Yaa Bunayya

Yaa Bunayya…
(teruntuk buah hatiku nanti)

Nak, kehadiranmu adalah anugerah kami
Tangismu, tutur kata indahmu
Tatap wajah ummimu dan abimu ini
Kami sangat merindukan kehadiranmu

Nak, jika engkau laki-laki
Kami berikan nama Mush’ab Abdullah untukmu

Dan jika engkau perempuan
Gumaisha Raihana lah pilihan untuk namamuYaa Bunayya….
Kami akan sabar menantimu
Menanti kehadiranmu
Kapanpun sampai sekehendak-Nya

Perjalanan Tugas Akhirku

Berawal dari jemariku berselancaran di situs google.com. Akhirnya aku menemukan 1 judul TA yang membuatku tertarik untuk mencobanya. “Pembuatan termometer digital berbasis mikrokontroler AT89C51” itu judulnya. Namun setelah ditelusuri ternyata beberapa TA disalah satu Universitas di Bandung kebanyakan menggunakan bahasa assembler. Waktu itu aku sama sekali tidak mengerti dengan bahasa pemograman terutama bahasa assembler. Waktupun terus bergulir. Sementara TA-ku belum rampung juga. Karena terhambat dipemograman dan alat perekam. Setelah beberapa bulan kemudian, Allah memberi pertolongan kepadaku berupa informasi bahwa si Anu tugas akhirnya ini. Dan TA dia pada prinsipnya sama-sama menggunakan IC voice yaitu IC ISD. Setelah aku menghubunginya aku mendapatkan informasi bahwa alat perekam yang aku inginkan selama ini itu ada di toko 15 di kota Jogja. Pesanlah aku kepada salah satu temanku yang kuliah di UNY untuk mencarikan trainer untuk merekam suara itu. Alhamdulillah, setelah beberapa hari aku mendapat kabar bahwa alatnya tinggal satu2nya, dan sudah dipesankan oleh temanku yang ada di Jogja. Hingga akhirnya aku mengambil keputusan untuk segera pergi ke kota Jogja. Tujuannya untuk meyakinkan bahwa alat itu benar-benar yang aku cari. Dan Alhamdulillah ternyata benar, itu alat yang aku cari.

Untuk masalah pemograman, akhirnya aku dipertemukan dengan beberapa  buku referensi yakni “PEMROGRAMAN MIKROKONTROLER AVR ATMEGA16 MENGGUNAKAN BAHASA C (CODEVISION AVR)”, “MIKROKONTROLER ATMEL AVR” dan “C dan AVR Rahasia kemudahan bahasa C dalam Mikrokontroler ATmega8535”.

Allah-lah yang menolongku selama perjalanan tugas akhirku lewat perantara orang lain.

BELAJAR BAHASA PEMOGRAMAN

BELAJAR BAHASA PEMOGRAMAN  MINIMAL YANG PERLU DIKETAHUI ADALAH :

1.      TYPE DATA SEPERTI CHAR , UNSIGNED CHAR DLL
2.      VARIABEL /KONSTANTA 
3.      SINTAKS / CARA PENULISAN SEPERTI contoh di bawah
4.      Operator ( =,> ,<,!,==,&,&&,|,||,>=,<=,!= dll )

Contoh sintaks penulisan statement if dan switch

If ( sebab ) {   // di dalam sebab operator yang digunakan harus pembanding sprit >=, <=, !=,==, !, dll

Akibat ; //harus diakhiri titik koma

} // diawali dan diakhiri kurung kurawal

Switch ( Hewan) {                                                                                      // Nama hewan

Case panjang :misalkanular;break;                                                       // jika cirinya panjang missal ular

Case menggonggong :misalkan anjing;break;                              // jika cirinya menggonggong missal anjing

Default :kucing ;break;                             // default menunjukkan hewan yang pertama kali di kenal

}

Di atas adalah contoh penggunaan statemen if dan switch perhatikan huruf bentuk dan tanda tidak boleh salah kurang titik koma saja bisa error

 5.  Anggota /koleksidari fungsi pustaka dan cara penggunaannya harus dihafalkan contohnya pustaka fungsi<alcd.h>memiliki koleksi fungsi :

-lcd_gotoxy(kolom,baris); // menentukan tempat peletakan awal karakter

-lcd_putsf(“kalimatlangsung”);

-lcd_putchar(char LCD yg tersimpan di RAM lihat table karakter lcd);

-lcd_puts(menampilkan kalimat/karakter pada memori lain );

Dll masih banyak lagi silahkan lihat di help CVAVRadastdio.h,string.h,stdlib.h,math.h

6.      Bagaimana cara penulisan komentar 1 baris atau lebih contoh

// ini adalah komentar 1 baris diawali dengan garis miring dua kali

/* ini adalah komentar lebih dari satu baris ditandai dan diakhiri dengan */ ( /*komentar*/ ) 

 

Khusus untuk bahasa pemrograman mikrokontroller harus mengerti juga tentang mikrokontroller minimal dasar-dasar bagaimana cara mengakses I/O , ADC , LCD

 

Cara akses I/0

DDRx = register pemilihan input /output jika nilainya low berarti input jika high berarti output

Contoh saya ingin membuat PORTA 0 dan 1 sebagai input dan lainnya sebagai output maka

DDRA=0b11111100; // setelah 0b ada 8 angka / 8 bit mulai dari PORTA.0-7 yang paling kanan            //adalah bit paling rendah yaitu bit 0/PORTA.0 jika menggunakan mode biner;

// jika menggunakan mode hexa maka DDRA=0xfC;

 

PORTX = berfungsi jikaDDRx diset sebagai input maka jika PORTx diset 1 akan mengaktifkan pull up resistor ( mengecek nilai inputan apakah low?  ) , dan jika 0 maka input mengikuti masukan dari luar apakah low ato high 

Tapi jika DDRx diset sebagai output maka PORTx akan menentukan nilai keluaran , jika 0 maka keluaran low jika 1 maka keluaran high;

 

Missal PORTA.0 saya set ke input dan saya pasangkan dengan push button yg di groundkan

Maka saya harus set DDRA=0xFE; ( PORTA.0sbg input ) dan PORTA=0x01; (diset ke mode pullup karena akan mengecek inputan dari tombol yang bernilai 0 jika ditekan karena terhubung ke ground )  

 

Contoh output jika saya menghubungkan led ke PORTA.0 maka DDRA=0x01; (PORTA.0 yang output ) dan PORTA=0x00;( nilai awal PORTA ketika mikro baru dinyalakan adalah nol/ low )

Maka saat awal led mati dan saat mikro beroperasi ada ditemukan perintah

PORTA.0=1; // iniartinya LED yg terhubung ke porta.0 diperintahkan untuk nyala

PORTA.0=0; //iniartinya LED yg terhubungke porta.0 diperintahka nuntuk mati


Cara akses ADC sebenarnya sudah sangat dipermudah dengan menggunakan CV AVR m kita bisa langsung menggunakan fungsi read_adc() yang sudah disediakan

 

Missal

data=read_adc(0) // mengkonversi sinyal analog ke digital yang tersambung ke channel  ADC0 laludisimpan di variable data

 

Cara akses LCD ;

Sebagai dasar fungsi yang sering digunakan adalah

Lcd_gotoxy ();  // fungsi untuk meletakkan karakter

Lcd_putsf(“string langsung ditulis dsini”); // fungsi untuk menampilkan string/kata/kalimat secara langsung

 

Lcd_puts(); // menampilkan string secara tidak langsung missal

 

Variable array kata dg tipe data char

Char kata[7]=”farizal” // ini contoh variable array contoh lengkap dibuku biru yang saya punyai char=tipedata, kata=nama variable , 7 =jumlah data , farizal=data yg terdiri dari 7 karakter

Saya ingin menampilkan data di variable array kata pada lcd kolom ke 0 baris ke 1

Maka:

lcd_gotoxy(0,1); // karakter pd kolom 0 baris 1

lcd_puts(kata); // menampilkan data yg ada pada variable kata

 7.      Fungsi

Sebenarnya fungsi lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah – professional karena harus benar2 menguasai logika dan dasar2 pmrograman di bawah adalah contoh fungsi sederhana

#define biasa digunakan untuk mengganti nama dengan tujuan mempermudah

Missal

#define play PORTC.7 // artinya PORTC.7 diberi nama play supaya gampang di ingat  play=PORTC.7

voidsuhu_tiga_puluh(){ // fungsi di awali dg void

if(data==30){ // if  data sama dengan 30 ( tanda ‘== ‘adalah operator pembanding beda dg ‘=’ )

      PORTD=suhu; // maka PORTD mengeluarkan data suhu/ tempat menyimpan alamat suhu di ISD

play=0;  // mengeluarkan data 0 untuk menghentikan play

delay_ms(1500); // memberikan jeda 1500ms sebelum memutar kata berikutnya

play=1; // play /memutar kata suhu pd alamat suhu di atas

delay_ms(200);

      PORTD=tiga; //set alamt simpan suara/sama dg yg di atas

play=0; // play aktive  low

delay_ms(800);

play=1; // play nonaktive high

delay_ms(150);

      PORTD=puluh;

play=0;

delay_ms(1500);

play=1;

delay_ms(150);

      PORTD=derajat;

play=0;

delay_ms(1500);

play=1;

delay_ms(150);

      PORTD=celcius;

play=0;

delay_ms(1500);

play=1;

delay_ms(150);

 

}

      } 

Intinya isi fungsi di atas yaitu memilih alamat tempat penyimpanan suara sesuai dengan suhu yg terdeteksi terus memutar suara dan memberikan jeda sebentar sebelum memutar rekamans elanjutnya…begitu seterusnya secara berurutan

 

Sintaksfungsi

 

Fungsitanpanilaibalik

 

Void nama_fungsi()

{

Isi fungsi;

}

 

Fungsi dengan nilai balik

Type data/void nama_fungsi(typedata nama_varibel1,typedata nama_variabel2,…3,…4,.,)

{

Isi fungsi;

Return value;

}

 

 

 

 

 

Penyanyi Jalanan

Gitar akustik telah lama menemani

Di setiap lampu stopan yang ada

Sebagai sahabat setia untuk mencari nafkah

Engkaulah penyanyi jalanan

Dalam kemacetan kota

Matamu sibuk mencari pendengar

Lalu kau nyanyikan sebuah lagu

Bagimu recehan sangat berati

Aku dan Kampung Embun

Kampung embun itu

Kampung dunia dan kampung akhirat

Kampung dunia…

Kaulah tempatnya perhiasan

Harta, tahta dan wanita ada didalamnya

Kampung dunia bagaikan kampung embun

Yang mendamaikan

Menyejukkan laksana embun pagi

Memberi kesegaran dan kesejukkan seisi bumi

Bila kita hidup dengan mulia

Kampung akhirat…

Kaulah tempatnya pembalasan

Tangan, kaki dan mulut jadi saksinya

Kampung akhirat bagaikan kampung embun

Yang mendamaikan

Menyejukkan laksana embun pagi

Memberi kesegaran dan kesejukkan seisi bumi

Bila kita mati dengan syahid

Yaa Haadii…

Yang Maha Pemberi Petunjuk

Tunjukkan aku ke jalan kampung embunku

Kampung yang penuh nikmat dan syukur

Bukan kampung yang penuh kufur

Bukan juga kampung yang  jarang bersungkur

Isy kariman au mut syahidan

Hiduplah mulia atau mati syahid…!

Itulah motto hidup yang sering mereka pekikkan

Mereka tentaranya Allah di bumi

Yang membela agama Allah

Yang berjuang menegakkan Islam

Merekalah kekasih-Nya Allah

Hidup mulia…

Itulah kampung embun sebenarnya

Mati syahid…

Itulah kampung embun setelahnya

Novel Pesan untuk Nai (part8)

8

Ketika Hidayah Menyapa

April 2009

Babak demi babak yang aku alami selama di bangku perkuliahan, di situ ada hidayah yang menyapaku dan mengajakku ke jalan yang di ridhoi oleh Allah. Hidayah saat aku bisa mengaji, shalat, dan sedikit demi sedikit memahami apa itu Islam walaupun dari lahir aku terlahir sebagai muslim. Aku yakin babak demi babak dalam setiap episode kehidupanku ini tidak pernah terlepas dari skenarionya Sang Khalik, Allah SWT. Begitu juga ketika aku memutuskan untuk masuk ke UKM keIslaman LDK ORDA’I UPG Bandung, menjadi seorang aktivis dakwah di kampus. Sebutan yang begitu berat aku rasakan.

Ketika hidayah menyapaku dan mengajakku untuk berIslam secara kaffah, aku pun dituntut untuk selalu memperbaiki diri. Tetapi semua itu belum cukup karena Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Alangkah egoisnya kita ketika kita tak mau berbagi dengan saudara-saudara kita. Kemauan untuk mengajak orang merasakan indahnya hidup dengan iman dan Islam pun tertanam kuat di dada.

Menjadi baik itu perlu proses. Dan kita tidak bisa menunggu sampai menjadi benar-benar baik, baru kemudian mengajak orang menuju kebaikan. Learning by doing pun menjadi pilihan. Kita tak pernah tahu berapa lagi jatah usia yang diberikan-Nya kepada kita. Mau tak mau proses perbaikan diri kita pun harus bersinergi dengan perbaikan ummat secara universal. Dan semua itu berawal dari hidayah. Hidayah datang atas kehendak-Nya.

Hidayah itu sungguh teramat mahal dan menuju keistiqomahan itu tidaklah mudah. Beruntunglah mereka, orang-orang yang sudah lama memutuskan untuk memilih jalan dakwah. Sebab ia tidak sendirian memikul berat bebannya. Ia punya banyak saudara perjuangan yang akan menjaganya. Bukankah Allah pun menyukai kita berjuang dalam barisan yang teratur? Dan aktivis dakwah bukanlah status sementara ketika kita di kampus. Di mana pun kita, kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya. Semoga jalan dakwah ini mampu menyelamatkan kita dari adzab pedih-Nya.

Aku begitu terkesan dengan taushiyah yang disampaikan oleh murabbi-ku dalam memaknai babak demi babak dalam setiap episode kehidupan, ”Tak ada yang sia-sia. Apa yang sudah kita lewati semuanya indah. Ya! Semua itu akan terasa indah bila dibingkai dengan bingkai dakwah.”

Kita harus membingkai tiap kejadian dengan bingkai dakwah. Berharap setiap permasalahan yang dihadiahkan untuk kita menjadikan kita lebih dewasa dan bijak. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Maka ketika kita memutuskan untuk berjalan di atas jalan dakwah, bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia.

Kesan pertama di kampus bumi siliwangi tercinta –UPG (Universitas Pendidikan Guru)– memang benar-benar kesan yang tidak bisa dilupakan. Gedung fakultas menjulang tinggi di mana-mana. Pepohonan yang cukup rindang di berbagai penjuru kampus menjadi penarik perhatian. Tak jarang ikhwan atau pun akhwat yang berlalu lalang sepanjang hari di ruas-ruas jalannya. Aku pun segera beradaptasi dan mencari tempat untuk beraktualisasi. Meskipun aku baru bisa ngaji di umur  berkepala dua, entah kenapa motivasi untuk bergabung dengan LDK –ORDA’I (Organisasi Dakwah Islam) UPG– itu datang menghampiri. Apa karena aku merasa iri kepada mereka-mereka yang sudah lama berkomitmen untuk menjalani jalan dakwah ini? Apa pun yang mendorong aku untuk bergabung dengan LDK, itu sesungguhnya atas kehendak Allah SWT.

Bagiku LDK ini adalah wadah ternyaman untuk kita berekspresi. Baru beberapa waktu berjalan, aku tersadar bahwa LDK hanyalah salah satu wadah perjuangan di kampus. Namun aku sudah terlanjur jatuh cinta, aku tak ingin ‘mendua’ meskipun akhirnya ada amanah lain yang juga harus diterima dengan lapang dada, yaitu harus melatih bola voli siswa SMPN 29 Bandung.

Aku bergabung bersama LDK ORDA’I (2009-2010) -pada masa kepemimpinan Akhi Asep- dan di sini aku berjumpa dengan orang-orang hebat. Karena ajakan Akhi Akmal akhirnya aku masuk ke Departemen Syiar dengan teman-teman yang lainnya, yang personilnya enam ikhwan dan sepuluh akhwat.

Di sini aku menjumpai sosok ikhwah yang pantas dijadikan teladan. Setidaknya keteladan itu jelas terlihat di tataran ketua umum, sekretaris, dan ketua departemen. Dari mereka aku bisa belajar pentingnya perjuangan, perhatian, dan keikhlasan. Aku mencoba memahami bahwa kinerja bidang pun bukan sekedar merealisasikan program kerja yang telah dibuat. Aku menyaksikan sosok senior yang tenang dan selalu terkendali menghadapi setiap kondisi. Secara tidak langsung aku juga diajarkan untuk segera menetralisir rasa kecewa terhadap kenyataan yang seringkali berbeda dengan harapan.

Salah satunya adalah keadaan di mana saya mendapati tidak semua pengurus aktif. Di tahun ini program kerja bidang Kajian Islam dan Propaganda Islam dari Departemen Syiar LDK ORDA’I UPG lumayan banyak. Di Departemen Internal ada program kerja yang bernama: (1) BOOK (Bina Ukhuwah Kader); acara yang dikemas untuk mempererat ukhuwah antar kader dakwah, menyikapi isu-isu keislaman dan mengkomunikasikan permasalahan yang dialami para kader; (2) LATANSA (Silahturahmi Antar Sahabat); bertujuan mempererat ukhuwah antar rohis se-UPG, mensinergiskan progam kerja antar rohis fakultas dan meningkatkan eksistensi sahabat UKM keislaman; (3) KISS dan KISS (Kajian Islam Senin Sore dan Kajian Islam Selasa Sore); sebuah kajian rutin untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang fiqh islam; (5) IM2 (Ini lho.. Mading Masa kini); mading yang memuat isu islam kontemporer. (6) TRA (Taklim Rutin Anggota); sebuah kajian yang diikuti oleh anggota LDK ORDA’I UPG.

Khalil Zayan, teman sekamarku adalah Ketua Departemen Syi’ar di LDK ORDA’I UPG, dan beliau juga menjadi ketua pula dalam acara seminar yang akan digelar bulan Juni mendatang. Andre membentuk struktur panitia. Acara ini tergolong cukup besar di bidang Kajian Islam, karena akan melibatkan dosen dan mahasiswa. Target pencapaian adalah seratus peserta. Itu berarti peserta akan memenuhi ruang auditorium PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) kampus UPG tersebut.

Khaliq Junaidi Akmal, teman halaqoh-ku yang ahli dalam membuat tulisan, membuat sebuah artikel yang sangat bagus akan pentingnya seminar ini. Akhi Akmal memasukkannya dalam koran kampus yang memang independen, sehingga ia tak mendapatkan halangan yang berarti.

Andri, teman baruku di LDK pun memanfaatkan keahliannya dalam dunia maya dengan menjaring massa melalui dunia cyber. Andri menggunakan email, blog dan facebook untuk menyebarkan berita ini. Dan tulisan-tulisan Akmal, Andri muat dalam setiap pesannya dalam internet.

Selanjutnya Asep, yang notabenenya Ketua Umum LDK ORDA’I UPG yang memiliki karisma dalam dirinya, mengajak para dosen untuk berpartisipasi dalam acara seminar ini. Akhi Asep menggunakan cara-cara yang baik dan menawan hati dalam menarik hati dosen.

Sementara untuk pasukan akhwat sendiri ada Azizah, Rina, Entin dan Riska yang menjalankan amanahnya guna mengajak para muslimah untuk hadir dalam seminar. Mereka kerap mempublikasikannya dalam kajian keputrian yang setiap minggunya dihadiri oleh tak kurang dari empat puluh dalam KAMUS (Kajian Muslimah), di setiap Jum’at sore.

Dalam mempersiapkan kegiatan ini, tak jarang Akh Zayan dan teman-temannya harus pulang malam untuk mengadakan rapat-rapat. Di siang hari, mereka aktif mencari sponsor demi terselenggaranya kegiatan. Lelah, inilah yang dirasakan Akh Zayan dan jajaran kepanitiaanya.

Saat aku dan Akh Asep mendapati teman kita yang tengah termenung di sekret ORDA’I, Akhi Asep seakan menangkap kegalauan hati saudaranya, Zayan. Ia memperhatikan bahwa Zayan sedikit melemah semangat dakwahnya. Zayan hanya bisa terdiam.

Antum kenapa?” ucap Akhi Asep.

“Ingat, di sana di Pelestina, saudara-saudara kita tengah berjuang. Apa yang kita lakukan di sini, belumlah seberapa dibandingkan mereka,” ujar Asep sambil menatap ke arah Zayan.

Akh Zayan tertunduk malu, karena Akhi Asep mengetahui kegalauan hatinya. Ucapan Akhi Asep itu seakan menjadi air sejuk di tengah kegersangan hatinya dan menjadi penyemangat bagi kegalauan hatinya.

=BERSAMBUNG=

Novel Pesan untuk Nai (part7)

7

Walimahan Murabbi

Lima bulan kemudian.

Selama lima bulan terAkhir, sungguh aku mendapatkan kehidupan yang baru. Kehidupan yang penuh berkah, kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Mulai dari aku ikut halaqah bersama Akh Zayan, lalu belajar membaca Al-Qur’an bersama Akh Zayan, hingga aku memutuskan untuk berpisah selama-lamanya dengan Luqyana Farha, pacar pertamaku. Yang membuatku bahagia waktu itu adalah Farha-lah yang pertama kali mengajak untuk memutuskan jalinan antaraku dengan dia,. Alasannya karena Allah SWT.

Sampai sekarang masih teringat dalam memoriku. Saat Farha memutuskanku. Farha melontarkan pertanyaan kepadaku: “Adakah aktivitas di dalam pacaran yang tidak menjerumuskan ke dalam maksiat menurut Allah SWT bukan menurut kita?” Kemudian Farha menerangkan maksud pertanyaan itu kepadaku. “Pertanyaan di atas sungguh sangat berhubungan sekali dengan Firman Allah Swt yang berbunyi: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (Q.S Al-Baqarah: 216).

Pertanyaan ini juga yang menjadikan aku berpikir semasa itu. Adakah? Aktivitas seperti apakah yang tidak menjerumuskan ke dalam dosa saat kita berpacaran?

Duh Illahi, aku mohon ampunilah dosa-dosaku sewaktu aku dan Farha masih berpacaran.

==**==

Seminggu setelah Farha memutuskanku, aku baru tahu kalau Farha sedang menuntut ilmu di pesantren Daarut Tauhiid. Pantas saja Farha bisa berbicara seperti itu kepadaku. Ilmu agamanya telah menuntun dia. Saat itu aku hanya bisa diam dan mengiyakan keputusan dari Farha itu. Penampilan Farha pun berubah 180 derajat. Farha yang dulu aku kenal bukan seperti Farha yang sekarang. Farha yang sekarang jauh lebih anggun dan cantik karena polesan wajahnya yang berbalutkan jilbab panjang dan gamisnya. Ia bak bidadari bumi. Auranya pun terpancar di balik kerudungnya itu. Sungguh cantik sekali.

==**==

Pukul 09:00 WIB.

Kini, aku bersama sahabat-sahabatku, Khalil Zayan, Khaliq Junaidi Akmal, dan Khasyi’ Salahuddin sedang menghadiri walimahannya kang Luthfy yang bertempatkan di pesantren An-Nahl. Pesantren kecil yang ada di Geger Arum.

Janur melengkung pun ikut menghiasi gapura Geger Arum. Di sepanjang jalan dari gapura Geger Arum sampai masuk ke jalan sempit menuju pesantren An-Nahl dipasang umbul-umbul yang berwarna-warni.

Panggung pengantin yang ada di halaman pesantren yang menghadap ke masjid itu terlihat begitu sederhana. Begitu juga dengan tempat untuk tamu undangan. Tampak sederhana sekali. Namun mahligainya yang bernuansakan Islam membuat walimah ini begitu indah. Mewah di hadapan Allah.

Setiba di gerbang pesantren, aku bersama tiga sahabatku berhenti sejenak. Kemudian kami mengisi buku tamu yang telah disodorkan kepada kami. Setelah mengisi buku tamu, kami langsung menuju ke panggung pengantin untuk memberi selamat kepada kang Luthfy dan Teh Hasna, Laimuna Haura Hasna nama lengkapnya.

Semakin lama, semakin banyak para tamu yang berdatangan ke acara walimahnya Kang Luthfy. Usai mengucapkan selamat kepada Kang Luthfy kemudian kami pun menikmati hidangan prasmanan.

Aku mengajukan diri untuk menjadi panitia walimahan kepada Kang Luthfy. Begitu juga dengan Akhi Zayan, Akhi Akmal, dan Akhi Udin. Beliau pun mengizinkan. Kami pun langsung bagi-bagi tugas. Dan aku mendapatkan tugas untuk menerima tamu.

Kali ini tidak ada yang namanya “Pagar Ayu”. Karena si penerima tamu semuanya laki-laki. Aku bersama ketiga teman baru laki-lakiku Ilham, Budi dan Surya sudah siap-siap standby di meja tamu. Di atas meja tamu sudah tersedia buku tamu lengkap dengan ballpoint-nya beserta souvenir yang menurutku luar biasa. Souvenir pernikahan Kang Luthfy ini unik, karena ada pesan dakwahnya. Souvenir-nya itu buku saku yang di dalamnya terdapat bacaan doa. Seperti Al-ma’tsurat, Asmaul Husna, Doa Pelembut Hati, Doa Keberkahan Rezeki, dan Doa Keluarga Sakinah. Di belakang buku saku tersebut ada kata ucapan terima kasih dari kedua mempelai dan juga kutipan ayat-ayat al-Qur’an.

Menit demi menit pun terus berjalan. Dan para tamu terus berdatangan. Kebanyakan para tamu dari kalangan aktivis kampus, sekolah, maupun ormas Islam. Seolah-olah aku merasakan seperti berada di tengah-tengah acara pengajian saja.

Hari ini adalah pengalamanku yang pertama dalam hidupku. Menjadi panitia di pernikahan guruku memang pengalaman yang luar biasa. Walau pesta pernikahannya itu biasa-biasa saja, tidak semewah penikahannya para artis. Tempatnya pun tidak di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya wah. Namun sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di pondok kecil, pondok An-Nahl.

Dengan memasang tenda di halaman serta jalan buntu di depannya. Tendanya pun tenda biasa, bukan tenda yang paling megah. Makanan prasmanan ditempatkan di meja sederhana yang bertaplak putih di samping masjid pondok.

Untuk pembawa acara serta pembaca do’a pun dari penghuni pondok sendiri. Pernikahan yang biasa ini menyuguhkan hiburan berupa nasyid, di mana personilnya adalah para santri yang sedang mondok di An-Nahl.

Sekali lagi, walaupun pernikahan ini tak tampak kemegahannya, tetapi aku merasa sangat nyaman berada di sini. Ada suasana yang jarang kuperoleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara pernikahannya Kang Luthfy ini. Para tamu saling sapa, hingga berbincang akrab. Dan juga antara tamu undangan akhwat dan ikhwan dipisahkan tempatnya.

Sesekali aku menoleh ke arah wajah Kang Luthfy. Dari wajah beliau terpancar kebahagiaan yang tiada tara. Begitu juga dengan istri beliau, Teh Hasna.

Para tamu yang akan memberi selamat kepada kedua mempelai terpaksa harus mengantri karena terlalu banyaknya tamu yang datang. Para panitia pun mulai kerepotan. Walau pun agak kerepotan, tapi para panitia begitu cekatan dalam bekerja. Sehingga para panitia bisa melayani para tamu undangan dengan baik.

Suasana pernikahan ini memberiku suatu pelajaran tentang apa makna pesta pernikahan. Akan kesederhanaan dalam merayakan pesta pernikahan. Sehingga ada pertanyaan dalam bathinku. Apa sulitnya kita berpikir dan bersikap sederhana seperti ini?

Tak terasa waktu pun terus berjalan dan saat mendekati waktu Dzuhur, para tamu undangan yang datang pun mulai berkurang. Karena acaranya sendiri hanya sampai pukul 11.30 WIB.

Hari pernikahan Kang Luthfy ini bisa dibilang pernikahan yang acaranya benar-benar ringkas dan cepat. Sehingga pukul 12.00 WIB semua tenda dan perlengkapannya dirapikan. Setelahnya semua beres, kami segera mohon diri untuk pulang.

==***==