membaca al-Qur’an. Setengah kemudian, Zayan pun selesai membaca al-Qur’an. Lantas Zayan meletakkan al-Qur’an di rak buku. Kemudian aku ajak Zayan untuk berbincang-bincang.

Beberapa waktu kemudian kami duduk saling berhadapan. Aku yang memulai perbincangan kali ini. Lalu aku mengajukan pertanyaan seperti ini: “Yan, beberapa hari belakangan ini gue sering membayangkan kalau orang mati dikubur sendiri di kuburan, sempit, dan hanya berkawankan serangga seperti kalajengking dan kelabang. Gue jadi ingin ber-istighfar terus, dan takut untuk memejamkan mata.”

“Apa yang harus gue lakukan, agar rasa takut akan kematian dan membayangkan alam kubur bisa hilang dari benak gue, Yan?” imbuhku.

Akh, kematian itu datang dengan caranya sendiri. Kadang tak terduga. Termasuk ketika dia menjemput  sahabat kita seminggu yang lalu di Pondok An-Nahl. Sungguh sangat tidak terduga.”

“Justru itu gue takut setelah melihat peristiwa di Pondok An-Nahl, Yan. Gue masih terbayang, ketika lidah beliau tidak mampu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat maupun kalimat istighfar. Apakah gue juga seperti itu, Yan?”

Wallahu’alam,” jawab Zayan dengan singkat.

“Terus, apa yang harus gue lakukan untuk menghilangkan rasa takutku akan kematian?” tanyaku kembali kepada Zayan.

“Ketahuilah Akh, bahwasannya selalu mengingat akan kematian itu disunnahkan dan harus benar-benar ditekankan atas diri kita, bahwa kita akan meninggal dunia sebab apabila kita selalu mengingat itu akan menimbulkan fadilah dan kebaikan atas diri dan hati kita salah satunya kita tidak terlalu banyak berangan-angan tentang dunia, dan akan menimbulkan sifat zuhud dari dunia yang fana’ ini, merasa cukup apa yang telah Allah berikan berupa rizki buat kita (qona’ah), lebih cinta kepada akhirat dan rajin beribadah kepada Allah, dan selalu berbuat kebaikan hanya ingin mendapatkan keridhaan Allah SWT. Ini semua apabila kita selalu mengingatkan atas diri kita, kita akan menghadapi kematian. Nabi Muhammad Saw bersabda:

Perbanyaklah kalian mengingat atas kematian. Mengingat kematian bukan hanya di lisan saja yang mengatakan, kita akan mati, kita akan mati, itu sangat sedikit sekali manfaatnya, harus dipikirkan dan dimasukkan di dalam hati kita, berpikir nanti bagaimana menghadapi sakarotul maut? Bagaimana keadaan kita ketika sakarotul maut? Dan apa persiapan kita ketika maut menjemput kita?. Apa dalam khusnul khotimah atau tidak!.

Sebagian Ulama’ Salaf mengatakan: Lihatlah setiap sesuatu yang baik, yang kira-kira sesuatu itu merupakan suatu kebaikan dan sesuatu itu akan medapatkan ridha Allah dan Rasulnya dan engkau suka mati dan keadaan itu, maka lazimkan sesuatu itu atau perbanyaklah berusaha tidak meninggalkannya, seperti contoh membaca al-Quran tentunya kita senang dan berharap meninggal dalam keadaan membaca al-Quran maka lazimkan membacanya setiap waktu, sebab kita tidak tahu kapan kita akan meninggal dunia.

Begitu pun sebaliknya apa bila kita takut mati dalam keadaan tidak di-ridha-i Allah maka jauhkan hal-hal yang bisa menimbulkan murka Allah dan bisa menyebabkan kita mati dalam suul khotimah. Adapun takut atas mengahapi kematian itu merupakan sifat manusia, karena membayangkan sakitnya, dosanya, dan terpisah dengan orang-orang yang kita kasihi. Siapa orang yang rindu, kangen dan cinta ingin bertemu dengan Allah, maka Allah pun akan rindu ingin bertemu denganya, dan barang siapa yang tidak mau atau benci bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak mau bertemu denganya.

Assayidah ‘Aisyah r.a berkata kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, kami semua takut akan kematian, maka Nabi Muhammad SAW menjawab: Sesungguhnya orang yang beriman apabila mengahapi sakarotul maut diberikan oleh Allah SWT kabar gembira dengan rahmat Allah dan kasih sayang Allah, sebaliknya apabila orang tidak beriman atau orang kafir apabila datang ajalnya akan diberikan kabar gembira berupa azab Allah,” jawab Zayan dengan jelas.

Setelah mendengar penjelasan dari Zayan. Aku terdiam sejenak. Apa yang harus aku lakukan? Duh, aku bingung? Ya, Allah, bagaimana bisa selama ini aku gunakan waktuku untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Hal yang sia-sia. Untuk hal-hal yang justru menjauhkanku dari-Mu. Malah diriku lebih memilih untuk mendekatkanku kepada kekasihku, Farha. Bersibuk diri dalam berpacaran. Sementara aku tidak bersibuk diri dalam mencari ridha-Mu.

Ketika semakin lama kubertanya kepada diriku sendiri, aku mendapatkan kesadaran bahwa suatu saat semua akan menuju pada satu titik yang akhir, yaitu kematian. Ketika kita telah sampai di titik terakhir itu, yang ada hanya menyisakan sepi. Semuanya akan kembali kepada Illahi. Dan akan dimintai pertanggungjawabannya setiap perbuatan yang kita berbuat di dunia kelak di akhirat nanti.

“Yan, aku ingin berubah…” Inilah kata-kata yang aku lontarkan kepada Zayan.

“Berubah?”

“Maksudnya apa, Akh?” imbuh Zayan.

Gue ingin belajar agama, Yan. Gue malu kepada diri gue sendiri. Sungguh gue malu kepada Allah, Yan. Sebagai muslim, gue belum mampu menjadi muslim yang kaffah. Tolongin gue, Yan”

Sejenak Zayan diam. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Temanku Zayan hanya melihatku, dan kurasakan tatapannya itu menembus qolbu-ku.

“Bagaimana, Yan..? Loe bisa bantu gue?”

Zayan hanya tersenyum. Kemudian Zayan mendekapku. Inilah kali pertama aku didekap oleh laki-laki.

Seusai Zayan mendekapku. Dia berkata: “Akh, apa yang lebih menyenangkan hati seorang sahabat, kecuali melihat saudaranya itu menjadi muslim yang sejati? Semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya kepada Akh Zuhdi. Hasrat antum untuk berubah adalah kuasa-Nya. Allah tidak melihat siapa antum. Kalau hidayah Allah sudah datang tak seorang pun yang sanggup mencegahnya. Sujud syukur lah Akh kepada Allah. Allah telah menyaksikannya.”

Aku pun bersujud. Bersyukur kepada Allah. Tak henti-hentinya aku ucapkan hamdalah. Beberapa kemudian aku pun bangkit dari sujudku.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan…?”

“Kalau begitu Akh Zuhdi bisa bergabung di kelompok kami.”

“Kelompok apa?” tanyaku.

“Maksudnya di halaqah-nya kita. Seperti ta’lim saja, Akh.

“Tempatnya di mana?” tanyaku kembali.

“Kami biasanya berkumpul di masjid An-Nahl. Masjid di Pondok An-Nahl. Nanti yang menjadi murabbi-nya adalah Kang Luthfie. Beliau yang nantinya mengarahkan kita semua”

“Tapi, Yan…?”

“Tapi kenapa, Akh?”

Gue malu, Yan. Gue kan nggak bisa ngaji? Betapa memalukan seorang yang tidak bisa mengaji seperti gue ini bergabung di ta’lim kalian dan menjadi bagiannya?”

Zayan tersenyum. “Masalah mengaji, nanti juga diajarkan kok sama Kang Luthfie. Kami juga dulunya tidak bisa mengaji. Sama seperti Akh Zuhdi. Ikut ya, Akh?”

“Bagaimana kalau nanti teman-teman menertawakan kebodohanku dalam membaca al-Qur’an?”

Insyaallah tidak ada seorang pun yang menertawakan Akh Zuhdi, kecuali Akh Zuhdi melawak di ta’lim nanti,” Zayan mencoba mencairkan keraguanku, “kalau pun akh Zuhdi malu, kenapa coba harus malu terhadap sesuatu yang memang belum bisa Akh Zuhdi kerjakan? Saya yakin sekali, kalau Akh Zuhdi mau belajar, pasti bisa.”

Zayan benar. Aku bulatkan tekadku. Kuucapkan kalimat basmalah dalam hati.

“Kapan gue bisa ikut ta’lim dengan loe, Yan?”

“Insyaallah jadwal ta’lim-nya setiap malam minggu, dan Insya Allah rutin.”

“Iya sudah malam minggu nanti gue mau ikut di ta’lim kalian”

“Terima kasih, Yan,” imbuhku.

“Iya sama-sama, Akh.

Aku ajak Zayan untuk berjabat tangan sambil tersenyum.

==**==

Sabtu, tanggal 27 Desember 2008, pukul 19.15 WIB. Usai shalat isya, aku teringatkan satu janji dengan Zayan. Janji yang aku tunggu-tungu sejak minggu kemarin. Malam ini, tepatnya nanti pukul 20.00 WIB ada jadwal ta’lim. Namun, Zayan sering menyebutnya halaqoh atau liqo. Karena sekarang masih pukul 19.35 WIB, artinya ada waktu dua puluh lima menit untuk menyiapkan perlengkapan apa saja yang mau kubawa. Sementara aku lihat Zayan sedang membaca al-Qur’an.

Beberapa menit kemudian, aku bertanya kepada Zayan. Apa saja yang harus aku persiapkan untuk liqo nanti. Kata Zayan, cukup membawa mushaf al-Qur’an dan alat tulis seperti buku dan pena saja. Kemudian aku cari mushaf-ku yang aku simpan di antara buku-buku yang tertata rapi di rak buku. Aku ambil mushaf itu, kemudian aku simpan di tas hitamku. Sebelumnya, aku bersihkan terlebih dahulu mushaf-ku. Karena mushafku berdebu. Sejak aku membeli mushaf ini hingga sekarang aku telah menelantarkannya. Aku diamkan begitu saja di rak buku. Sebab, kalau pun aku membacanya aku harus paham dulu tulisan Arabnya. Karena aku belum bisa membaca tulisan Arab.

Sangat ironis sekali kalau sekarang aku lebih suka membawa komik kartun, novel barat yang tebal-tebal di tas dan dalam tentengan, dengan bangga aku membawa buku-buku karya penulis barat, Harry Potter, buku-buku Kahli Gibran, novel-novel cengeng. Kenapa ya? tanyaku dalam hati.

Seolah-olah aku malu dan minder ketika menenteng ataupun membawa al-Qur’an dalam tas. Padahal aku seorang muslim. Sementara mereka orang Kristiani dengan bangga membawa al-Kitabnya dan menentengnya kemana pun mereka pergi.

Duh, Gusti Allah, ampunilah aku atas kelalaianku akan kewajibanku untuk menyembah dan beribadah kepada-Mu.

Duh, Gusti, Engkau Maha Mengetahui. Saksikanlah bahasa hatiku ini. Yang hanya bisa menjerit kepada-Mu. Hingga aku tidak mendapatkan nikmat untuk mendekati-Mu. Kepada siapakah aku harus mengeluh jika bukan kepada-Mu? Engkaulah tempat bergantung. Tempat aku mengharapkan pertolongan. Sungguh aku malu kepada diriku sendiri. Terlebih kepada-Mu. Karena aku telah men-dzolimi diri sendiri.

Terpujilah nama-Mu, ya Rabb. Dengan rahmat-Mu aku bermohon dan memuji. Cintailah diriku, sebagaimana Engkau mencintai hamba-hamba yang bertakwa kepada-Mu. Jagalah aku, sebagaimana Engkau menjaga para kekasih-Mu. Kuatkan aku dengan Cinta-Mu itu. Aku yakin, dan sungguh merasa yakin akan kekuatan Cinta-Mu. Cinta-Mu pasti akan menguatkanku. Dan sampaikanlah sholawatku beserta salamku ini kepada kekasih-Mu dan keluarganya yang suci. Murabbi segala murabbi, dialah baginda Nabi Muhammad Saw. Nabi terakhir ummat Islam.

Kenapa kita seolah-olah merasa ketinggalan zaman ketika kita membaca al-Qur’an? Sementara orang lain membaca buku-buku karya penulis barat. Kenapa seolah-olah buku-buku bacaan, koran dan surat kabar justru menjadi menu wajib sehari-hari di ruang baca kita, sementara al-Qur’an tak lebih dari sekedar pajangan di rumah kita yang kita, pajang di rak buku sampai debu-debu menghiasinya saking tak pernah dibacanya, gumam hatiku.

Sejak aku membeli mushaf hingga sekarang mushaf pun hanya aku pajang di rak buku sampai debu pun menghiasinya. Saking tidak pernah aku baca.

Sebentar lagi jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Kami -aku dan Zayan- bersegera untuk berangkat ke tempat halaqoh dengan tepat waktu. Kami berangkat ke sana naik motor.

Jarak antara kostanku dengan pondok An-Nahl hanya dua kilometer. Hanya butuh beberapa menit saja kami pun sampai di depan pondok An-Nahl.

Aku buka pagar pondok dan melangkahkan kaki ke dalam lingkungan pondok. Kami langsung menuju ke masjid An-Nahl di mana letaknya tepat di samping pondok An-Nahl.

Sesampai di depan masjid terlihat di dalam masjid sana sudah kumpul beberapa teman halaqoh-nya Zayan. Dan aku pun melihat di dalam sana Kang Luthfie sebagai murabbi, beliaulah yang akan mengisi halaqoh kita nanti.

Assalamu’alaikum,” serempak salam kami pada seisi masjid.

Walaikumsalam,” serentak jawab mereka.

Kang Luthfie yang pertama kali aku ajak jabat tangan. Kemudian disusul dengan teman-teman.

“Maaf ustadz, telat!” ucapku dengan senyum.

Nggak kok, Akh! Baru aja dimulai,” jawab salah satu sahabat yang di samping Kang Luthfie.

Sewaktu aku dan Zayan datang, Kang Luthfie sedang memberikan materi.

“Al-Qur’an adalah ibarat air dalam kehidupan ikan, ikan hanya bisa hidup di dalamnya. Mulai dari plankton ikan yang terkecil, sampai ikan hiu, atau jenis mahluk air apapun hanya dapat tinggal jika airnya mencukupi, mereka akan dengan segera mati ketika terjebak dalam air yang dangkal atau terseret oleh gelombang laut, tak peduli ikan apa itu, ketika ia tidak berada di air, ikan itu Insya Allah akan mati dengan segera,” sejenak kang Luthfie menghentikan penjelasannya.

Sesudah menghela nafas, Kang Luthfie melanjutkannya. “Ikhwah Fillah, al-Qur’an itu ibarat air, maka kita, yang mengaku orang Islam ibarat ikannya. Bayangkan kembali bagaimana menderitanya ikan yang berada di air dangkal yang tidak sesuai dengan porsinya, atau renungkan kembali ikan yang terseret gelombang ke daratan, ia pasti akan mati. Kembali pada kita, mungkinkah kita hidup tanpa al-Qur’an? Jawabannya, Insya Allah mungkin. Tapi kalau ditanya lagi, selamatkah kita hidup tanpa al-Qur’an? Jawabanya, Insya Allah kita akan segera “mati”. Sama persis seperti ikan yang kehabisan air. “Mati” di sini bukan hanya berarti kematian secara syari’at di mana ruh kita diambil kembali oleh pemilik-Nya dan jasad kita dikubur dalam tanah. “Mati” di sini dapat berarti mati hatinya, mati aqidahnya, mati rasa kemanusiaanya, mati pendengaran dan penglihatan bathinnya. Sehingga kita hanya akan menyerupai mayat yang bisa berjalan, yang punya hati tapi tak merasa, punya mata tapi tak melihat, punya telinga tapi tak mendengar kalamullah, mati, karena memang mata, hati, dan pendengaran kita ditutup oleh Allah.”

Kemudian Kang Luthfie langsung menutupnya dengan ucapan salam “Assalamu’alaikum Wr. Wb.”

Syukron jazakumallah khoir kepada Kang Luthfie yang sudah memberikan tausiyah singkatnya. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari materi yang baru saja Kang Luthfie sampaikan itu. Karena kita butuh syafaat, maka dari itu kita harus sering-sering membaca al-Qur’an. Dengan membaca al-Qur’an akan didapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. Di samping itu, akan melahirkan kebersihan jiwa, kejernihan perasaan dan mempertebal ketakwaan. Membaca al-Qur’an merupakan kebaikan dan merupakan syafaat yang akan diberikan pada hari Kiamat kelak. Seperti sabda Rasulullah Saw, yaitu Bacalah al-Qur’an, karena pada hari Kiamat, al-Qur’an akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya. Lebih-lebih kita bisa menghafalkannya. Karena menghafal al-Qur’an merupakan keutamaan yang besar. Melalui hafalan, hati akan lebih hidup dengan cahaya kitabullah, manusia juga akan segan dan menghormatinya. Bahkan dengan hafalan itu, maka derajat kita akan ditinggikan oleh Allah. Semakin banyak hafalan semakin ditinggikan derajat kita, sesuai dengan banyaknya hafalan yang kita miliki selaku umat muslim,” ucap singkat pemuda yang di samping kanan kang Luthfie.

Kemudian pemuda tersebut mengutip satu hadits lagi sebagai penutup, hadits yang diriwayatkan dari Abu Dawud dan Tirmidzi, “Dikatakan kepada orang yang menghafal al-Qur’an, bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia dengan tartil. Karena kedudukanmu (di surga) sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.”

Itulah kalimat terakhir dari pemuda yang berada di samping kanan Kang Luthfie. Entah siapa namanya. Aku pun tidak tahu. Karena diriku belum berkenalan dengan teman-teman yang ada di sini. Termasuk dengan pemuda tersebut. Pikirku, mungkin di akhir pertemuan ta’lim ini baru kita saling memperkenalkan diri.

==**==

Novel Pesan untuk Nai (part4)

4

Niatku Mendonorkan Mata

Minggu, 2 November 2008 pukul satu siang. Di markas sudah terdapat beberapa temanku. Sekitar 4 orangan. Mereka telah disibukkan oleh kesibukan yang mereka buat sendiri. Doni sibuk menyiapkan minuman. Sementara Fadil sibuk berpacaran. Cinta mereka terjalin atas nama nafsu. Marcell sedang asyik membersihkan motor. Sementara Anton sedang sibuk berbincang-bincang denganku. Aku dan Anton melihat ke sekeliling. Kudapati teman-temanku ini bersibuk diri.

Dua jam telah berlalu. Dua jam pula kami telah asyik menenggak minuman beralkohol. Semua temanku dibuat teler oleh minuman beralkohol ini. Aku lihat arlojiku. Serasa begitu cepat hari ini. Sampai-sampai jarum arlojiku menunjuk angka tiga. Aku pun segera pergi dari tempat ini dengan keadaan mabuk. Aku terlalu banyak minum tadi itu. Kepalaku pening. Dunia seolah-olah berputar pelan. Tubuhku demikian ringan. Seakan-akan kakiku melayang di atas tanah.

Kemudian aku pamit.

“Hai coy, gue pulang dulu ya soalnya besok gue ada ujian. Gue cabut dulu ya…”

“Iya…hati-hati coy nyetir mobilnya, loe kan lagi mabuk,” ucap Doni dalam keadaan mabuk.

Loe tuh yang mabuk. Mobil dari Hongkong. Gue kan ke sininya jalan kaki tahu,” jawabku.

Kemudian langkah kaki pertamaku aku mulai langkahkan untuk segera meninggalkan tempat ini. Tempat di mana kami semua berkumpul dan tempat nongkrong kami semua.

Aku jalan kaki karena memang jarak antara markas dengan kostanku tidak begitu jauh. Hanya berkisar 2 kilometeran. Langkah demi langkah pun telah berlalu. Sementara semilir angin sore menjamah dedaunan kering seperti halnya dia menjamah wajahku, meriap-riapkan ujung-ujung rambutku. Aku menapaki jalanan aspal ini.

Mendadak aku hentikan langkahku ini karena barusan aku mendengar jeritan perempuan minta tolong. Jeritan yang meminta kepada siapa pun yang mau menolongnya. Kepada siapa pun yang mendengar jeritannya itu. Sungguh jelas suara itu suara perempuan. Setelah kuperhatikan dengan seksama kudapati suara itu berasal dari dalam hutan kecil yang berada di ujung jalan sana.

Kudatangi sumber suara itu. Aku lari. Dan lari. Dan terus berlari. Dengan agak sempoyongan aku terus ,mencari sumber suaranya. Aku melangkah gontai menuju dalam hutan kecil. Setelah aku temukan sumber suara itu dari mana asalnya. Ternyata benar adanya. Tepat di depan mataku terlihat seorang pemuda bangsat. Dia buas bagaikan binatang. Sungguh hinanya dia. Pemuda itu tega memperlakukan gadis tuna netra laiknya gadis murahan.

Padahal gadis tuna netra yang mau dia perkosa itu sudah menjaga dirinya dengan jilbab besarnya. Entah setan apa yang membuat pemuda itu sehingga tega berbuat begitu. Pemuda brengsek itu hampir memperkosa gadis tak berdaya itu kalau saja aku tidak segera menolongnya. Karena tangisan gadis berjilbab itu membuat aku nekad dan berani. Kulihat di wajah cantiknya ada rasa ketakutan yang mendalam.

“Hai brengsek, lepasin nggak…!!!” teriakku dari kejauhan.

Lalu aku menghampirinya. Hingga jarakku dengan dia hanya satu meteran.

“Ada pahlawan juga nih tapi sayang pahlawan mabuk,” ejek pemuda itu.

“Hei loe, banci. Jangan beraninya sama gadis buta aja. Sini lawan gue kalo berani,” kubalas ejeknya.

“Punya nyali juga nih orang,” jawab pemuda itu.

Lalu pemuda itu mendekatiku. Aku siap-siap kalau-kalau dia mendadak menyerangku.

“Hei pemabuk, sekarang juga loe enyah dari hadapanku. Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya,” pemuda itu mengancamku.

“Aku tidak takut sama loe. Loe kan banci. Beraninya sama anak gadis saja,” ejekku.

Pemuda itu menunduk. Tiba-tiba dia melemparkan kepalan tangannya tepat mengenai tengkukku. Aku lengah dibuatnya. Darah pun mengucur akibat pukulan kerasnya. Darah segarku mengalir dari hidungku hingga jatuh ke tanah. Aku tak berdaya. Lemas rasanya kakiku ini untuk bangkit. Kepalaku pusing. Seperti berputar-putar. Pusing sekali. Benar-benar pusing.

“Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Meskipun hamba sering melupakan-Mu. Engkau Maha Pengasih, lagi Maha Pengampun. Saat ini, aku benar-benar membutuhkan pertolongan-Mu. Izinkan aku untuk melawan dia. Beri aku kekuatan. Karena dia sudah melecehkan gadis tuna netra yang sholehah ini. Gadis ini pasti kekasih-Mu. Jadikan aku tentara-Mu meskipun hanya saat ini saja. Aku sudah geram. Perbuatan pemuda bangsat ini tidak bisa didiamkan. Aku tidak peduli kalau pun aku mati ditangan bangsat ini. Mati pun aku bahagia,” ucapku dalam hati.

Sekali lagi. Pemuda itu menendang wajahku. Aku tersungkur menahan kesakitan. Pasrah aku. Kalau pun malaikat Izrail mengambil nyawaku saat ini juga. Aku rela. Meskipun mabuk. Tapi hatiku tidak sedikit pun mabuk. Hati ini ikhlas menolong gadis buta ini. Aku pasrah sudah.

Jikalau memang Allah SWT mentakdirkan hidupku berakhir di tangan pemuda brengsek ini, aku mengikhlaskannya. Aku hanya bisa berpasrah kepada Pemilik nyawaku. Mungkin, inilah azab yang harus aku terima secara langsung di dunia ini, atas segala dosa-dosaku dan kesalahan-kesalahanku yang hampir kulakukan sepanjang usiaku.

Sungguh aku pasrah. Apa arti sakitnya tubuhku akibat tendangan dan pukulan ini. Apa artinya luka di wajahku ini. Apa artinya darah yang mengucur deras ini? Sungguh tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan pedihnya siksa neraka jahannam kelak. Ya Allah, amat sedikit kebaikan yang aku lakukan selama ini jika dibandingkan dengan noda hitam dan dosaku. Cukupkah kebaikan hatiku ini menjadi pertimbangan bagi-Mu untuk mencatatku kedalam barisan jamaah hamba-hamba-Mu yang sholeh dan masuk kedalam surga-Mu.

Aku ingin melawan, tetapi tubuhku rapuh. Aku jatuh. Kepalaku pening. Kepalaku tak sekeras batu. Aku memiliki kepala yang lemah. Kudapati sekitarku terasa berputar-putar.

Aku seseorang yang berhobi berkelahi. Yang aku harapkan saat ini adalah hanya kemenangan. Berkelahi adalah kegemaranku. Tapi kalau keadaanku seperti ini. Kegemaranku berkelahi seakan menjelma menjadi pecundang sejati.

“Brengsek. Sini maju…!” teriakku ketika kekuatan untuk bangkit mulai sedikit terkumpul.

Sejurus kemudian, kami berdua sudah terlibat dalam perkelahian yang cukup sengit. Dia memukulku, dan menendangku. Pukulan pemuda itu aku balas dengan pukulan lagi, dan tendangannya kubalas dengan tendangan lagi. Meski ada rasa sakit dalam diriku. Tak apalah. Aku harus menolong gadis ini. Lagi pula aku berada di pihak yang benar, sedangkan dia berada di pihak yang salah lagi munkar. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku tak tega melihat gadis diperlakukan seperti itu. Bagiku wanita adalah sebaik-baiknya pahlawan. Karena para mujahid maupun pahlawan itu terlahir dari rahim seorang perempuan.

Gadis buta itu mencoba berteriak minta tolong. Tidak lama kemudian warga berbondong-bondong menuju kami. Pemuda itu pun berkata kepada para warga.

“Hajar dia Bang, dia mau memperkosa gadis buta ini,” ucap fitnahnya pada warga.

Betul-betul keji perbuatannya. Selain dia membuatku babak belur, dia juga telah memfitnahku. Sungguh fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Lebih baik aku mati dibunuh daripada mati meninggalkan fitnah. Lindungilah aku ya Allah dari fitnah ini. Engkau Maha Mengetahui, dan hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati hamba-hamba-Mu.

Warga pun termakan oleh fitnahnya. Warga lalu beramai-ramai menghakimiku dengan pukulan-pukulan mereka. Aku pun terkapar setelah mendapatkan pukulan keras dibagian kepalaku. Karena aku dapat hantaman kayu balok yang besar dari warga, aku tersungkur dengan darah segar yang masih menempel di rambut kepalaku.

Mendengar aku dipukuli, gadis buta itu berkata. “Masya Allah,” ucap gadis itu, Naila Muazara Ulfa. “Pak sebentar…!” ucap lanjut Naila, “Bapak tidak berhak mendzalimi orang yang nggak salah!”

Kulihat Naila mencoba melindungiku dari amukan warga. Malah Naila sempat terkena pukulan warga akibat dia menghalang-halangi warga untukku.

“Lebih baik Neng minggir dan diam saja, biar kami yang membereskan masalah ini,” ucap salah satu warga yang berambut gondrong.

“Pak, demi Allah. Bukan dia orang yang mencoba memperkosa saya,” ucap Naila mencoba meyakinkan warga.

“Apa benar yang barusan Neng katakan itu. Apa buktinya kalau memang dia bukan pelakunya,” ucap lanjut warga berambut gondrong itu.

“Bohong! Saya melihat dengan kepala saya sendiri, kalau dia yang mencoba memperkosa gadis buta itu,” sahut si pemuda brengsek tadi mencoba meyakinkan warga.

“Pemuda yang memfitnah orang yang kalian pukuli itulah pelaku sebenarnya. Dia yang mencoba memperkosa saya. Demi Allah dia, saya kenal dengan suara ini. Saya mendengar dengan jelas, tadi dia bilang mabuk ke orang yang bapak pukulin ini. Waktu saya menjerit minta tolong orang yang kalian pukuli ini datang menolongku dalam keadaan mabuk. Berarti tadi yang menolong saya adalah orang ini. Karena dia sedang mabuk,” kata tegas dari seorang gadis buta.

“Kalau gitu, kita cium saja bau mulutnya. Kalau memang mulutnya bau alkohol, berarti benar dia habis mabuk-mabukan,” saran salah satu warga.

“Biar saya aja,” usul salah satu warga yang berambut gondrong. Setelah membaui mulutku, warga itu berkata, “Iya Neng benar, mulutnya bau alkohol. Berarti bukan ia pelakunya.”

Akhirnya tercium juga fitnah pemuda itu oleh warga. Pemuda brengsek itu bingung. Pemuda brengsek itu ketakutan. Pemuda brengsek itu panik. Pemuda brengsek itu gemetaran. Pemuda brengsek itu dihantui rasa takut yang amat dalam. Sehingga tidak ada jalan lagi baginya. Dia milih jalan lari dari kejaran warga. Menyelamatkan diri dari amukan warga. Meskipun usahanya untuk lari dari amukan warga sempat berhasil. Tetapi Allah Swt Maha Adil, akhirnya dia pun tertangkap juga lalu digelandang ke kantor polisi.

Baru saja aku melihat kebesaran Allah SWT, yang telah memenangkan kebenaran dan mengalahkan yang salah. Sesaat kemudian, aku jatuh pingsan. Aku tergeletak di bawah pohon cemara yang ada di dalam hutan kecil ini.

==**==

Pagi harinya, ketika aku terbangun. Ketika aku tersadar. Jarum jam telah menunjukkan angka tujuh. Aku terbangun di kala pagi yang sejuk.

Lidahku pun berucap, “Sekarang gue lagi di mana? Tempat apaan ini?” tanyaku sambil kebingungan.

Spontan lidah ini berucap kesakitan. “Aduh…” teriakku.

Sesaat kemudian, aku lihat ada orang yang turun dari atas ranjang tingkat dan mencoba menghampiriku. Dengan pelan langkahnya mendekatiku. Lalu dia duduk di sebelahku.

“Tenang Akh, jangan banyak bergerak. Istirahat lagi aja dulu,” saran orang itu.

Loe siapa?” tanyaku pada pemuda yang duduk di sebelahku.

“Panggil saja Akmal. Tadi antum pingsan, Akh. Terus ada warga yang membawa antum ke tempat ini,” jelas Akmal.

“Syukur kalau antum sudah sadar, Akh. Sekarang gimana keadaan antum? Sudah mendingan?” tanya Akmal.

“Belum. Oh iya, thanks ya. Bagaimana pun juga orang di sini sudah nolongin gue.”

“Iya ini sudah kewajiban kami Akh. Antum tiduran lagi saja.”

Lalu Akmal menyelimutiku. Dan aku pun tertidur kembali.

==**==

Dua jam kemudian aku terbangun kembali. Jam sembilan. Aku buka mata lebar-lebar. Sewaktu mataku terbuka. Aku lihat temanku Zayan berdiri di samping ranjang di mana aku tidur. Zayan menanyakan kabarku. Aku jawab Alhamdulillah sekarang sudah agak baikkan. Zayan pun membawa serantang bubur ayam untukku. Zayan memang teman baikku. Aku ucapkan terima kasih banyak kepada Zayan. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Zayan.

“Semoga Akh Zuhdi cepat disembuhkan dari sakit Akh Zuhdi ini oleh Allah,” ucap Zayan.

“Terima kasih, Yan atas doanya,” imbuhku “hari ini kan elo ada kuliah, Yan. Kenapa malah ke sini?”

“Iya Akh, sebentar lagi saya mau kuliah. Sekarang masih ada waktu sekitar setengah jam lagi.”

“Oh iya, Yan, Farha sudah tahu belum kalau gue lagi dirawat di sini? Terus kalau boleh tahu, ini tempat apaan, Yan?” tanyaku.

“Kalau masalah Farha sudah tahu atau belum Akh Zuhdi lagi dirawat di sini, saya kurang tahu, Akh,” tambah Zayan, “sekarang Akh Zuhdi lagi di Pondok An-Nahl”.

“Pondok An-Nahl?”

“Iya, Akh.”

“Tempat apaan? Dan siapa yang membawa gue ke sini?”

“Pondok An-Nahl semacam tempat terapi bagi mereka yang pecandu narkoba, Akh. Setelah saya dengar cerita dari Akh Akmal, salah satu santri di sini. Katanya sewaktu Akh Zuhdi lagi menolong seorang perempuan. Akh Zuhdi difitnah oleh seorang pemuda yang di mana pemuda itu sempat memperkosa seorang perempuan. Lalu Akh Zuhdi dihantam benda keras oleh warga sehingga jatuh pingsan. Saat itu juga warga  tahu kalau Akh Zuhdi bukan pelakunya. Setelah mendengarkan penjelasan dari perempuan yang sempat jadi korban  pemerkosaan. Hingga akhirnya warga percaya dan warga membawa Akh Zuhdi ke tempat ini,” jelas Zayan.

“Oh iya Akh, Akh Zuhdi masih ingat nggak waktu Akh Zuhdi tidak sadarkan diri setelah memakai narkoba. Kan waktu itu juga Akh Zuhdi dirawat di sini juga. Masih ingat nggak?” imbuh Zayan.

“Oh iya gue ingat, Yan!. Yang waktu itu elo lagi ngobrol sama ustadz bukan?”

“Betul, Akh.

“Ya Allah, kenapa engkau menakdirkan aku sampai ke tempat ini. Sampai dua kali lagi. Ada apa dengan semua ini ya Allah?”

Insya Allah setiap kejadian itu pasti ada hikmah yang tersembunyi di dalamnya kalau kita orang yang berakal dan bersyukur, Akh.”

“Semoga gue termasuk juga di dalamnya, Yan. Doakan gue, Yan”

“Iya, Akh.

“Oh iya Yan, gue mau curhat!”

“Silahkan saja Akh mau curhat apaan?”

Gini, Yan. Ini soal akhwat. Dua minggu yang lalu waktu gue bertengkar kecil dengan Farha, saat gue melihat segerombolan akhwat yang baru ke luar dari dalam masjid Husnul Khotimah, gue melihat ada akhwat tuna netra. Dia cantik sekali. Entah kenapa gue suka sama akhwat itu, Yan. Menurut loe, gue pantas nggak mencintai wanita secantik dan sesholehah dia? Loe kan tahu sendiri gue kaya gimana orangnya. Gue hanya manusia pendosa yang tak tahu agama.”

“Kalau Akh Zuhdi bener-bener suka sama dia. Akh Zuhdi minta saja ke Allah. Kan akhwat itu milik Allah. Jadi Akh Zuhdi harus minta langsung ke pemiliknya saja. Yaitu Allah SWT,” jawab Zayan.

Insya Allah gue bener-bener suka sama dia, Yan!”

“Nama akhwat itu siapa, Akh?” tanya Zayan.

“Naila namanya,” jawabku.

“Naila ya Akh…?”

“Iya,” lanjut ku “Loe kenal nggak Yan sama Naila?”

“Kalau akhwat itu benar Naila Muazara Ulfa, saya kenal, Akh. Terus dia juga tuna netra.”

“Kalau nama lengkapnya sih gue nggak tahu, Yan.”

“Mungkin benar dia itu Naila. Siapa, Yan?”

“Naila Muazara Ulfa,” jawab Zayan.

“Oh, iya.”

Aku diam sejenak. Lalu aku bertanya kembali ke Zayan.

“Terus kalau gue minta ke Allahnya biar mata gue didonorkan ke Naila, kira-kira Allah mengabulkannya nggak ya, Yan?”

Akh, hati-hati kalau berkata itu. Nanti bisa jadi kenyataan, bagaimana?”

Gue serius Yan. Suatu saat nanti gue berniat mendonorkan kedua bola mataku ini ke Naila. Tapi nggak tau kapan waktunya. Mungkin kalau gue sudah meninggal nanti”

Wallahu’alam, Akh.

“Mau tidak loe jadi saksi kalau gue ini benar-benar dan serius mau mendonorkan mataku ini kalau nanti gue sudah meninggal?”

Insyaallah,

Alhamdulillah,

“Caranya?” tanya Zayan dengan tegas.

“Caranya dengan surat wasiat. Nanti gue mau bikin surat pernyataan yang di dalamnya berisi ketersediaanku untuk mendonorkan kedua bola mataku ini ke Naila.”

“Maksudnya nanti saya jadi saksi dengan cara menandatangi surat pernyataan itu, Akh?”

“Iya, Yan,” tambahku kemudian, “loe mau, kan?”

Insya Allah selagi itu baik, dan selagi saya masih hidup di dunia saya mau jadi saksi dan melaksanakan wasiat dari Akh Zuhdi.”

“Saya salut sama antum, Akh. Antum benar-benar mencintai dia karena Allah  bukan karena nafsu semata,” imbuh Zayan.

“Ah loe bisa saja, Yan. Gue saja belum bisa mencintai diri sendiri karena Allah. Apalagi mencinta orang lain karena Allah. Gue belum pantas, Yan.”

Zayan terdiam. Aku sambung lagi dengan pembicaraan soal surat wasiat yang nanti aku buat.

“”Oh iya Yan, kira-kira gue di sini sampai kapan ya?”

“Sampai Akh Zuhdi sembuh, lah.

“Tapi sekarang gue sudah mendingan kok.”

“Iya mendingan. Tapi belum sembuh total, kan?”

“Emang boleh kalau gue berlama-lama tinggal di sini?”

“Boleh banget, Akh

“Saya sudah membicarakan soal Akh Zuhdi untuk tinggal beberapa lagi di sini dengan ustadz Luthfie.”

“Benar, Yan?”

Zayan hanya tersenyum. Aku amat bahagia mendengarnya. Karena aku telah diizinkan untuk tinggal di sini meskipun hanya beberapa hari saja.

Tiba-tiba rasa bahagia ini menimpaku. Entah ada gejala apa yang ada di dalam hatiku saat ini. Sesaat kemudian kebahagiaanku menjadi berlimpah-limpah. Suasana hatiku tiba-tiba berdendang.

“Untuk masalah surat keterangan sakit, Akh Zuhdi nggak usah khawatir, karena suratnya sudah ada di tangan saya.”

Kemudian Zayan memperlihatkan suratnya kepadaku.

“Kok banyak sekali, Yan? Terus siapa yang bikin?”

“Iya, Akh. Ustadz Luthfie yang bikin. Kata beliau sih biar enak, biar satu dosen dapat satu surat. Dengan begitu Akh Zuhdi bisa menggunakan hak Akh Zuhdi itu untuk tidak masuk kuliah dulu.”

“Emang loe teman baik gue, Yan. Thank’s brow.”

Okay, kalau begitu saya mau berangkat kuliah dulu akh. Karena lima menit lagi pukul setengah sepuluh.”

“Sekali lagi terima kasih, Yan”

Sekali lagi Zayan menjawabnya hanya dengan senyuman. Sebelum pergi Zayan terlebih dahulu mengucapkan salam “Assalamu’alaikum

Aku jawab salamnya dengan jawaban sempurna, “Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

==**==

Sepuluh menit setelah kepergian Zayan. Tampak di depan mata aku melihat sesosok pemuda yang berpeci berpakaian koko dengan sarungnya. Ia menuju ke kamar di mana aku dirawat. Di depan pintu orang itu mengetuk pintu terlebih dahulu sambil mengucapkan salam. Aku pun menjawab salamnya. Lalu dia mendekatiku. Dia berdiri di depanku. Dan berkata. “Bagaimana kabar antum sekarang?” kata orang itu.

Alhamdulillah sekarang saya sudah baikan.”

“Maaf sebelumnya. Mau bertanya. Akang itu ustadz Luthfie, bukan?” tambahku.

“Iya Akh, ana Luthfie”

Tanpa dikomando lagi aku mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau.

Lalu beliau duduk di sebelah kananku. Tangan kanan beliau mengelus-ngelus punggungku sambil mengucapkan “Semoga Allah semoga mencurahkan rahmat-Nya kepadamu Akh. Antum memang pemuda yang luar biasa. Engkau selalu melindungi perempuan yang lemah. Ana salut sama antum. Terus berjuang, Akh,” ucap ustadz Luthfie.

Sejenak aku diam. Sambil berfikir. Apa betul aku ini sebaik itu. Duh Allah, pantaskah aku mendapatkan pujian itu? Mungkin karena beliau tidak mengetahui aib-aibku. Sehingga beliau memuji-mujiku seolah-olah aku pemuda yang baik. Sungguh, jikalau Engkau membeberkan semua kejelekan-kejelekanku di depan beliau. Pasti beliau tidak akan memujiku maupun menghormatiku.

Aku alihkan saja pembicaraan ustadz Luthfie dengan bertanya kepada beliau.

“Kang, bolehkah saya tinggal di sini untuk sementara?”

“Dengan senang hati, kami semua di sini menerima Akh Zuhdi sampai Akh Zuhdi tidak betah lagi di pondok ini?”

“Bagi saya tidak alasan untuk tidak betah tinggal di sini. Suasana pondok ini sungguh masih asing bagi saya. Karena baru dua kali saya berada dil ingkungan pondok An-Nahl ini. Namun, saya senang sekali berada di sini. Sekali lagi terima kasih banyak Kang atas kebaikan sahabat semua yang sudah menolongku.”

“Kalau begitu Akh Zuhdi sekarang istirahatlah,” suruh ustad Luthfie.

“Makasih, Kang…”

“Iya sudah ana tinggal dulu ke belakang ya, Akh…”

“Iya, Kang.”

Semoga sakitku ini menjadi penggugur dosa-dosaku yang selama ini sudah menumpuk. Entah seberapa besarkah dosa-dosaku jikalau dihitung. Mungkin dosaku sebesar Gunung Uhud. Bisa juga lebih.

==**==

Waktu terus bergulir. Hingga hari ke empat aku masih menetap di Pondok An-Nahl.

Selama empat hari ini di Pondok An-Nahl, aku selalu mendapat ketenangan jiwa. Semangat untuk terus menjadi Muslim sejati pun mulai terbuka. Dan selama aku di Pondok An-Nahl. Aku juga mendapati penghuni Pondok An-Nahl ini tiap harinya berkumpul di masjid. Di masjid mereka menghadiri pengajian. Nama masjidnya pun sama dengan nama pondok, yaitu Masjid An-Nahl. Mereka setiap hari, tepatnya tiap ba’da Ashar, dan ba’da Maghrib mereka selalu mengikuti pengajian di masjid An-Nahl. Aku pun telah dua kali mengikuti pengajian rutin di sini. Saat pertama kali aku mengikuti pengajian di masjid An-Nahl rasanya berat sekali. Rasa kantuk terus menghampiriku. Namun, setiap kantuk datang, aku tangkis dengan air wudhu. Dan waktu itu, ustad yang mengisi pengajian adalah seorang ustadz yang berjenggot tebal. Aku pikir ustadz tersebut bukan asli orang Bandung. Karena wajahnya mirip orang Arab. Namun, setelah aku diberi tahu oleh sahabat-sahabat di sini, ternyata beliau asli orang Bandung dan beliau yang berjenggot tebal itu adalah pimpinan pondok An-Nahl. Namanya ustadz Jabar. Nama lengkapnya ustadz Jabar Asyamie. Materi yang disampaikan oleh ustadz Jabar waktu itu adalah tentang pentingnya mengingat kematian.

Beliau menjelaskan bahwa persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujudkan kecuali dengan selalu mengingat kematian di dalam hati. Sedangkan untuk mengingat di dalam hati tidak akan terwujudkan kecuali dengan selalu mendengarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusia pun melalaikannya. Inilah pelajaran yang pertama kali aku dapatkan sewaktu mengikuti pengajian di sini, di Pondok An-Nahl.

Dan sekarang adalah hari kelimaku di pondok An-Nahl. Sore pun telah lewat dan malam telah datang menjelang. Ini malam Jum’at. Malam di mana para santri sini sedang menghabiskan waktunya ber-mujahadah di masjid. Di kamar ini menjadi sepi. Aku berada dalam kesunyian malam.

Saat malam menjelang pukul 23.00, aku terbangun dari tidurku sebab mendengar suara gaduh di luar sana. Entah apa yang terjadi di sana. Aku tidak tahu. Dengan membawa rasa penasaranku aku putuskan untuk keluar dari kamar ini. Untuk melihat sedang terjadi peristiwa apa di luar sana. Dan  sewaktu aku bangun dari tidurku. Aku mendengar langkah kaki yang berlarian. Aku langkahkan kakiku menuju pintu. Pintunya aku buka.

Para penghuni pondok An-Nahl berlarian menuju ke bawah anak tangga. Dan benar adanya, di sana, di bawah anak tangga ada kerumunan sahabat-sahabat. Kemudian aku hampiri kerumunan tersebut. Sesampai di kerumunan kulihat Kang Luthfie sedang menuntun orang yang sedang mengalami sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat dua syahadat dan kalimat istighfar. Sekali, dua kali, hingga sampai berkali-kali, namun tetap saja orang ini tidak mampu mengucapkan kalimat istighfar maupun kalimat dua syahadat hingga sampai tiba ajalnya.

Dia meninggal di pangkuannya Kang Luthfie.Dia meninggal dengan mulut berbusa dan mata memerah. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Kalimat inilah yang diucapkan oleh kita semua. Kalimat yang mengingatkan kita akan kematian.

“Semua berasal dari Allah. Semuanya pun akan kembali kepada-Nya,” ucap kang Luthfie.

“Dan sungguh Allah Mahabesar ketika berfirman: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” imbuh kang Luthfie.

==**==

Keesokan harinya, pukul 07.00 WIB. Para penghuni Pondok An-Nahl ikut menyolatkan jenazah. Ustadz Jabar menjadi imam shalat jenazah itu.

Pukul 09.00 WIB. Keluarga dari almarhum datang untuk mengambil jenazah. Karena jenazah akan dikuburkan di tempat di mana almarhum tinggal, yaitu di kota Majalengka.

==**==

Novel Pesan untuk Nai (part3)

3

Aduhai, Cantiknya Masyaallah

Seminggu kemudian. Hari Minggu, tanggal 19 Oktober 2008. Harinya untuk berolahraga. Jogging, bermain sepak bola, renang, dan senam. Itulah olahraga yang terlihat mewarnai di lingkungan kampus UPG Bandung. Ibu-ibu, bapak-bapak, para mahasiswa, mahasiswi, yang muda, yang tua, bahkan anak-anak berbondong-bondong berolahraga.

Jam enam pagi saja sudah mulai berdatangan orang-orang yang ingin berolahraga. Namun aku dan Farha sudah mulai jogging mulai dari jam tujuh.

Karena sudah lama aku tidak jogging dan baru jogging lagi, rasa capek cepat terasa sekali datangnya. Dan nafas yang tersengal-sengal sewaktu lari-lari di kawasan Pondok Hijau Indah.

Dipikir sudah kelelahan. Kami pun berhenti sejenak untuk istirahat. Farha mengeluarkan botol minuman yang ia sengaja bawa dari kostan.

“Aa, minum dulu nih,” suruh Farha sambil menyodorkan botol minumannya.

Aku menatapnya. Aku lemparkan senyum manisku kepada Farha.

“Farha nggak haus?” tanyaku.

“Farha belum haus pisan kok, A. Nggak seperti Aa. Baru sebentar kok sudah kecapean gitu. Aa mah payah.”

“Enak saja Farha bilang Aa payah.”

“Emang bener, Aa payah.”

“Farhaaaa………….”

Farha berdiri. Kemudian berlari sambil meledekku.

“Weh..Aa payah”

Aku kejar Farha. Setelah mendekat aku tangkap Farha.Ku gapai tangannya.Aku tarik Farha ke arahku.Tidak sengaja tubuh Farha jatuh di pelukanku. Kami berdua pun jatuh ke tanah.Tubuhku tertindih oleh tubuhnya Farha. Kami saling memandang.Tiba-tiba Farha memejamkan matanya. Nampaknya Farha ingin menciumku. Pelan-pelan bibir mungilnya mendekati bibirku. Semakin mendekat dengan sengaja aku siramkan air mineral ke kepala Farha.

Rambut Farha basah.Karena kaget. Farha pun membuka matanya. Farha marah kepadaku. Lalu Farha meninggalkan aku begitu saja. Dia pergi dengan mulut manyun. Padahal awalnya aku hanya bercanda. Mungkin candaanku sudah terlaluan. Sampai-sampai Farha marah kepadaku.

Aku kejar. Segera aku meminta maaf kepadanya. Aku jelaskan kalau yang barusan itu hanya bercanda. Farha diam. Ku pegang tangannya. Aku angkat kedua tangannya. Ku pegang erat-erat. Malah Farha menyuruhku untuk melepaskan tangannya itu.

Aku bingung. Aku menyerah. Beginilah kalau Farha lagi marah. Diam seribu kata. Kadang juga judes. Dan suka manyun pula. Tiba-tiba Farha minta pulang.

Lalu aku antarkan Farha pulang ke kostan. Selama di jalan. Farha diam saja. Membisu.Benar-benar aku dibuat kebingungan olehnya.

Sesampai di gang yang mau belok ke masjid Husnul Khotimah, masjid yang terletak di Geger Arum, tidak sengaja mataku tertuju kepada segerombolan akhwat yang baru saja keluar dari dalam masjid.

Di antara segerombolan akhwat itu. Aku dapati satu dari enam akhwat, ada seorang akhwat yang tuna netra sedang dituntun oleh salah satu dari temannya. Sementara tangan kanannya memegang tongkat. Sungguh akhwat itu sangat cantik. Mendadak hatiku terpikat kepadanya. Aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku kepadanya.

Lihatlah wajahnya. Wajahnya yang berbalut jilbab putih yang panjang itu. Wajah yang demikian bersih. Aura spiritualnya demikian memancar di sana. Dan kurasakan demikian menggetarkan hatiku. Siapakah akhwat ini? Akhwat yang sudah membuat hatiku terpikat akan kecantikan dan kesholehannya itu.

Setelah langkah kaki kami sampai di depan masjid. Langkahku menjadi terhenti. Karena Farha mendadak berhenti. Sebentar kemudian, Farha menyapa mereka dengan salam.

Assalamu’alaikum..”

Mereka serempak menjawab, “Wa’alaikumsalam wr.wb.

Farha pun menyapa akhwat yang sudah membuat hatiku terpikat kepadanya.

“Nai, ini Farha. Oh iya, kapan ada kajian lagi? Sudah lama nih Rha nggak ikutan pengajian” tanya Farha.

Oh, jadi akhwat ini namanya Nai, gumam hatiku. Nama yang cantik sesuai paras wajahnya. Terus saja hatiku memuji-muji kecantikannya.

Insya Allah Rha, seperti biasanya pekan depan di Masjid Husnul Khotimah ada pengajian rutin. Di tunggu kedatangannya,” tutur Naila.

Insya Allah,” jawab singkat Farha.

“Rha habis dari mana?” tanya Naila.

“Rha habis jogging di Pondok Hijau.”

“Suka jogging di Pondok Hijau juga ya Rha?” tanya Naila kembali.

“Iya kadang-kadang sih. Seringnya di track.

“Kami juga sering ke Pondok Hijau kok, Rha,” kata akhwat yang di samping kiri Naila.

Jogging juga?” tanya Farha.

“Bukan. Kami kesana bukan untuk jogging. Tapi Ana sama ukthi Naila ke Pondok Hijau hanya sekedar menikmati pemandangan saja. Sambil bermain biola,” jawab akhwat yang tadi.

Naila! Sungguh cantik dikau, hatiku kembali bergumam.

“Ayo Rha, aku pamit duluan.”

“Mangga, Ukhti.”

“Hati-hati, Ukht,” imbuh Farha.

“Iya, Rha,” jawab Naila singkat.

Assalamu’alaikum,” ucap Naila.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Farha.

Setelah aku mendengarkan mereka mengobrol. Sungguh lembut suara Naila ini. Selembut suara hembusan angin di kala pagi hari.

Kepergiannya membuat aku melamun. Mengharap untuk berjumpa kembali dengannya. Dengan Naila. Akhwat yang paling cantik di dunia hatiku.

Kemudian Farha menyuruhku agar tidak usah mengantarkannya lagi. Aku turuti permintaannya itu. Kami pun pulang ke kostan masing-masing.

Farha pulang ke kostannya yang di samping SMPN 29 Gegerkalong. Sementara aku pulang ke Pocer. Alias Pondok Ceria. Pondok Ceria itu nama kostanku.

Setiba di kostanku. Aku terus memikirkan kejadian sewaktu ketemu sama seorang akhwat yang bernama Naila. Benar-benar aneh. Benar-benar pengalaman yang amat aneh yang pernah aku miliki.

Baru kali ini aku jatuh cinta kepada seorang akhwat. Dan kalau dipikir-pikir. Sungguh aku tidak pantas jatuh cinta kepada gadis sesholehah Naila. Gadis berjilbab putih itu telah membuatku menjadi laki-laki yang paling aneh. Entah, apakah ini yang namanya hakikat cinta? Atau, ini hanya cinta sesaat? Aduhai, cantiknya masyaallah. Aku menemukan Tuhan di dalam wajah cantiknya. Naila, oh Naila. Maha Pencipta Keindahan yang telah menampakkan keindahan pada dirinya.

Setelah bergulat dengan aktivitas di kostan. Seperti mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi, dan bersih-bersih kamar kostanku. Aku segera membersihkan badanku ini dengan menyegerakan mandi.

Selesai mandi aku rebahan di atas kasur dengan tangan mengganjal di kepalaku. Aku menatap langit-langit kamar, tetapi bukan langit-langit itu yang terlihat di mataku, melainkan wajah ayunya Naila. Bayang-bayang wajahnya seakan-akan menari-nari di pelupuk mataku. Membuyarkan konsentrasiku. Aku merasa ada getar-getar yang aku rasa menjalar di jiwaku. Nama Naila demikian indah diucapkan, seindah wajahnya. Tiba-tiba kantuk menyerangku dengan dasyat. Dan aku ambruk di atas kasur empukku.

==**==

Aku terbangun ketika suara adzan Maghrib terdengar. Tak terasa, sudah sekian lama aku memejamkan mata, di atas kasur ini, di ruang kamar kostan. Sampai-sampai waktu Dzuhur dan Ashar terlewatkan begitu saja.

Sepi menyelimuti kamar ini. Karena aku sendirian, Zayan sedang pergi. Tadi pagi Zayan sempat pamitan kalau hari ini ia mau ada kegiatan bakti sosial di Pangalengan. Dan kemungkinan besok pagi pulangnya.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Berdiri. Lantas aku masuk ke kamar mandi. Selesai mandi aku segera melaksanakan shalat Maghrib.

Seusai melaksanakan shalat aku ingin menuliskan sebuah puisi cinta tentang Naila. Isinya tentang perasaan-perasaanku kepada Naila.

Kuambil buku dairy dan sebuah pulpen. Dan aku mulai menggoreskan tinta pena di atas kertas buku diaryku. Aku menulis puisi dengan membawa hatiku yang indah, sebuah hati yang tengah dipenuhi cintanya Naila.

Gadis Berkerudung Rapih Itu

(Bernama Naila)

Gadis berkerudung rapih itu

Yang terlihat oleh kedua bola mataku

Kini sering terlintas dibenakku

Seakan kurindu tuk berjumpa dilain waktu

Wajah cantiknya terpancar indah

Dikala matahari dan rembulan datang menyapa

Tutur sopannya terasa nyata

Dikala berjumpa dengan sesama saudaranya

Cinta hakiki hanya milik Ilahi

Tapi cintaku ini datangnya dari-Mu

Tertarik padanya seakan mendamaikan jiwaku

Mungkin ia permata yang selama ini aku cari

Untuk kujadikan penghias dalam rumah taqwaku

Ya Allah…

Hanya Engkau yang berkuasa

Jika dia memang jodohku

Dekatkan hatinya dengan hatiku

Dengan hati yang tetap terjaga

Ya Allah…

Jika dia bukan untukku

Biarkan perjumpaanku dengannya

Menjadi kebaikan dalam hidupku

Untuk mengenal keindahan-Mu saja

Warna Wujudnya Terang

(Untuk Naila)

Buat cintaku, ku bentuk taman hati

Tak selebar yang ada, luas pun tidak, kecil saja

Dan tak satu pun kehilangan di dalamnya

Tertanam berpuluh kembang berwarna pelangi

Tamanku tak tentu di mana

Yang beratapkan langit cerah

Dan cahaya purnama

Sekilas terpandang mengabur jauh

Aku hidup, dalam hidup

Dihembusan tampak menghirup

Selama kuncupnya terasa ada

Beri satu senyuman tanda bahagia

Dalam taman hatiku

Mengecap segar, ada angin terasa

Cahaya surya senantiasa di angkasa

Menembus, memancar ke segala arah

Hingga terbayang terang dimata

Segala menanti yang dinanti

Mekar kembang ini, sepi terus ada

Tak kuasa melepas diri

Dari gerak hilang segala makna

Di antara berpuluh kembang yang ada

Hanya ada satu kembang

Mekar, dan warna wujudnya terang

Dan menyemburkan wewangian di jiwa

Mencari Makna Cinta

Aku si pengembara

Dari negeri cinta

Hanya berbekal cinta

Ku arungi hidup di dunia

Entah sampai kapan langkah kakiku

Terhenti karena adanya cinta

Yang kini dalam pencarianku

Dan yang bermakna sebenarnya

Ataukah sampai aku merasa

Dahaga yang sempurna

Dan temukan setetes air

Yang tergenang dalam oase cinta

Dan entah sampai kapan

Langkah kakiku terus melangkah

Dan selalu melangkah jauh

Hanya untuk mencari makna cinta

Naila, namamu selalu menemaniku semenjak pertemuan itu denganmu.Aduhai cinta, Cintaku, cinta apa yang tengah aku rasakan kini? Nafsukah? Atau benar-benar cinta yang suci?

Duhai Allah Yang Memberi Cinta…! Pantaskah seorang Zuhdi mencintai dan merindukan seorang gadis yang secantik dan sesholehah Naila?

Kini waktu Maghrib telah berlalu. Karena Adzan Isya sudah berkumandang aku pergi mengambil air wudlu. Aku segera menunaikan shalat Isya. Aku ingin menenangkan diri, menghadap Allah. Memohon agar aku terlindungi dari godaan setan terkutuk.

Selesai shalat. Aku ke luar dari kamar. Aku duduk di teras kamarku dengan ditemani angin semilir, sinar rembulan dan kerlap-kerlip bintang. Sinar rembulan yang menerangi malam dan kerlap-kerlipnya bintang seakan-akan sedang menunjukkan rasa cintanya kepada malam. Lebih-lebih kepada yang menciptakan malam. Yakni Allah SWT.

Lantas apa yang bisa aku lakukan untuk membuktikan cintaku kepada Naila? Haruskah aku mengutarakannya kepada dia? Sepertinya tidak mungkin. Karena dia seorang akhwat. Pasti dia menolakku. Sepengetahuanku, akhwat tidak mau diajak untuk pacaran. Kalau pun ada seorang laki-laki yang mencintainya. Dia harus membuktikannnya dengan cara menikahinya. Bukan dengan cara berpacaran.

==**==

Hari-hari berlalu…

Aku kembali teringat Naila. Sudah sepekan aku dan Farha tidak bertemu. Dan hari ini adalah hari kedelapanku. Dan aku harus menemuinya, menemui Farha. Untuk segera meminta maaf kembali. Sebenarnya aku ingin Farha seorang yang selalu dirindukan oleh hatiku. Tapi hatiku menolaknya. Entah ada gejala apa yang ada di hatiku ini. Sampai-sampai nama Farha sedikit demi sedikit memudar dari hari-hariku dan dari hatiku.

Sepulang dari jogging. Aku mampir ke tempat biasa aku mangkal untuk sarapan pagi. Yaitu ditempatnya Pak Ade. Beliau adalah penjual bubur ayam yang letaknya tidak jauh dari kostanku. Hanya beberapa meter saja dari kostan. Tepatnya di belakang kostanku.

Kemudian aku pesan satu porsi bubur. Aku santap hanya beberapa menit saja. Semangkok bubur telah aku habiskan. Usai makan bubur aku langsung pulang ke kostan.

Kini waktu sedang menunjukkan pukul 08.30. Karena hari ini hari Sabtu, hari liburnya para mahasiswa-mahasiswi. Aku rencanakan hari ini untuk menemui Farha.

Dan kemudian aku mandi. Sehabis mandi. Aku bersolek diri. Setelahnya aku pergi ke kostan Farha. Butuh beberapa menit saja aku sudah sampai di depan kostan Farha. Aku ambil HP di saku kanan celanaku. Segera aku kirim pesan ke handphone-nya Farha. Memberitahukan bahwa aku sedang di depan kostannya. Beberapa menit kemudian, Farha membukakan pintu gerbang.

Ngapain ke sini?” tanyanya sinis.

“Rha, aku ke sini mau minta maaf,” jawabku.

“Minta maaf itu mudah.”

“Maksudnya?” tanyaku.

“Iya minta maaf itu mudah, karena memaafkan itu tidak semudah memutarbalikkan tangan”.

Lalu Farha mengajakku untuk duduk di bangku panjang yang ada di samping kamarnya. Beberapa kemudian, kedua tangan Farha memegang tangan kananku. Dan Farha pun memulai berkata.

“Aa, sebenarnya Rha sudah memaafkan Aa sejak sepulang dari pertengkaran itu. Rha sadar, Rha yang salah. Rha emosian. Padahal waktu itu niat Aa hanya ingin mengajak Rha bercanda. Tapi malah Rha anggap sebagai keseriusan.Maafin Rha ya, A,” tambah Farha.

“Beneran Rha sudah nggak marah lagi sama Aa?” tanyaku dengan sedikit kaget.

“Kenapa nggak dari kemarin-kemarin saja Rha bilang ke Aa seperti ini?” tanyaku kembali.

“Rha hanya ingin tahu sikap Aa dalam setiap menghadapi masalah. Baik masalah kecil maupun besar,” jawab Farha.

Alhamdulillah, makasih ya, Sayang.”

Kemudian aku kecup kening Farha.

“Sekarang kita ke Metro Indah Mall yuuk sayang” ajakku.

Ngapain, A?” tanya Farha.

“Di Metro Indah ada acara dasyatnya RCTI.”

“Oh..” lanjut Farha, “tapi Rha mau ganti baju dulu A.”

“Iya Rha. A juga mau pulang ke kostan dulu. Ngambil motor. Nanti A jemput Rha ke kostan. Okay?

“Okay, Aa.”

==**==

Sesampai di kostan. Aku langsung cabut ke kostan Farha. Sesampai di sana aku klakson. Farha pun keluar. Farha kelihatan manis sekali dengan setelan kaos pink dan jeans birunya.

Farha tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyuman pula. Lalu aku sedikit merayu Farha, “Pacarnya Aa cantik banget sih.”

“Iya dong. Rha cantik kan buat Aa.”

Kemudian aku bonceng Farha dengan motor gedeku. Kami pun segera meluncur ke Metro Indah Mall. Dengan kecepatan sedang aku kendarai motor tigerku.

Satu jam kemudian. Kami pun sampai di Metro Indah Mall Bandung. Di depan Metro Indah Mall sudah dipenuhi kerumunan orang. Terutama anak ABG, baik anak sekolahan maupun para mahasiswa. Aku sampai di Metro Indah Mall tepat pukul 10:30 WIB. Di atas panggung sudah tampil Band Numata dengan lagunya “Pesona”. Karena sekarang acara dasyat bertemakan “Dasyatnya Bandung” sudah tentu acara dasyat kali ini di isi oleh band-band yang berasal dari Bandung. Seperti Firman, Peterpan, Numata, dan Tipe-X.

Sepengetahuanku band Numata ini terbentuk di Bandung pada bulan Juli 2002 dengan formasi Duhita Panchatantra atau Tantra pada piano, Simhala Avadana atau Mhala pada vokal dan gitar, serta Mahavira Wisnu Wardhana atau Inu pada drum. Nama band Numata ini diambil dari nama depan mereka. “Nu” dari nama Inu, “Ma” dari nama Mhala, sedangkan “Ta” diambil dari nama depan Tantra. Mereka bertiga adalah putra-putri dari penyanyi lawas di era 70-an, Tetty Kadi. Hingga kini mereka sudah mengeluarkan dua album. Di mana album pertamanya adalah “Dengar Numata” di tahun 2004 dan album kedua di tahun 2007. Mereka merilis album keduanya yang berjudul sama dengan grup mereka yakni “Numata” dengan hits single “Raja Jatuh Cinta”.

Selama penampilan Numata di atas panggung. Semua penonton berjingkrak-jingkrak. Ada pula yang hanya diam-diam saja. Tetapi mulutnya berkumat kamit sambil menendangkan liriknya.

Di sekitar arena juga aku dapati beberapa polisi dari kapolres Bandung Timur. Sungguh dasyat sound system-nya. Sedasyat acaranya. Suaranya menggema. Kami berdua sungguh menikmati acara dasyat ini.

Seusai Numata selesai menyanyikan lagu “Pesona” semua penonton bertepuk tangan. Kemudian host dari dasyat naik kepanggung. Rafi, Olga dan Luna semuanya naik ke panggung menyapa personil band Numata.

“Numata….” seru Raffi dan Luna.

“Numata tadi habis nyanyi, ucap Luna.

Terima kasih,” imbuh Luna.

“Sama-sama Lun…” jawab Mhala vokalis dari band Numata.

“Mungkin Numata mau kirim salam-salam buat mamanya, tante Tetty, atau…siapa mungkin,seru Raffi.

Yeeaahh,” ucap Mhala.

“Kirim salam buat temen-temen yang di sini. Seru sekali…” kata vokalis Numata.

Kumaha euy..?” tambah Mhala.

Penonton pun bersorak, “Yeahh” sambil bertepuk tangan.

“Numata dari Bandung… dari Bandung..” ucap Raffi dengan cepat dan lantangnya.

Ini jurig Bandung…ini jurig Bandung…” seru Raffi kembali sambil tangannya menunjuk ke arah Tantra.

Tantra pun menjawab.

“Buat mamanya Raffi,” jawab Tantra.

“Haah…kok mamanya gue,” kata Raffi dengan lirih.

Kenapa? Loe naksir sama mamanya….” tanya Luna.

Nggak..nggak..nggak..gue nggak kayak Raffi. Gue sukanya yang muda-muda,” kata Tantra.

Semua penonton bersorak meledek Raffi. Begitu juga dengan Luna, Olga, dan personil Numata tertawa.

Sesaat kemudian, Raffi berucap dengan lirih, “Ngeledek gue”.

“Eh, biar pun umurnya lebih dari Raffi, tapi kan pulen goyangannya, celetuk Olga.

Setelah mendengar celetuknya Olga. Semuanya tertawa kembali karena celetukan Olga itu. Seperti biasanya mereka para host dasyat saling bercanda.

“Iya sudah sekali lagi Numata terima kasih banyak. Silakan kembali ke tempatnya. Istirahat lagi…” seru Olga.

Semua host acara dasyat meminta penonton tepuk tangan untuk Numata.

“Tepuk tangan dong buat Numata,” ajak Raffi kepada semua penonton.

Penonton pun bersorak kembali, “Yeahh” sambil bertepuk tangan.

“Inu, Mhala dan Tantra…”imbuh Raffi.

“Betul sekali..” tambah Olga.

“Sekarang saatnya… mana ini….” seru Luna sambil kedua tangannya disilangkan. Menunjukkan kalau tanda silang adalah ciri untuk band Tipe-X. Karena sebentar lagi band Tipe-X tampil untuk selanjutnya.

Sebelum Tipe-X tampil, seperti biasanya ketiga host ini dengan cirinya yang khas suka mengisi dengan canda tawa kalau sedang membawakan acara dasyat.

Tidak lama kemudian Band Tipe-X sudah berada di atas panggung yang lumayan megah dan meriah. Kemudian menyanyikan lagu ”Genit”.

Selama penampilan band Tipe-X ini penonton lebih dasyat lagi berjogetnya. Berjingkrak-jingkrak ala aliran ska. Karena band tipe-X ini adalah grup band yang bernuansakan ska.

Usai penampilan band Tipe-X kami pun langsung pulang. Karena kami sudah merasa kecapean. Hampir satu jam kami di sini, di Metro Indah Mall.

Waktu terus bergulir. Satu jam pun berlalu. Satu jam dihabiskan di perjalanan dari Metro Indah Mall ke Geger Arum.

Setiba di kostan Farha aku pun langsung pulang ke kostan. Aku istirahatkan tubuh ini. Di atas kasur empuk aku pun masuk ke alam mimpi.

Ketika adzan Ashar berkumandang aku terbangunkan karena lantunan merdunya seorang muadzin. Sementara Zayan -teman sekostanku- ia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Kebiasaan dia yang selalu shalat berjama’ah di masjid tidak membuatku tertarik untuk mengikuti jejaknya itu. Aku adalah aku. Aku bukan Zayan. Yang taat terhadap perinta Tuhan-Nya. Aku hanya seorang insan yang tergolongkan orang yang masih banyak berbuat dosanya ketimbang berbuat kebaikannya. Sesungguhnya golongan seperti aku ini yang nanti akan merasakan pedihnya siksa api neraka. Meski Zayan sering membangunkanku di kala memasuki waktu shalat. Setiap pagi. Bahkan setiap hari.  Dan selalu mengajakku untuk shalat berjamaah di masjid. Namun, tetap saja aku tidak memperdulikan ajakannya itu.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Semenjak aku terbangun, aku masih ingat mimpiku barusan. Di dalam mimpiku itu terdapat aku yang sedang menjalankan shalat dengan pakaian serba putih. Baju koko berwarna putih, kopiyah putih, sorban putih sampai ke sajadah pun berwarna putih. Seusai aku menjalankan shalat dan seusai berdoa di dalam mimpiku aku merasakan kedatangan seseorang. Setelah aku berbalik badan aku melihat sesosok perempuan yang tepat berdiri di belakangku dengan muka bercahaya. Sehingga aku tak mampu melihat wajah perempuan tersebut. Lalu aku diajak pergi oleh perempuan itu. Aku ikuti langkahnya. Pelan. Pelan. Dan pelan. Langkah kami pun sebentar lagi memasuki pintu. Setiba di depan pintu langkahku terhenti. Sementara perempuan tadi sudah masuk terlebih dulu ke dalam ruangan. Kemudian dari dalam, perempuan tersebut memanggilku dengan panggilan abiy. Aku terkaget-kaget. Kenapa perempuan tersebut memanggilku abiy? Sementara aku sendiri belum menikah. Aku hiraukan saja penggilan abiy tadi.

Sewaktu pintunya dibuka, aku masuk ke dalamnya. Kudapati bahwa ruangan ini pun serba putih pula. Dan tiba-tiba perempuan itu menghilang. Di dalam ruangan tersebut terdapat sungai-sungai yang mengalirkan air yang jernih. Dan bertaburan bunga-bunga dari langit-langit ruangan tersebut. Aneh. Benar-benar aneh mimpiku ini. Perempuan yang di mimpiku itu padahal tadi ada di depan mataku namun tiba-tiba saja menghilang.

Setelahnya aku bangkit dari tempat tidur. Aku duduk sebentar. Aku minum air putih. Selesai minum, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lalu shalat Ashar.

Selesai shalat aku merencakan untuk menelpon Farha. Sebelumnya aku buka terlebih dahulu pesan yang baru saja masuk. Ada dua pesan yang masuk. Pertama dari Farha. Yang isi SMS-nya mengingatkanku untuk shalat Ashar. Aku balas dengan SMS pula dengan jawaban iya sudah shalat kok. Dan SMS satu laginya dari Marcell. Dia teman satu gengku. Tepatnya geng motor balap.

Marcell mengirim sms yang berbunyi:

Hay bro, hari minggu nanti elo ke markas ya…

Aku jawab:

Oke coy…

Dijawab lagi oleh Marcell:

Siiip!!!

==**==

Novel Pesan untuk Nai (part1)

1

Aliran Nur Jannah

Hari ini Jum’at, 5 Oktober 2007. Hari Jum’at merupakan sayyidul hayam -rajanya hari- karena hari Jum’at mempunyai keistimewaan. Di mana ia adalah hari raya/hari besar yang berulang. Maka tidak diperbolehkan puasa khusus pada hari itu, tanpa didahului oleh puasa sebelum maupun sesudahnya, Agar berbeda dengan Yahudi. Juga agar tubuh merasa kuat untuk melaksanakan ibadah pada hari Jum’at seperti shalat, do’a dan ibadah yang lainnya. Selain itu, masih banyak pula keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki hari Jum’at. Seperti ia bertepatan dengan hari bertambahnya kenikmatan di surga. Pada hari jumat juga ada saat dikabulkannya do’a. Dan masih banyak yang lainnya. Sungguh hari Jum’at adalah hari yang mulia.

Tapi semua itu tidak berlaku buatku. Karena hari ini tidak ada jadwal kuliah, aku rencanakan untuk menonton film saja. Sementara Zayan -Khalil Zayan nama lengkapnya- hari ini dian ada kuliah pagi jam 07:00. Dia teman sekamarku. Berhubung Zayan hari ini kuliahnya padat dari pagi sampai menjelang sore, maka aku manfaatkan kesempatan ini untuk menonton film bokep yang kemarin aku beli.

Selepas Zayan pergi untuk kuliah aku memulai menyetel komputer. Kuambil DVD koleksiku yang ada di dalam lemari. DVD itu kusimpan di dalam plastik hitam.  Akhirnya kudapati kresek hitam itu. Aku keluarkan isinya lalu kumasukkan DVD itu ke DVD writer. Langsung aku aktifkan program windows media player untuk memutar film.

Mata ini, mata penuh syahwat. Ketika melihat film bokep yang ada hanya menikmatinya saja dan berkhayal yang tidak-tidak. Dari detik ke detik. Menit ke menit. Hingga berganti berjam-jam. Ya, tidak terasa dua jam pun telah berlalu. Waktu dua jam telah aku habiskan untuk menonton film bokep.

Seusai menonton film bokep. Tiba-tiba perutku sakit. Mungkin gara-gara kemarin makan pangsit yang terlalu pedas. Aku sudahi menontonnya. Aku simpan lagi kepingan DVD itu kedalam plastik hitam. Lalu kutaruh ke dalam lemari. Dan aku kunci lemarinya. Tanpa dikomando lagi, aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Karena perut ini tidak bisa diajak kompromi lagi. Menahan rasa sakit, aku meringis kesakitan. Menahan perut yang sakit. Bermenit-menit aku di dalam kamar mandi. Hanya untuk BAB (Buang Air Besar).

Setelah 15 menit berlalu perutku sudah agak mendingan. Sakitnya sudah terkurangi. Namun badanku menjadi lemas karenanya. Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku mencoba mengistirahatkan diri dengan menghempaskan tubuh ini di atas kasur. Lambat laun mata pun mulai terserang rasa kantuk. Hingga akhirnya katup kedua mataku menutup dengan sendirinya. Dan masuk ke dalam alam mimpi. Aku terlelap dalam tidur.

Dua jam kemudian aku terbangun dari tidur. Sebentar lagi akan memasuki waktu shalat Dzuhur. Masa bodoh. Mau memasuki shalat Dzuhur kek, shalat Ashar kek tetap aku tidak akan melaksanakan perintah shalat itu. Karena didikan kedua orang tuaku, sekarang aku menjadi anak yang awam terhadap agama sendiri. Menjadi pribadi yang jauh dari Tuhan. Meskipun aku meyakini bahwa Allah SWT itu ada dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Namun imanku tidak bisa menjadikanku menjadi pribadi yang taat terhadap perintah Allah.  Karena iman tidak cukup untuk menyakininya saja tetapi harus dibuktikan dengan amal perbuatan.

Meskipun aku muslim tapi kedua orangtuaku menjadikan aku seperti orang yang bukan muslim saja. Tidak pernah mengajarkan aku shalat, puasa, maupun berzakat.

Sementara waktu terus melaju. Adzan Dzuhur terdengar dari luar sana. Allaahu akbar, Allaahu akbar 2x. Asyhadu an laa ilaaha illallaah 2x. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah 2x.  Hayya ‘alash-shalaah 2x. hayya ‘alal-falaah 2x. Allaahu akbar, Allaahu akbar 1x. Laa ilaaha illallaah 1x. Lafadz inilah yang sering dikumandangkan seorang muadzin ketika telah memasuki waktu shalat wajib. Dan lafadz ini pun yang sering aku dengar setiap kali Zayan mau pergi ke masjid. Karena adzan adalah panggilan untuk kaum muslim agar segera menunaikan shalat.

Aku tidak pernah menghiraukan panggilan adzan. Aku pun tidak pernah mengerjakan shalat lima waktu, tidak pernah berpuasa dan juga tidak pernah mengeluarkan zakat.

Setelah bangkit dari kasur. Aku menuju ke kamar mandi. Kali ini aku masuk ke kamar mandi bukan untuk BAB melainkan untuk beronani. Beginilah keseharianku. Selalu saja tergoda kenikmatan sementara. Kalau tidak mabuk-mabukan, menghisap ganja. Kalau tidak menghisap ganja, menonton film bokep. Dan sesudah nonton film bokep, pastinya akan tergoda untuk melakukan onani. Sungguh aku ini pendosa berat.

Selesai melakukan onani aku pun tidak melakukan mandi wajib dulu. Hanya mandi biasa saja. Tanpa diniatkan untuk mandi wajib. Karena pengetahuanku tentang Islam sungguh seperti orang yang bukan muslim saja. Masih wajar kalau orang kristiani tidak tau tentang ajaran Islam. Karena mereka bukan orang Islam. Sedangkan aku? Meskipun agamaku Islam. Aku tidak tahu tentang ajaran Islam. Sungguh, Islamku hanya di KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan di KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) saja.

Sehabis mandi aku segera mengeringkan tubuh dengan handuk. Lalu mengenakan kaos dengan setelan jeans. Sambil bercermin aku oleskan minyak rambut ke kepala sampai rata. Kalau dilihat-lihat aku tampan juga. Sungguh, aku termasuk salah satu laki-laki tampan. Mukaku yang mulus tanpa jerawat. Rambut lurusku yang hitam lebat terlihat rapih setelah aku oleskan minyak rambut. Seusai bersolek aku duduk di tengah-tengah pintu masuk kamarku sambil merokok.

Sementara jam di sudut kamarku sedang menunjukkan pukul 13:00. Mendadak tubuh ini menggigil. Rasanya sakit. Ketagihan akan obat laknat. Kebetulan aku masih menyimpan bubuk marijuana. Aku bangkit dari tempat dudukku untuk berdiri. Lemari aku buka. Kusapu sekeliling isi lemari. Di pojok dalam lemari sana ada toples. Di dalamnya ada bungkusan. Sebuah kantong plastik berwarna merah. Dari dalam kantong plastik itu, kurogohi dan kudapati bungkusan kertas berwarna putih. Lal kukeluarkan dan kuletakkan isinya di atas lantai.

“Semoga bubuk surgawi ini jadi penenang gue untuk sementara!” seraya aku berkata dengan harapan tidak kambuh lagi.

Bubuk surgawi itu tidak lain adalah marijuana. Bubuk inilah yang akan aku konsumsi. Kemudian aku juga mengeluarkan sebuah alat. Bong, namanya. Korek api juga tidak ketinggalan aku keluarkan.

Lalu, tanpa menunggu waktu lagi, aku segera menghisap bubuk dari surgawi ini. Ujung bong aku sulutkan dengan korek api. Kuhirup bubuk ini dengan lubang hidung kananku. Sambil tangan kiriku menutup lubang hidung kiriku. Hanya butuh beberapa menit saja bubuk yang barusan aku hirup kini sudah bereaksi. Kepala mulai pusing. Nafsu memenuhi jiwaku. Keringat dingin menutupi pori-poriku dan mengalir deras membasahi seluruh tubuhku. Rasa sakit menyerang ragaku. Menggigil seluruh badanku.

Aku jatuh lemas ke lantai. Pingsan. Tak sadarkan diri.

==**==

Sewaktu aku sadar, tiba-tiba aku sudah berada di suatu ruangan. Tepatnya di suatu ruangan kamar. Tetapi ini bukan kamarku. Karena berbeda sekali dengan keadaan kamarku. Kalau begitu ini kamarnya siapa? tanyaku dalam hati.

Aku mencoba bangkit dari tempat tidurku. Kepalaku tiba-tiba terasa sakit lagi. Namun aku tetap ingin mencari tahu di mana diriku sekarang. Kulihat di sampingku ada seorang ibu-ibu yang sedang menangisi pemuda yang mungkin sedang sakit. Tanpa menyapa ibu di sampingku itu, aku langsung menuju ke pintu masuk kamar ini.

Di luar sana, tidak sengaja aku dapati Zayan sedang mengobrol dengan seseorang. Orang yang mengenakan kopiyah putih dengan baju koko dan bawahannya memakai sarung. Aku tidak mengenal dengan orang itu. Pikirku mungkin dia seorang ustadz. Dan mungkin Zayan sedang membicarakan sesuatu dengan ustadz tersebut. Tapi entah apa yang sedang mereka bicarakan itu karena jarak kita terlalu jauh. Yang terlihat hanya mimik mereka saja.

Aku melangkah untuk menghampiri mereka berdua. Ada yang ingin kutahnyakan kepada Zayan. Berharap Zayan bisa menceritakan apa saja yang telah kualami saat ini.

Sesampainya di dekat mereka, aku melempar senyum kecil kepada Zayan. Zayan pun membalas dengan senyum pula.

Akh Zuhdi baik-baik saja, kan?” tanya Zayan.

“Lumayan sudah mendingan kok, Yan” jawabku.

“Oh iya, gue pengen nanya ke loe, Yan?”

“Nanya apa, Akh?”

“Sebenarnya apa yang terjadi kepada gue, Yan? Waktu gue bangun, gue lihat sekeliling. Gue mendapatkan keasingan. Sebenarnya gue lagi di mana? Saat gue ke luar. Nggak sengaja gue ngeliat loe, Yan.”

“Begini Akh ceritanya. Waktu saya pulang dari kuliah, saya melihat Akh Zuhdi sudah tergeletak di lantai kamar. Ternyata Akh Zuhdi pingsan. Langsung saya bawa Akh Zauhdi ke sini. Ke tempat ini, Akh,” jelas Zayan.

“Begitu ya, Yan. Makasih banget nih, Yan. Loe sudah menolong gue.”

Lalu Zayan memperkenalkan pemuda yang di sampingnya kepadaku.

“Oh iya. Kenalin, Akh, beliau yang punya pondok ini.”

Asslamu’alaikum,” salam pemuda yang di dekat Zayan sebelum memperkenalkan diri.

Wa’alaikum salam,” jawabku.

“Kenalin, Luthfie” kata pemuda itu.

Gue Zuhdi,” jawabku sekali lagi.

Antum masih kuliah?” tanya Kang Luthfie.

“Masih ustadz,” jawabku singkat.

“Kalau asal, dari mana?” tanya Kang Luthfie lagi.

“Asal gue dari Indramayu ustadz. Dan sekarang lagi kuliah di UPG Bandung”.

“Semester berapa?”

“Semester satu,” jawabku singkat.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. Dengan nada dering Hantunya Olga. Maksudku lagu Hancur Hatiku yang dipopulerkan oleh Olga Syahputra.

Aku angkat handphone-ku untuk menjawab telepon. Sebelumnya aku meminta izin terlebih dahulu kepada mereka karena tadi kami sedang mengobrol. Gara-gara ada panggilan masuk obrolan kami jadi terputus.

Terdengar suara laki-laki di seberang telepon sana. Namun aku tidak mengenal nomernya.

Hai, Di, sekarang loe lagi di mana?” tanya orang di seberang telepon.

“Maaf, loe siapa? Soalnya di phonebook HP gue belum ada namanya?”

“Gue Di, Fadil. Gue lagi make HP-nya teman gue. Karena gue lagi nggak bawa HP. Sorry, Di.”

“Oh, loe Dil. Ada apa?” tanyaku kepada Fadil.

Gue mau minjem uang, Di. Buat nyervis motor gue. Orang tua gue belum ngirim uang bulanan. Dan katanya baru bisa ngirim uang itu besok lusa. Kira-kira loe bisa minjemin uang ke gue nggak, Di? Sekarang kalau bisa, Di.

“Kebetulan sekarang gue lagi sama Zayan. Tapi gue nggak tahu sama alamat tempat ini, Dil.”

“Iya sudah sekarang loe pulang sama Zayan. Dan gue mau nunggu di kostan loe saja, Di. Sembari tiduran di atas kursi panjang yang ada di depan teras kostan loe”.

“Dari dulu kebiasaan loe tuh nggak berubah-berubah. Masih saja hobinya suka tidur.”

Sumpah gue ngantuk banget, Di. Semalaman gue nggak tidur.”

“Iya sudah, sekarang gue sama Zayan mau pulang”

“Oke.”

Seusai telpon ditutup aku taruh lagi handphone ke saku kiri jeansku. Kemudian Zayan aku ajak pulang ke kostan.

“Kang, kami pamit pulang dulu. Syukron Jazakallah. Akang sudah menolong teman Ana, Zuhdi” kata Zayan kepada Kang Luthfie.

“Iya Akh, kan ini sudah kewajiban kita selaku umat manusia.”

Kemudian Zayan bersalaman dengan Kang Luthfie. Aku pun ikut bersalaman.

Sesudah bersalaman. Zayan mengucapkan salam dengan ramah, “Assalamu’alaikum.”

Kang Luhtfie pun menjawab dengan jawaban yang sempurna, “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.”

==**==

Setiba di kostan kulihat Fadil sedang terlelap dalam tidurnya. Tertidur di atas ranjang bamboo di depan kamar kostanku.

Aku goyang-goyangkan tubuhnya Fadil. Goyangan pertama dan kedua aku belum bisa membangunkan Fadil dari tidurnya. Goyangan berikutnya, Fadil mulai membuka mata sayunya. Fadil melihat kearahku.

“Hai Dil, bangun loe,” sapaku.

“Di, loe sudah lama di sininya?”

“Baru saja nyampe.

Lalu aku mempersilahkan Fadil masuk. Fadil pun masuk. Kupersilahkan ia duduk.Fadil pun duduk. Sementara aku membuat minuman untuk Fadil, Zayan yang mengajak ngobrol Fadil.

“Hai Yan, gimana kabar loe? Sehat?” tanya Fadil ke Zayan.

Alhamdulillah kabar saya baik, Akh,” jawab Zayan.  “Kabar Akh Fadil sendiri, bagaimana?”

“Baik kok,” jawab Fadil singkat.

Selesai membuat minuman aku persilahkan Fadil untuk meminumnya. Fadil meminumnya sampai tak bersisa. Lalu aku isi kembali gelasnya dengan penuh. Aku tawarkan kembali untuk meminumnya. Sepertinya Fadil sedang kehausan. Nampaknya dia senang dengan jamuanku ini. Lalu aku tambah jamuannya dengan mengeluarkan kue kering kepada Fadil. Melinjo yang aku keluarkan. Karena waktu pulang kampung, melinjonya masih dua bungkus yang aku simpan. Dan memang rezekinya Fadil, dialah yang menikmati oleh-oleh dari Indramayu ini.

Setelah kami bertiga -aku, Zayan dan Fadil- mengobrol kesana kemari, tidak terasa obrolan kami ini sudah memakan waktu tiga puluh menitan. Akhirnya Fadil pamitan pulang karena dia harus segera memperbaiki motornya yang sedang rusak. Di samping itu, ia pun hendak mengganti ban belakang motornya.

Fadil pun menanyakan kembali apakah uangnya sudah ada atau belum.

Kebetulan di dompetku ada uang yang cukup banyak. Langsung aku berikan uang itu ke Fadil. Fadil meminjam uang seratus ribu rupiah. Fadil pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepadaku. Sepertinya ia tahu bahwa ucapan terima kasih adalah wujud syukur kita kepada orang lain.

Setelah mendapatkan uang, Fadil bergegas untuk memperbaiki motornya itu. Dengan menancap gas. Fadil melaju dengan kecepatan yang sedang dengan motor tigernya itu.

==**==

Malamnya Zayan bertanya tentang bong yang ia temukan sewaktu aku pingsan tadi siang. Aku jawab dengan sebenarnya kalau aku ini pemakai narkoba. Waktu itu Zayan sempat kaget dengan pengakuanku ini. Karena selama ini yang Zayan tahu bahwa aku ini bukan pemakai narkoba seperti ini.

Entah kenapa pada hari ini aku malah overdosis di kamarku sendiri. Padahal sebelum-sebelumnya aku bisa menahan rasa ketagihanku ini dengan menghisap marijuana sedikit. Dan sebentar rasa ketagihanku kembali normal. Tapi kali ini, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri sampai akhirnya aku jatuh pingsan akibat overdosis. Dan kejadiannya di kamarku sendiri.

Mungkin inilah saatnya Zayan mengetahui siapa aku sebenarnya. Meskipun Zayan mengetahui kalau aku ini pemakai namun dia tidak menjauhiku. Malah ia semakin sayang kepadaku. Sepertinya, rasa sayang yang Zayan berikan kepadaku sama besarnya dengan rasa sayangnya kepada diri sendiri.

Aku malu. Sungguh aku malu.

Duh Allah… kenapa Engkau tidak segerakan saja kematianku? Karena kalau Engkau membiarkan aku hidup. Itu artinya sama saja Engkau membiarkan aku tenggelam dalam lembah kemaksiatan. Apakah ini yang namanya takdir? Takdirku buruk. Mungkin nerakalah yang akan menjadi tempat akhir hayatku nanti di akhirat.

Hatiku menjerit. Hatiku mati. Karena hati yang bersih tidak aku miliki. Sungguh celakalah aku ini.

Keesokan harinya. Zayan mengajakku kembali untuk berobat ke tempatnya Kang Luthfie. Namun aku menolak ajakan Zayan.Lebih baik aku atasi sendiri dulu masalah aku ini. Aku tidak mau merepotkan Zayan kesekian kalinya. Karena aku sudah sering sekali merepotkan Zayan.

Mulai minggu depan aku tidak pulang ke kostanku lagi. Aku tidak mau Zayan bersedih lagi karena melihat keadaanku ini. Aku memilih untuk menginap di kostannya Indra. Dia teman segengku.

Jarak kostan Indra dengan kostanku lumayan jauh. Kostan Indra di daerah Sersan Surip, sedangkan kostanku di daerah Geger Arum. Jadi aku dengan Zayan jarang bertemu. Selama aku menginap di kostannya Indra sering sekali Zayan menelpon dan sms untuk menanyakan keadaanku. Sementara aku sendiri tidak pernah memikirkan kesehatan badan sendiri. Sungguh aku telah men-dzolimi tubuhku sendiri.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Hingga tiga minggu di bulan Oktober telah berlalu. Aku lewati waktu tiga minggu ini di kostannya Indra. Dan sekarang sudah memasuki minggu keempat.

Sewaktu memasuki minggu keempat di bulan Oktober, aku sudah merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Hari-hariku telah aku isi dengan berkawankan Indra. Di mataku Indra seorang teman yang baik. Bahkan akhir-akhir ini dia sering pergi kepengajian. Entah pengajian apa itu. Aku tidak menanyakannya.

Sampai akhirnya pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober, spontan mulutku bertanya kepada Indra. Sewaktu Indra sedang bersiap-siap berangkat dengan temannya. Pakaian Indra dengan temannya itu rapi-rapi. Penampilan mereka seperti santri Daarut Tauhiid saja. Berkopiyah. Berbaju koko. Dan bercelana katun. Sebenarnya Indra dan temannya itu lagi mengikuti pengajian apa? Aku selalu bertanya-tanya. Dan apa saja yang Indra lakukan di pengajian tersebut.

Selidik punya selidik ternyata Indra sudah masuk ke aliran Nurjannah. Akhirnya aku mengetahui rutinitas yang selama ini Indra kerjakan. Rutinitas yang tiap Jum’at sore pergi ke pengajian.  Ternyata Indra sedang belajar agama di kelompoknya itu. Yakni aliran Nurjannah.

Suatu hari aku bertanya kepada Indra tentang masalah agama. Di luar dugaanku ternyata pengetahuan Islam Indra sangat luas sekali. Waktu aku menanyakan tentang sejarah umat Islam, Indra menerangkannya dengan runtut dan jelas. Aku sih percaya-percaya saja atas semua penjelasan Indra itu. Karena aku sendiri belum mempunyai kelebihan seperti itu. Yaitu kelebihan dalam memahami sejarah Islam.

Saat itu juga aku niatkan dalam hati untuk segera ber-hijrah dari kebodohanku menuju kepada kecerdasan. Keinginanku untuk mempelajari Islam semakin kuat. Setelah Indra sering memberi taujih kepadaku.

Yang pertama aku pelajari itu wudhu dan shalat. Aku meminta agar Indra mengajariku bagaimana cara berwudhu dan bagaimana cara mengerjakan shalat.

Indra pun mengajariku. Hingga aku bisa mengerjakannya sendiri tanpa dibimbing lagi olehnya.

Setelah aku bisa mengerjakan shalat. Aku berniat untuk gabung kedalam aliran Nurjannah. Bersama-sama Indra temanku itu.

Atas permintaanku untuk masuk ke dalam aliran Nurjannah kemudian aku dikenalkan oleh Indra kepada pemimpin aliran Nurjannah, yaitu Pak Liandra Edun. Penampilan beliau begitu kharismatik. Bentuk fisik beliau pun layaknya seorang kiayi besar. Berjenggot. Di keningnya ada tanda hitam bekas sujud. Di kepalanya berbalut sorban. Dan kata-kata beliau lembut kalau didengar. Batinku semakin yakin kalau Pak Liandralah yang bakal mengantarkanku menuju kejalan lurus-Nya Allah SWT.

Saat awal aku masuk ke aliran Nurjannah, aku terkena syarat. Aku harus membayar iuran wajib sejumlah lima juta rupiah. Katanya uang tersebut untuk disumbangkan dan untuk keperluan anggota. Dan juga sebagai syarat kalau kita mau masuk ke surga-Nya Allah SWT. Kata Pak Liandra Edun, surga itu mahal. Jadi kita mesti membekali diri dengan uang yang cukup banyak.

Selama empat bulan aku setiap harinya harus menabung. Karena uang tabunganku ini nantinya aku berikan ke Pak Liandra Edun sebagai iuran wajib anggota. Dan selama empat bulan tersebut aku merutinkan untuk datang ke pengajian Nurjannah.

Memasuki bulan ke lima aku sudah melunasi iuran wajib tersebut. Dan selama aku mengikuti pengajiannya Pak Liandra Edun, Aku diberi pengarahan bahwa shalat itu boleh dikerjakan meskipun dalam keadaan mabuk. Karena pada awal diperintahkannya shalat ada sahabat yang mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk juga.

Selain itu, aku pun diberi pengarahan bahwa saat kita dalam keadaan mabuk-mabukan, lantas kita tidak sadar melakukan perbuatan zina -baik dilakukan sama-sama senang maupun dipaksa- itu hukumnya boleh-boleh saja. Selagi kita melakukannya tidak dalam keadaan sadar alias mabuk dan teler berat. Karena perbuatan seperti itu merupakan perbuatan dari setan, bukan sepenuhnya dari perbuatan kita. Karena kita melakukannnya tidak dalam keadaan sadar. Jadi yang akan mendapatkan siksa itu adalah setan.

Begitu juga kalau kita lalai dalam mengerjakan shalat. Misalnya, waktu kita tidur dan ketika kita bangun ternyata waktu shalatnya sudah terlewati. Tidak di-jama’ juga tak apa-apa. Karena perbuatan yang di luar kesadaran kita pasti dimaklumi oleh Allah SWT.  Setelah aku pikir-pikir, betul juga semua perkataan Pak Liandra ini. Karena pernyataannya itu dilandasi dengan alasan yang cukup kuat dan masuk akal.

==**==

Awal April 2008.

Saat pagi mulai disinari sang mentari aku masih saja tertidur. Sampai waktu Subuh pun terlewatkan begitu saja. Terbuai dalam mimpi.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. Ring tone-nya lagi lagunya Tak Gendong. Saat kuangkat malah mati. Entah sengaja dimatikan atau tidak. Aku tidak tahu. Aku cek panggilan yang masuk barusan. Dan kulihat hanya nomernya saja yang tampil. Yang pastinya nomer baru. Aku telpon balik tapi tak diangkat-angkat juga. Sampai ketiga kali aku telpon tetap saja tidak diangkat.

Beberapa menit kemudian ada SMS masuk. SMS dari nomer yang tadi menelponku.

Isi smsnya:

Mas Zuhdi, aku tunggu mas di kostannya Indra. Kita di sini lagi ada pesta kecil-kecilan. Mas datang ya. Aku tunggu Mas disini. Ini dari Fitri. Salam kenal dari Fitri.

Lalu aku balas sms dari Fitri itu. Isi balasannya:

Iya salam kenal juga. Sebentar lagi gue ke situ.

Saat itu jam dinding di kamarku sedang menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Seusai mandi dan bersolek aku tancap gas menuju kostan Indra.

Setiba di sana. Aku melangkah memasuki kamar Indra. Ku buka pintu kamar Indra. Sesampainya di dalam kamar. Aku dapati Indra sudah berada di dalam. Di samping kanan dan kiri Indra terlihat ada dua gadis yang sama-sama cantiknya. Aku mengenal gadis di samping kiri  Indra. Namanya Imel. Imel adalah pacarnya Indra. Sedangkan gadis yang di sebelah kanannya Indra, aku tidak mengenalnya. Baru kali ini aku melihatnya. Mungkin dia gadis yang SMS ke handphone-ku. Ya, mungkin dia Fitri. Dia tampak lebih cantik dari Imel. Namun pakaiannya itu yang membuat aku tidak nyaman. Terlalu terbuka. Aku tidak suka dengan gadis seperti itu. Tapi wajah ayunya membuatku sedikit tertarik.

Indra mengenalkanku dengan gadis itu. Ternyata benar tebakanku. Dia memang Fitri. Nama panjangnya Fitri Ayu Oktaniani. Kata Indra, Fitri juga anggota dari aliran Nurjannah. Begitu juga dengan Imel. Imel masuk ke aliran Nurjannah karena ajakan pacarnya, Indra.

Indra menyuruhku duduk. Aku pun duduk. Duduk di atas kasur. Aku perhatikan sekeliling kamar ini. Terlihat lebih rapi dibanding hari kemarin, pikirku. Mungkin yang merapihkan kamar ini adalah Imel. Tapi aku tidak begitu memikirkannya.

Indra segera mengeluarkan minum-minuman beralkohol. Juga sebuah kantong plastik berwarna hitam. Lalu Indra mengeluarkan sebuah bungkusan kertas putih. Bungkusan yang kecil. Bungkusan yang dilipat-lipat membentuk persegi. Lalu bungkusan tersebut diletakkan di atas lantai. Ternyata bungkusan itu berisi bubuk marijuana. Bubuk durjana.

Oh narkoba…

Beruntung sekali sekarang aku sudah tidak mengkonsumsimu lagi. Sungguh beruntungnya aku karena kebiasaanku untuk mencanduimu kini telah aku hilangkan. Ini godaan berat bagiku. Bagi seorang yang dulunya pecandu narkoba. Tawaran Indra aku tolak. Aku sudah kapok. Benar-benar kapok.

“Kenapa loe, sudah tobat nih ceritanya” tanya Indra kepadaku.

Sorry, Dra. Gue sudah tidak memakainya lagi. Sekali lagi, sorry, Dra” jawabku dengan yakin.

“Iya sudah kalau Mas Zuhdi tidak mau. Kita nggak maksa kok,” kata Imel.

Sekarang gilirannya Fitri yang menawarkan aku minuman keras. Karena aku sedikit suka sama Fitri, aku terima tawarannya itu. Tapi dengan syarat aku meminumnya hanya sedikit saja. Aku tidak mau dibuat mabuk lagi olehnya.

Sebelum terjadi apa-apa dengan mereka. Aku harus menjauh dari mereka. Lalu aku duduk di atas kursi yang ada di kamar itu.

Seiring bergulirnya waktu. Kesadaran mereka pun mulai hilang. Dan yang aku takutkan kini sedang terjadi. Indra, Imel dan Fitri kesadarannya mulai hilang. Seiring hilangnya kesadaran mereka, terjadilah apa yang akan terjadi. Pakaian Imel satu persatu dilucuti oleh Indra. Sebelum Indra benar-benar menelanjangi Imel. Secepat kilat aku keluar dari kamar maksiat ini. Aku tidak perlu menebak apa yang bakal Indra lakukan kepada Imel. Semuanya sudah jelas. Dan mungkin juga, Fitri diperlakukan sama oleh Indra, seperti Indra memperlakukan Imel. Yaitu melucuti pakaiannya itu.

Pesta seperti ini memang sering terjadi. Tatkala di dalamnya ada pesta narkoba.  Dan pastinya tidak lepas dari pesta seks.

Duhai, Zuhdi. Khaliq Najamuddin Zuhdi. Baru kemarin sore kamu belajar agama. Baru kemarin sore kamu berusaha meninggalkan narkoba. Tetapi sekarang kamu sok bersih dan sok menjadi pemuda alim. Tak ingatkah masa lalumu, wahai Zuhdi. Kamu sama saja seperti Indra. Pemuda nakal dan suka bermaksiat.

Memang benar kalau aku ini pemuda nakal. Memang benar adanya kalau aku mantan pecandu narkoba. Pemabok. Maniak bokep. Tapi untuk masalah dosa berzina. Sungguh aku tak mau melakukannya. Selain zina, merupakan dosa terbesar. Zina juga akan membawa kesengseraan baik untuk diriku sendiri maupun untuk istriku kelak nanti. Aku tidak mau menularkan penyakit kelaminku kepada istriku kelak nanti. Dan pastinya mendapat kesengseraan yang tidak berujung.

Syukurku aku panjatkan dengan memuja-muji asma-Mu ya Rabb. Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Engkau tidak memandang bulu. Meski aku sering melupakan-Mu dan melalaikan-Mu. Meski aku sering meninggalkan perintah shalat-Mu, perintah puasa-Mu, perintah zakat-Mu. Engkau masih saja menolongku dari ujian wanita dan syahwat yang baru saja aku alami. Dan sungguh aku ingin bertaubat dengan sebenar-benarnya.

Saat di tengah jalan kumandang adzan terdengar. Ternyata waktu sedang menunjukkan pukul 11.55. Aku hentikan laju motorku. Aku parkir motor di samping masjid Al-Huda. Masjid yang terletak tepat di belakang terminal ledeng. Aku masuk ke tempat wudhu laki-laki. Kusing-singkan lengan baju. Kuambil air wudhu. Selesai aku wudhu, iqamat baru dikumandangkan. Dan aku pun shalat dzuhur dipimpin oleh seorang imam muda.

Usai menjalankan shalat, aku berencana untuk pergi ke SMM (Super Mini Market) Daarut Tauhiid untuk membeli mushaf al-Qur’an. Taubatku harus aku buktikan dengan segera mempelajari al-Qur’an. Karena sampai segede ini aku belum bisa membaca al-Qur’an. Sungguh memalukan aku ini sebagai umat Islam.

Sesampai di depan SMM, ternyata SMM-nya tutup. Sementara rencana membeli mushaf aku urungkan saja. Aku langsung pulang ke kostanku yang di Geger Arum. Sudah hampir lima bulan lebih aku jarang menempati kostan ini. Yang padahal kostanku ini jauh lebih baik, lebih tentram dan lebih nyaman dibanding kostan maksiat milik Indra itu.

Tiba di depan kamar kostanku. Aku buka pintu kamarku. Namun pintunya terkunci. Gemboknya aku buka. Aku masuk dengan pasti.Aku periksa kamar mandi dalam. Zayan tidak aku temukan.Mungkin Zayan sedang ke luar. Langsung kuhempaskan tubuh ini di atas kasur. Tidur dengan berselimutkan sarung.

==**==

Aku bangun setelah mendengar adzan Maghrib. Waktu Ashar pun telah berlalu. Aku tinggalkan saja shalat Ashar. Karena keyakinanku bahwa waktu shalat yang sudah lewat tidak dianjurkan untuk melaksanakannya.

Aku langsung mandi. Selesai mandi datanglah Zayan. Dia mengucapkan salam sebelum masuk. Sepertinya dia baru pulang dari masjid. Setelah aku Tanya ternyata dia bukan pulang dari masjid melainkan pulang dari Gramedia. Tangannya menenteng sebuah plastik ukuran besar berisikan buku-buku. Kelihatannya Zayan habis memborong buku. Katanya mumpung lagi ada bazar. Dan ada diskon besar-besaran. Akhirnya tertarik untuk membeli beberapa buku di sana.

==**==