Category: Puisi Fallah

Duhai penjaga rumah takwaku

(teruntuk: istriku tercinta Ike Pratiwi Fitriani)
Duhai penjaga rumah takwaku
Jadikan aku pendamping hidup hebatmu
Jika ada kekurangan dalam membimbingmu
Dan pasti ada kekurangan dalam diri ini
Maafkan…
Diri ini yang tak sempurnaSungguh kelak nanti
Dihadapan Sang Maha Perkasa
Aku dan engkau akan dimintai pertanggungjawaban
Atas kepemimpinan kitaHanya yang beriman
Pun mengerjakan kebajikan
Serta yang saling menasihati
Dalam kebenaran dan kesabaran
Yang tidak merugi
Pesanku, jadikan diri kita sebagai penasihat
Tentang kebenaran dan kesabaran

Yang Kucinta

(teruntuk istriku)
Dalam doaku, ada jawab-Nya
Yang menghadirkan engkau sebagai istriku
Yang memudahkan jalan tuk bersatu
Jalan mengantar kita merayakan cinta
Jalan tuk meraih rahmat dan ridho-Nya

Saat ku genggam erat tangan ayahmu
Saat ku ucap qabul itu

Saat itulah kepemilikan dirimu berpindah padaku
Duhai istriku, yang kucinta
Kini kita telah jd satu
Dalam ikatan miitsaaqan ghaliizhaa
Perjanjian yang agung
Perjanjian yang berat
Sungguh pundakku tak mampu
Tuk memikul perjanjian yg kuat itu
Bila tak di landasi keimanan pada-Nya
Istriku, mari kita saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
(dari suamimu)

Bersamanya

(Teruntuk Ike Pratiwi Fitriani)

Telah lama ku menanti
Hadirnya seorang bidadari
Yang selalu hadir dihati
Dan menemaniku sehari-hari
Dalam do’a ku meminta
Tuk hadirkan “ia” segera
Dan kini Allah telah menjawabnya

Semoga “ia” jodohku selamanya
Bersamanya kuberjuang dalam bahtera syahdu
Bersamanya kusempurnakan separuh Dien-ku
Bersamanya menuju Rahmat dan Ridho-Mu
Dan bersamanya ku memohon ampunan-Mu

Yaa Bunayya

Yaa Bunayya…
(teruntuk buah hatiku nanti)

Nak, kehadiranmu adalah anugerah kami
Tangismu, tutur kata indahmu
Tatap wajah ummimu dan abimu ini
Kami sangat merindukan kehadiranmu

Nak, jika engkau laki-laki
Kami berikan nama Mush’ab Abdullah untukmu

Dan jika engkau perempuan
Gumaisha Raihana lah pilihan untuk namamuYaa Bunayya….
Kami akan sabar menantimu
Menanti kehadiranmu
Kapanpun sampai sekehendak-Nya

Penyanyi Jalanan

Gitar akustik telah lama menemani

Di setiap lampu stopan yang ada

Sebagai sahabat setia untuk mencari nafkah

Engkaulah penyanyi jalanan

Dalam kemacetan kota

Matamu sibuk mencari pendengar

Lalu kau nyanyikan sebuah lagu

Bagimu recehan sangat berati

Aku dan Kampung Embun

Kampung embun itu

Kampung dunia dan kampung akhirat

Kampung dunia…

Kaulah tempatnya perhiasan

Harta, tahta dan wanita ada didalamnya

Kampung dunia bagaikan kampung embun

Yang mendamaikan

Menyejukkan laksana embun pagi

Memberi kesegaran dan kesejukkan seisi bumi

Bila kita hidup dengan mulia

Kampung akhirat…

Kaulah tempatnya pembalasan

Tangan, kaki dan mulut jadi saksinya

Kampung akhirat bagaikan kampung embun

Yang mendamaikan

Menyejukkan laksana embun pagi

Memberi kesegaran dan kesejukkan seisi bumi

Bila kita mati dengan syahid

Yaa Haadii…

Yang Maha Pemberi Petunjuk

Tunjukkan aku ke jalan kampung embunku

Kampung yang penuh nikmat dan syukur

Bukan kampung yang penuh kufur

Bukan juga kampung yang  jarang bersungkur

Isy kariman au mut syahidan

Hiduplah mulia atau mati syahid…!

Itulah motto hidup yang sering mereka pekikkan

Mereka tentaranya Allah di bumi

Yang membela agama Allah

Yang berjuang menegakkan Islam

Merekalah kekasih-Nya Allah

Hidup mulia…

Itulah kampung embun sebenarnya

Mati syahid…

Itulah kampung embun setelahnya

MENANTI JAWABMU

Pada jarakku, terpandang gadis
Debar-mendebar suasana hati
Selintas menghilang lepas
Terbawa rangkaian rindu memuji

Ingin rasanya ku ungkapkan
Semua rasa yang menjadi beban
Yang menahanku tuk berkata
Jujur yang terasa

Bila cintamu memanggilku
Aku akan menunggu
Menanti jawabmu…?
Yang terucap dalam kalbu